Best Paper ICITRI 2026

NusamandiriNews, Depok – International Conference on Information Technology Research and Innovation (ICITRI) 2026 resmi berakhir pada Jumat (11/9). Memasuki hari kedua, konferensi internasional yang diselenggarakan Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis ini ditutup dengan pengumuman tiga penerima penghargaan Best Paper yang dinilai mampu menghadirkan inovasi teknologi sekaligus menjawab persoalan nyata di masyarakat.

Rangkaian ICITRI 2026 berlangsung secara hybrid di UNM kampus Margonda, Jl Margonda Raya No 545, Pondok Cina, Beji, Depok, dan melalui platform Zoom. Penghargaan Best Paper tahun ini diberikan kepada tiga penelitian dari Universitas Satya Wacana Indonesia, Universitas Syiah Kuala, dan Universitas Nusa Mandiri yang dinilai merepresentasikan tema besar ICITRI 2026, “Next-Generation AI for Human-Centered Innovation and Sustainable Futures”.

Baca juga:CNN dan Arah Baru Riset AI di ICITRI 2026

Best Paper ICITRI 2026

Riset pertama berasal dari Universitas Satya Wacana Indonesia melalui penelitian berjudul “Lightweight Breast Cancer Histopathological Image Classification Using a Fuzzy-Enhanced MobileNet Architecture”. Penelitian yang disusun Iis Setiawan Mangku Negara, Yessica Nataliani, dan Ivanna K. Timotius tersebut menawarkan pendekatan klasifikasi citra histopatologi kanker payudara dengan arsitektur MobileNet yang disempurnakan menggunakan pendekatan fuzzy.

Keunggulan penelitian tersebut terletak pada upaya menghasilkan sistem yang relatif ringan dengan tetap mempertahankan kemampuan klasifikasi yang baik. Riset ini sekaligus memperlihatkan bagaimana pengembangan AI dapat diarahkan untuk mendukung kebutuhan di bidang kesehatan.

Penghargaan berikutnya diberikan kepada tim peneliti dari Universitas Syiah Kuala melalui penelitian berjudul “Multimodal Few-Shot Cassava Leaf Disease Classification Using Minimal Text Descriptions and L-BFGS Optimization”. Penelitian yang melibatkan Irwan Saputra, Kahlil Muchtar, Hizir Sofyan, Taufik F. Abidin, Irvanizam, Nidya Chitraningrum, dan Hertha Bastiawan ini mengembangkan metode klasifikasi penyakit daun singkong dengan memanfaatkan pendekatan few-shot learning dan data yang relatif minimal.

Riset tersebut membawa pemanfaatan AI lebih dekat dengan persoalan ketahanan pangan. Kemampuan mengidentifikasi penyakit tanaman secara lebih efisien dapat menjadi bagian dari upaya pemanfaatan teknologi untuk mendukung sektor pertanian.

Sementara itu, satu penghargaan Best Paper juga diraih peneliti dari Universitas Nusa Mandiri melalui penelitian berjudul “A Hybrid Retrieval Chatbot with Deterministic Intent Routing for Indonesian Border Languages”. Penelitian ini melibatkan Kasa Inti Josia Tambunan, Nouval Ghoonimu Tsawab, Siti Zainab Amri, Foni A Setiawan, Tati Mardiana, Nanang Ruhyana, Taopik Hidayat, Riki Supriyadi, dan Arif Hidayat.

Penelitian tersebut mengembangkan chatbot hibrida dengan deterministic intent routing yang dirancang untuk menangani bahasa-bahasa di kawasan perbatasan Indonesia. Selain menghadirkan inovasi pada teknologi chatbot, riset ini membawa dimensi lain dari pemanfaatan AI, yakni membantu menjaga keberadaan dan akses terhadap bahasa daerah.

General Chair ICITRI 2026, Dr. Muhammad Haris mengapresiasi kualitas penelitian yang dipresentasikan dalam konferensi tahun ini. Menurutnya, ketiga penelitian yang terpilih menunjukkan bahwa perkembangan teknologi AI semakin diarahkan pada kebutuhan nyata dan memiliki dampak yang lebih luas.

“Karya-karya yang terpilih sebagai Best Paper tahun ini benar-benar mencerminkan semangat ICITRI 2026, yaitu menghadirkan kecerdasan buatan yang berpusat pada manusia dan berdampak nyata,” ujar Dr. Haris dalam keterangan rilis yang diterima pada Jumat (11/9).

Ia menilai ketiga penelitian tersebut memperlihatkan bagaimana teknologi dapat digunakan untuk menjawab persoalan di berbagai sektor, mulai dari kesehatan, ketahanan pangan, hingga pelestarian budaya dan bahasa daerah.

“Kita bisa melihat bahwa ketiga riset ini memberikan solusi inovatif di tiga sektor yang sangat krusial, kesehatan medis, ketahanan pangan, hingga pelestarian budaya dan bahasa daerah di kawasan perbatasan. Ini membuktikan bahwa para peneliti kita mampu menjawab tantangan dan kebutuhan global dengan teknologi komputasi mutakhir,” katanya.

Pengumuman Best Paper menjadi penutup rangkaian ICITRI 2026 sekaligus mempertegas pesan yang dibawa sejak hari pertama konferensi. Perkembangan AI tidak berhenti pada kemampuan menciptakan teknologi yang semakin canggih, tetapi juga pada bagaimana kecerdasan tersebut diterjemahkan menjadi solusi yang relevan bagi manusia.

Baca juga:79 Makalah dari 7 Negara Bahas Masa Depan AI di ICITRI 2026 UNM

Dari deteksi kanker payudara hingga penyakit tanaman dan pelestarian bahasa di kawasan perbatasan, tiga penelitian tersebut menunjukkan bahwa masa depan AI dapat tumbuh dari persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Teknologi boleh bergerak semakin cepat, tetapi arah inovasinya tetap perlu menjawab satu pertanyaan penting, yakni seberapa besar manfaatnya bagi manusia.

Melalui ICITRI 2026, UNM berharap pertukaran gagasan dan penghargaan terhadap karya riset berkualitas dapat terus mendorong kolaborasi lintas institusi. Langkah tersebut diharapkan ikut memperkuat ekosistem penelitian dan inovasi teknologi yang berkelanjutan, baik di tingkat nasional maupun internasional.