NusamandiriNews–Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membawa perubahan besar dalam cara masyarakat mengakses, menyebarkan, dan menilai informasi. Di era digital saat ini, konten tidak lagi semata-mata dihasilkan oleh manusia. AI kini mampu menciptakan teks, gambar, audio, hingga video yang tampak sangat realistis, bahkan sulit dibedakan dari karya manusia.
Kondisi tersebut memunculkan tantangan serius, terutama dalam membedakan fakta yang benar dengan konten hasil rekayasa AI. Paparan informasi digital yang datang berkali-kali setiap hari tidak selalu diimbangi dengan kemampuan literasi informasi yang memadai. Akibatnya, celah penyebaran misinformasi semakin terbuka dan berpotensi menurunkan kepercayaan publik terhadap informasi digital secara umum.
Baca juga:Perpustakaan Jadi Sekutu Tersembunyi Mahasiswa Skripsi di Era Digital
Kecepatan dan Skala Produksi Konten
Teknologi AI generatif, seperti large language models, mampu memproduksi konten dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Mulai dari artikel berita, opini, hingga visual digital yang tampak meyakinkan. Sayangnya, perkembangan literasi informasi masyarakat belum sepenuhnya sejalan dengan laju teknologi tersebut.
“Ketika masyarakat tidak memiliki kemampuan untuk mengevaluasi sumber dan isi informasi, maka konten yang dimanipulasi atau sepenuhnya dibuat oleh mesin dapat dengan mudah dipercaya,” ungkap Ricky Sediawan, Pustakawan Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis.
Ancaman Misinformasi dan Deepfake
AI juga menghadirkan tantangan baru melalui teknologi deepfake, yaitu manipulasi visual dan audio yang sangat realistis. Teknologi ini memungkinkan pemalsuan suara tokoh publik, rekayasa video, hingga penyebaran berita palsu yang tampak autentik.
Menurut Ricky, kondisi ini menuntut masyarakat untuk lebih kritis.
“Konten digital hari ini bisa terlihat sangat meyakinkan, tetapi belum tentu benar. Di sinilah literasi informasi menjadi kunci agar masyarakat terbiasa memeriksa ulang, membandingkan sumber, dan tidak langsung percaya pada satu narasi,” tegasnya.

Pentingnya Literasi Informasi di Era AI
Literasi informasi berperan penting dalam meningkatkan kemampuan individu untuk mengevaluasi fakta. Melalui literasi yang baik, masyarakat mampu menilai kredibilitas sumber, mengenali bias, serta menentukan apakah sebuah informasi layak dipercaya.
Selain itu, literasi informasi juga memperkuat ketahanan masyarakat terhadap misinformasi. Individu yang memiliki literasi kuat tidak mudah terprovokasi konten menyesatkan dan lebih bijak dalam mengambil keputusan berbasis informasi.
“Literasi informasi bukan hanya soal bisa mencari data, tetapi juga memahami konteks, tujuan, dan dampak dari sebuah informasi,” jelas Ricky.
AI sebagai Alat Bantu Literasi
Menariknya, AI tidak selalu menjadi ancaman. Teknologi ini juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung literasi informasi, seperti membantu fact-checking, menganalisis pola disinformasi, serta memberikan edukasi tentang cara mengenali konten palsu.
Namun demikian, pemanfaatan AI tetap harus diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis.
“Ketergantungan penuh pada teknologi tanpa pemahaman literasi justru bisa berbahaya. AI seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti nalar kritis manusia,” tambah Ricky.
Baca juga:AI dan E-Library, Kolaborasi Cerdas untuk Literasi Digital di Kampus Masa Kini
Strategi Penguatan Literasi Informasi
Penguatan literasi informasi dapat dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari edukasi literasi digital sejak dini di jalur pendidikan formal, pelatihan di komunitas, hingga kolaborasi antara pemerintah, media, dan institusi pendidikan.
Universitas Nusa Mandiri sebagai Kampus Digital Bisnis terus mendorong peran perpustakaan dan pustakawan sebagai garda terdepan dalam edukasi literasi informasi. Perpustakaan tidak hanya menjadi pusat koleksi, tetapi juga pusat pembelajaran kritis di era digital.
Kesimpulan
Perkembangan AI menghadirkan dua sisi sekaligus: memperkaya akses informasi dan pengetahuan, namun juga memperumit proses verifikasi kebenaran. Oleh karena itu, literasi informasi menjadi keterampilan krusial bagi masyarakat digital masa kini.
Melalui edukasi berkelanjutan, kolaborasi lintas sektor, serta pemanfaatan AI secara etis dan kritis, masyarakat diharapkan mampu menjaga kualitas ruang digital agar tetap berbasis pada fakta, integritas, dan tanggung jawab bersama.










