Menu

Mode Gelap
Universitas Nusa Mandiri Raih Klasterisasi Utama: Pengakuan atas Kinerja Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UNM Beri Penghargaan Inovasi Pada Mahasiswa dan Alumni Berprestasi UNM Terima Penghargaan Apresiasi Penggabungan Perguruan Tinggi Tahun 2021 Manfaat Teknologi Untuk Ketahui Kepribadian dan Kecerdasan Pada Anak Sarah, Mahasiswa UNM yang Aktif Kuliah Sambil Berbisnis UNM Gelar Pembekalan Internal Program Kampus Mengajar Angkatan 3 Tahun 2022

Opini

Perpustakaan di Era AI Jangan Ditinggalkan

badge-check


					Perpustakaan di Era AI Jangan Ditinggalkan Perbesar

NusamandiriNews–Di tengah percepatan revolusi digital, muncul satu pertanyaan yang kerap terdengar sederhana namun sesungguhnya mendasar: masihkah perpustakaan relevan ketika kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mampu menghadirkan jawaban dalam hitungan detik? Pertanyaan ini wajar, tetapi sekaligus berisiko menyesatkan jika tidak dipahami secara utuh.

Anggapan bahwa perpustakaan hanyalah ruang fisik berisi buku-buku yang kian usang tidak lagi relevan dengan realitas hari ini. Justru di era AI, ketika informasi tersedia melimpah dan tanpa batas, peran perpustakaan mengalami pergeseran yang semakin strategis. Tantangan utama mahasiswa saat ini bukan lagi kekurangan informasi, melainkan kelebihan informasi yang sering kali tidak terverifikasi, bias, bahkan keliru.

Baca juga: Dari Problem Solving hingga Literasi Digital, Ini Skill yang Dicari HRD di Dunia Kerja Era Digital

Perpustakaan di Era AI

Di sinilah perpustakaan mengambil posisi baru sebagai “penjaga kualitas pengetahuan”. Perpustakaan tidak sekadar menyediakan akses, tetapi juga membimbing pengguna dalam menilai validitas informasi, memahami konteks, serta menggunakan teknologi secara bertanggung jawab. Dalam konteks ini, perpustakaan berfungsi sebagai filter intelektual di tengah derasnya arus data digital.

Literasi AI menjadi kunci dalam menghadapi perubahan ini. Namun, literasi AI tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan menggunakan perangkat atau aplikasi berbasis kecerdasan buatan. Lebih dari itu, literasi AI adalah kemampuan berpikir kritis, memahami batasan teknologi, serta menjaga integritas akademik dalam setiap proses pembelajaran dan penelitian.

Ketergantungan tanpa kontrol terhadap AI berpotensi mengikis orisinalitas dan kedalaman berpikir. Mahasiswa dapat dengan mudah menghasilkan teks, tetapi belum tentu memahami substansi yang dihasilkan. Di sinilah perpustakaan hadir sebagai ruang edukasi tempat mahasiswa tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi juga diajak berdialog dengannya secara kritis dan etis.

Sebagai Kampus Digital Bisnis, Universitas Nusa Mandiri (UNM) memahami bahwa integrasi teknologi dalam pendidikan tidak bisa dihindari. Namun, integrasi tersebut harus diiringi dengan penguatan nilai-nilai akademik. Perpustakaan di lingkungan kampus tidak lagi berfungsi sebagai pelengkap, melainkan sebagai pusat literasi digital dan AI yang membekali mahasiswa dengan kemampuan seleksi informasi, etika penggunaan teknologi, serta pemahaman mendalam terhadap sumber pengetahuan.

Transformasi perpustakaan menjadi pusat literasi AI bukan sekadar respons terhadap tren, melainkan kebutuhan strategis. Perpustakaan harus mampu menghadirkan layanan berbasis teknologi, menyediakan kurasi sumber yang kredibel, serta menjadi mitra intelektual bagi mahasiswa dan dosen dalam proses riset.

Baca juga:Krisis Energi Mengancam, Lawan dengan Literasi Digital Sekarang!

Lebih jauh, perpustakaan juga memiliki peran dalam “memanusiakan teknologi”. Artinya, memastikan bahwa penggunaan AI tetap berada dalam kendali manusia, bukan sebaliknya. Teknologi harus menjadi alat bantu untuk memperkuat kapasitas berpikir, bukan menggantikannya.

Pada akhirnya, relevansi perpustakaan tidak ditentukan oleh seberapa cepat ia mengikuti teknologi, tetapi seberapa kuat ia menjaga kualitas pengetahuan. Di tengah era AI, perpustakaan justru menemukan kembali esensinya: sebagai ruang yang mengubah data menjadi informasi, dan informasi menjadi kebijaksanaan.

Karena itu, alih-alih ditinggalkan, perpustakaan justru perlu diperkuat. Di sanalah fondasi intelektual generasi masa depan dibangun bukan hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga matang dalam berpikir dan beretika dalam bertindak.

Penulis: Dio Andre Nusa, Pustakawan Universitas Nusa Mandiri

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

AI Tidak Menunggu Kampus Lambat

8 Mei 2026 - 07:32 WIB

AI Tidak Menunggu

Dunia Kerja Tak Lagi Butuh Lulusan Biasa

8 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dunia Kerja

Bootcamp atau Kuliah Mana Lebih Cepat Kuasai Skill Digital

7 Mei 2026 - 14:03 WIB

Bootcamp atau Kuliah

Jangan Tunggu Lulus, Siapkan Karier Sejak Kuliah

6 Mei 2026 - 12:10 WIB

Siapkan Karier Sejak Kuliah

Kuliah Bukan Sekadar Gelar, Saatnya Kejar Kompetensi

5 Mei 2026 - 11:14 WIB

Kuliah Bukan Sekadar Gelar
Sedang Tren di Opini