NusamandiriNews–Di era digital seperti hari ini, gadget telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa. Dari mengerjakan tugas, mengakses jurnal ilmiah, hingga mengikuti perkuliahan daring, semuanya bertumpu pada layar. Teknologi memang mempermudah proses belajar. Namun, tanpa disadari, ia juga perlahan mengambil alih fokus dan kedisiplinan akademik.
Awalnya gadget hadir sebagai alat bantu pembelajaran. Kini, batas antara kebutuhan akademik dan hiburan semakin kabur. Notifikasi media sosial, konten video tanpa henti, hingga gim daring sering kali memotong waktu belajar yang seharusnya produktif. Mahasiswa membuka materi kuliah, tetapi beberapa menit kemudian terdistraksi. Fokus terpecah. Tugas tertunda. Konsentrasi menurun.
Baca juga: Mahasiswa UNM Sudah Tembus Industri, Kamu Masih Nunggu Wisuda?
Mahasiswa Jangan Jadi Budak Gadget
Fenomena ini bukan sekadar persoalan kebiasaan, melainkan tantangan serius dalam dunia pendidikan tinggi. Di ruang kelas, kita kerap melihat mahasiswa hadir secara fisik, tetapi pikirannya terjebak di layar. Diskusi menjadi kurang hidup, interaksi melemah, dan kualitas pemahaman materi menurun.
Sebagai Ketua Lembaga Penjaminan dan Pengembangan Pembelajaran (LPPP), saya melihat persoalan ini bukan semata kesalahan teknologi. Gadget tidak pernah salah. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana kita menggunakannya.
Pandemi tahun 2020 mempercepat adopsi pembelajaran berbasis digital. Kebiasaan menatap layar yang awalnya bersifat darurat kini menjadi permanen. Sayangnya, tidak semua mahasiswa siap mengelola batasan penggunaan gadget. Budaya “selalu online” terbawa hingga ke ruang kelas dan perpustakaan.
Padahal, algoritma media sosial memang dirancang untuk membuat penggunanya bertahan lebih lama. Tanpa kesadaran dan kontrol diri, mahasiswa akan terus terdorong untuk scrolling tanpa tujuan. Dampaknya bukan hanya pada nilai akademik, tetapi juga pada pola pikir. Kemampuan berpikir mendalam melemah, konsentrasi mudah terganggu, dan kebiasaan belajar mandiri perlahan terkikis.
Sebagai Kampus Digital Bisnis, Universitas Nusa Mandiri (UNM) tentu tidak mungkin menjauh dari teknologi. Justru sebaliknya, kami mendorong pemanfaatan teknologi secara produktif dan strategis. Namun, literasi digital tidak cukup hanya soal kemampuan menggunakan perangkat. Ia juga tentang etika, disiplin, dan pengendalian diri dalam mengakses informasi.
Baca juga:Belum Wisuda Sudah Kerja Mahasiswa UNM Kampus Margonda Tembus Industri Asuransi
Solusinya bukan menjauhi gadget, melainkan membangun disiplin digital. Mahasiswa perlu memisahkan waktu belajar dan hiburan, mematikan notifikasi saat kuliah, serta menggunakan gadget sesuai kebutuhan akademik. Kampus pun harus menghadirkan sistem pembelajaran yang mendorong interaksi aktif, kolaboratif, dan tidak sepenuhnya bergantung pada layar.
Tantangan terbesar di era ini bukan kurangnya akses teknologi, melainkan kemampuan mengendalikan diri. Gadget seharusnya menjadi jembatan menuju prestasi, bukan jebakan yang menjauhkan dari tujuan akademik.
Karena itu, saya mengajak mahasiswa untuk merefleksikan kembali cara menggunakan teknologi. Jangan sampai kecanggihan digital justru melemahkan kualitas belajar kita.
Kendalikan gadget kalian hari ini. Gunakan secara sadar. Fokus pada tujuan. Karena masa depan akademik tidak ditentukan oleh seberapa lama kita online, tetapi seberapa bijak kita memanfaatkan teknologi.
Penulis: Nurmalasari, Ketua Lembaga Penjaminan dan Pengembangan Pembelajaran (LPPP), Universitas Nusa Mandiri










