NusamandiriNews–Dalam beberapa bulan terakhir, istilah computer vision semakin sering muncul dalam pemberitaan media online dan menjadi topik hangat dalam diskursus teknologi. Kamera pintar yang mampu mengenali wajah, sistem tilang elektronik, kendaraan otonom, hingga kecerdasan buatan yang dapat membaca ekspresi manusia, semuanya berpijak pada satu cabang penting dalam ilmu Informatika: computer vision. Fenomena ini menandai perubahan besar dalam perkembangan teknologi, dari sistem yang sekadar “menghitung” menuju sistem yang mampu “melihat dan memahami” lingkungan sekitarnya.
Bagi mahasiswa Program Studi Informatika, khususnya di Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis, perkembangan ini menjadi sinyal kuat bahwa kompetensi masa depan akan sangat ditentukan oleh penguasaan teknologi visual. Computer vision tidak lagi berada di ruang laboratorium atau jurnal ilmiah semata, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan kebijakan publik.
Baca juga:Image Processing sebagai Kompetensi Kunci Informatika
Computer Vision
Melalui Fakultas Teknologi Informasi, Universitas Nusa Mandiri mendorong mahasiswa untuk memahami computer vision tidak hanya sebagai teori algoritma, tetapi sebagai solusi konkret atas berbagai persoalan masyarakat. Media online kerap mengulas pemanfaatan teknologi ini dalam keamanan publik, analisis perilaku, layanan transportasi cerdas, hingga deteksi dini penyakit. Hal tersebut menunjukkan bahwa computer vision telah bergeser dari wacana akademik menjadi kebutuhan industri dan sektor publik.
Secara konseptual, computer vision mengajarkan bagaimana komputer menginterpretasikan dunia visual melalui data gambar dan video. Dengan dukungan machine learning, artificial intelligence, dan pengolahan citra digital, sistem mampu mengenali objek, pola, dan peristiwa secara otomatis. Bagi mahasiswa Informatika Universitas Nusa Mandiri, penguasaan teknologi ini membuka peluang luas dalam pengembangan aplikasi berbasis AI, mulai dari sistem pengawasan cerdas, analisis lalu lintas, teknologi kesehatan digital, hingga inovasi di industri kreatif dan media.
Namun, meningkatnya popularitas computer vision di ruang publik juga membawa tantangan etis dan sosial yang tidak dapat diabaikan. Isu privasi, keamanan data visual, serta potensi penyalahgunaan teknologi menjadi perdebatan yang semakin relevan. Teknologi pengenalan wajah, misalnya, dapat meningkatkan efisiensi dan keamanan, tetapi juga berpotensi mengancam hak privasi jika tidak diatur dengan baik. Di sinilah peran perguruan tinggi menjadi krusial dalam membentuk generasi Informatika yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki kesadaran etis dan tanggung jawab sosial.
Sebagai Kampus Digital Bisnis, Universitas Nusa Mandiri memandang pendidikan Informatika sebagai proses holistik yang menggabungkan kompetensi teknologi, pemahaman konteks industri, serta orientasi pada kebermanfaatan sosial. Mahasiswa tidak hanya dituntut mampu mengembangkan sistem cerdas, tetapi juga memahami implikasi teknologi yang mereka ciptakan terhadap masyarakat luas.
Baca juga: Melek Digital Itu Wajib! Literasi Digital Jadi Bekal Penting Generasi Masa Kini
Ke depan, computer vision diproyeksikan menjadi salah satu kompetensi utama yang dibutuhkan industri digital, baik di tingkat nasional maupun global. Mahasiswa yang memiliki pemahaman mendalam dan kemampuan aplikatif di bidang ini akan memiliki daya saing tinggi di pasar kerja. Oleh karena itu, mahasiswa Informatika Universitas Nusa Mandiri perlu memanfaatkan momentum ini untuk memperdalam keilmuan, mengikuti perkembangan teknologi secara aktif, serta berani bereksperimen dan berinovasi.
Di era ketika mesin mulai “melihat”, generasi Informatika tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka harus tampil sebagai arsitek masa depan yang mampu mengarahkan perkembangan computer vision untuk menjawab tantangan nyata dan memberikan manfaat bagi kemanusiaan.
Penulis: Arfhan Prasetyo, Kaprodi Informatika Universitas Nusa Mandiri










