NusamandiriNews, Jakarta – Siapa bilang kerja di luar negeri hanya untuk “yang beruntung”? Di tengah kebutuhan talenta digital yang terus meningkat di Asia Tenggara, peluang karier global justru terbuka bagi mereka yang siap secara kompetensi dan pengalaman.
Hal ini dibuktikan oleh Dani Fikri, alumni Universitas Nusa Mandiri (UNM) yang dikenal sebagai Kampus Digital Bisnis, yang kini berkarier sebagai Software Developer di Starvision Information Technology Sdn Bhd, Malaysia.
Berbasis di Kota Damansara, Selangor, Dani dipercaya mengembangkan frontend architecture untuk platform digital perusahaan menggunakan Vue.js. Ia juga memastikan integrasi RESTful API berjalan optimal, bekerja sama dengan tim lintas divisi dan vendor. Perannya tidak sekadar menulis kode, tetapi membangun sistem yang digunakan secara luas dan berdampak nyata.
Baca juga: Alumni UNM Tembus Malaysia Bukti Lulusan Kampus Digital Bisnis Siap Bersaing Global
Kerja ke Luar Negeri Bukan Mimpi
Perjalanan tersebut bukan hasil instan. Sebelum menembus industri teknologi Malaysia, Dani lebih dulu mengasah pengalaman di Indonesia. Ia pernah menjadi Back End Developer di Gramedia selama tiga tahun, termasuk memimpin tim kecil dan menjaga standar clean code dalam pengembangan sistem. Sejak 2019, ia juga aktif sebagai software developer independen dengan berbagai proyek strategis, mulai dari aplikasi pelaporan bencana, aplikasi mobile, hingga platform ekspor-impor.
Bekal akademiknya diperoleh dari Universitas Nusa Mandiri dengan latar belakang Business/Digital Marketing/Technology. Kombinasi pemahaman bisnis dan teknologi tersebut menjadi nilai tambah dalam menghadapi persaingan industri digital global.
Koordinator Marketing dan Komunikasi Universitas Nusa Mandiri, Sofyan Wira Hadi, menegaskan bahwa capaian alumni di level internasional menjadi indikator kesiapan lulusan UNM.
Baca juga:Zona Ban Jadi Bukti, Alumni UNM Sukses Bisnis dan Cetak Motivasi Baru
“Keberhasilan Dani menunjukkan bahwa lulusan Universitas Nusa Mandiri sebagai Kampus Digital Bisnis memiliki daya saing global. Kami mendorong mahasiswa membangun portofolio sejak kuliah, aktif dalam proyek nyata, dan memperkuat sertifikasi agar siap bersaing tanpa batas negara,” ujarnya dalam rilis yang diterima, pada Jumat (20/2).
Menurutnya, di era transformasi digital, karier global bukan soal lokasi, melainkan soal kompetensi.
Kisah Dani menjadi pesan kuat bagi generasi muda: peluang internasional terbuka lebar bagi mereka yang konsisten mengembangkan skill dan berani mengambil tantangan. Dari kampus di Indonesia hingga perusahaan teknologi di Malaysia, langkah itu dimulai dari kesiapan hari ini.










