NusamandiriNews, Jakarta — Maraknya konten keagamaan bernuansa provokatif, intoleran, dan manipulatif di media sosial menegaskan pentingnya peran kampus sebagai penjaga literasi digital. Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis menilai literasi digital berbasis etika harus menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem pendidikan tinggi, termasuk dalam praktik dakwah di ruang digital.
Pustakawan Universitas Nusa Mandiri, Ricky Sediawan, menyampaikan bahwa derasnya arus informasi di media sosial tidak selalu sejalan dengan nilai edukatif dan etis. Konten keagamaan yang viral kerap muncul bukan karena kedalaman pesan, melainkan karena kemampuannya memicu emosi audiens.
Baca juga: Ketika Pustakawan Mencetak Gol
Kampus dan Pustakawan Harus Turun Tangan
“Algoritma media sosial bekerja berdasarkan interaksi, bukan kebenaran. Tanpa literasi digital yang kuat, masyarakat mudah terjebak pada konten keagamaan yang provokatif dan memecah,” ujarnya dalam rilis yang diterima, pada Kamis (5/2).
Menurutnya, kondisi tersebut menuntut peran aktif kampus, tidak hanya sebagai pusat transfer ilmu, tetapi juga sebagai penjaga nalar kritis dan etika digital. Di sinilah pustakawan memiliki posisi strategis, bukan sekadar pengelola koleksi, melainkan fasilitator literasi informasi dan penyeimbang banjir konten digital.
Ricky menjelaskan, literasi digital dalam perspektif Islam tidak berhenti pada kemampuan teknis menggunakan teknologi. Literasi digital juga mencakup kemampuan verifikasi informasi (tabayyun), memahami konteks, serta kesadaran bahwa setiap unggahan dan komentar merupakan bentuk tanggung jawab moral.
“Pustakawan berperan membantu sivitas akademika dan masyarakat memahami cara memilah informasi, membedakan antara dakwah yang mencerahkan dan konten yang justru memecah ukhuwah,” katanya.
Universitas Nusa Mandiri, lanjut Ricky, mendorong penguatan literasi digital melalui peran perpustakaan sebagai pusat edukasi etika bermedia. Perpustakaan tidak lagi diposisikan semata sebagai ruang baca, melainkan sebagai ruang pembelajaran literasi digital, literasi informasi, dan literasi etika.
Baca juga: Pustakawan Universitas Nusa Mandiri Soroti Bahaya Konten AI dan Deepfake
Sebagai Kampus Digital Bisnis, UNM melihat tantangan dakwah digital sebagai bagian dari tantangan transformasi digital yang lebih luas. Mahasiswa dan masyarakat perlu dibekali kemampuan berpikir kritis agar tidak menjadi konsumen pasif algoritma, tetapi mampu mengambil peran sebagai pengguna yang cerdas dan bertanggung jawab.
“Ketika dakwah berpindah ke ruang digital, maka tanggung jawab etikanya juga harus ikut berpindah. Kampus dan pustakawan memiliki mandat moral untuk memastikan literasi digital berjalan seiring dengan nilai kemanusiaan dan keagamaan,” tambahnya.
Melalui penguatan peran pustakawan dan perpustakaan, Universitas Nusa Mandiri berharap dapat berkontribusi dalam membangun ekosistem digital yang lebih sehat, inklusif, dan beradab. Upaya ini dinilai penting agar media sosial tidak menjadi ruang polarisasi, melainkan sarana penyebaran pengetahuan dan nilai-nilai kebaikan.










