
NusamandiriNews, Jakarta – Memilih jurusan, menentukan pekerjaan, atau membayangkan masa depan bukan selalu perkara sederhana bagi siswa. Di tengah banyaknya pilihan dan perubahan dunia kerja, tidak sedikit remaja justru menghadapi kebingungan ketika harus menentukan arah setelah lulus sekolah.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Counselor & Psychology Storyteller, Sasya Sava Bustomi dalam Seminar Pemuda Mandiri bertajuk “Empowering Counselors Inspiring Futures” yang digelar Universitas Nusa Mandiri (UNM) yang dikenal sebagai Kampus Digital Bisnis bersama Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (MGBK) SMK Kota Bekasi di aula UNM kampus Jatiwaringin, Jl Raya Jatiwaringin, No. 2, Cipinang Melayu, Makasar, Jakarta Timur, pada Kamis (8/10).
Baca juga:UNM Akan Gelar Seminar Pemuda Mandiri untuk Tingkatkan Kompetensi Guru BK
Guru BK Manfaatkan Psikologi dan AI
Dalam sesi bertajuk “Meningkatkan Kompetensi Guru BK melalui Pendekatan Psikologi dan Pemanfaatan AI untuk Mendukung Potensi serta Perencanaan Karier Siswa”, Sasya mengajak Guru BK melihat persoalan karier siswa tidak semata-mata dari pilihan jurusan atau pekerjaan, tetapi dimulai dari proses mengenali diri.
Menurut Sasya, sekitar 20 persen remaja usia 15–17 tahun di berbagai sistem pendidikan mengalami ketidakpastian terkait ekspektasi karier mereka. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pendampingan karier membutuhkan pendekatan yang lebih personal dan tidak berhenti pada pemberian informasi.
“Selama ini orang dewasa sering kali terlalu fokus pada pilihan teknis seperti jurusan, pekerjaan, atau tes minat bakat. Padahal, hal mendasar yang perlu digali lebih dalam dari remaja adalah pengenalan diri, kekuatan yang dimiliki, hingga ketakutan-ketakutan yang mereka hadapi dalam mengambil keputusan,” ujar Sasya, Kamis (8/10).
Sasya kemudian memperkenalkan konsep Liminal Space, yakni fase transisi ketika seseorang telah meninggalkan identitas lama tetapi belum sepenuhnya memasuki identitas baru. Bagi siswa, fase ini dapat terjadi ketika mereka mulai meninggalkan dunia sekolah dan bersiap memasuki perguruan tinggi, dunia kerja, maupun pilihan kehidupan lainnya.
Dalam kondisi tersebut, siswa membutuhkan Career Adaptability atau kemampuan beradaptasi dalam menghadapi perkembangan dan ketidakpastian karier. Sasya menjelaskan empat aspek yang dapat dikembangkan, yakni Concern, Control, Curiosity, dan Confidence atau 4C.
Concern berkaitan dengan kepedulian siswa terhadap masa depan. Control mendorong siswa memiliki rasa kendali terhadap keputusan yang diambil. Sementara Curiosity berkaitan dengan keberanian mengeksplorasi berbagai kemungkinan dan Confidence menjadi modal untuk menghadapi tantangan serta menjalankan pilihan yang telah dibuat.
Untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan tersebut, Guru BK dapat menerapkan Person-Centered Approach yang mengedepankan empati dan active listening. Alih-alih terburu-buru memberikan jawaban, konselor dapat menggunakan pertanyaan terbuka agar siswa memiliki ruang untuk menceritakan pengalaman, kekhawatiran, serta harapannya.
Pendekatan tersebut kemudian dapat dilengkapi dengan analisis berdasarkan Social Cognitive Career Theory (SCCT), yang melihat keterkaitan antara efikasi diri, ekspektasi terhadap hasil, minat, serta faktor lingkungan dalam proses pengambilan keputusan karier.
Di tengah perkembangan AI, Sasya juga mengingatkan Guru BK agar tidak melihat teknologi sebagai ancaman terhadap profesi konselor. Sebaliknya, AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk mendukung pekerjaan yang bersifat administratif maupun pengolahan informasi.
AI, misalnya, dapat membantu mengolah data, merangkum informasi, menyusun materi psychoeducation, hingga memberikan rekomendasi sumber belajar. Namun, terdapat aspek dalam proses konseling yang tetap membutuhkan kehadiran manusia.
“AI bisa membantu kita mencari data, merangkum informasi, atau menawarkan kemungkinan. Namun, tugas memahami manusia, membangun kepercayaan (trust), memvalidasi emosi, dan memberikan pertimbangan profesional (professional judgment) tetap berada sepenuhnya di tangan Guru BK sebagai konselor,” tegasnya.
Pandangan tersebut menempatkan AI sebagai alat pendukung, sementara Guru BK tetap menjadi pihak yang memahami konteks dan kondisi siswa secara utuh. Dengan begitu, pemanfaatan teknologi dapat berjalan beriringan dengan empati dan tanggung jawab profesional.
Sebagai panduan praktis, Sasya membagikan enam tahapan pendampingan karier siswa yang dirangkum dalam alur LISTEN, MAP, EXPLORE, TEST, REFLECT, dan ADAPT.
Tahap LISTEN dimulai dengan memahami cerita dan kondisi siswa secara utuh. Kemudian MAP dilakukan untuk memetakan hubungan antara minat, kekuatan, nilai, serta lingkungan siswa. Selanjutnya, EXPLORE membuka ruang bagi siswa untuk mengenali berbagai alternatif kesempatan.
Pada tahap TEST, siswa didorong untuk mencoba mengambil langkah nyata. Pengalaman tersebut kemudian dievaluasi melalui tahap REFLECT, sebelum akhirnya siswa melakukan ADAPT dengan memperbarui pilihan atau strategi berdasarkan pengalaman dan pembelajaran yang telah diperoleh.
Baca juga:Perkuat Peran Pendidik, Universitas Nusa Mandiri Bersiap Gelar Seminar Guru BK
Enam tahapan tersebut menunjukkan bahwa perencanaan karier bukan keputusan sekali jadi. Pilihan siswa dapat berkembang seiring bertambahnya pengalaman, pemahaman diri, serta perubahan lingkungan.
Sasya menutup pemaparannya dengan pesan bahwa keberhasilan seorang konselor tidak hanya diukur dari seberapa banyak informasi yang mampu diberikan kepada siswa. Lebih jauh, peran tersebut juga tercermin dari kemampuan menciptakan ruang yang membuat siswa merasa aman untuk bercerita, mengenali dirinya, dan berani menentukan langkah.
Dalam konteks tersebut, Guru BK bukan sekadar pemberi jawaban atas pertanyaan tentang masa depan. Guru BK menjadi pendamping yang membantu siswa menemukan jawaban itu melalui proses mengenali diri, mengeksplorasi kemungkinan, mencoba, merefleksikan pengalaman, dan beradaptasi dengan perubahan.







