NusamandiriNews, Jakarta – Fenomena lulusan Strata Dua (S2) yang masih menganggur atau kesulitan memperoleh pekerjaan layak menjadi ironi di tengah meningkatnya angka pendidikan tinggi di Indonesia. Gelar magister yang selama ini dipersepsikan sebagai tiket menuju jenjang karier lebih tinggi, nyatanya belum sepenuhnya menjamin kemudahan akses ke dunia kerja.
Sejumlah pengamat pendidikan menilai, tingginya angka pengangguran lulusan S2 disebabkan oleh ketimpangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri. Banyak lulusan magister dinilai terlalu teoritis, minim pengalaman praktis, serta tidak memiliki keahlian spesifik yang benar-benar dibutuhkan pasar kerja saat ini.
Baca juga: Magister Ilmu Komputer Berakreditasi Unggul di Depok Kian Diminati
Lulusan S2 Meningkat, Pengangguran Terdidik
Selain itu, perubahan cepat teknologi digital turut memperlebar jurang tersebut. Dunia industri kini menuntut talenta yang tidak hanya berpikir konseptual, tetapi juga mampu menghadirkan solusi berbasis teknologi mutakhir seperti kecerdasan buatan, pengolahan data, hingga sistem terdistribusi. Sayangnya, tidak semua program S2 mampu menjawab tantangan ini secara konkret.
Faktor lain yang kerap disorot adalah orientasi studi yang tidak berbasis karier dan inovasi. Banyak lulusan S2 terjebak pada gelar akademik semata, tanpa dibekali portofolio, riset terapan, atau proyek teknologi yang dapat langsung diimplementasikan di dunia industri maupun kewirausahaan digital.
Namun kondisi tersebut tidak berlaku bagi lulusan Magister Ilmu Komputer Universitas Nusa Mandiri (UNM), yang dikenal sebagai Kampus Digital Bisnis. Program studi ini dirancang secara adaptif untuk menjawab kebutuhan industri masa kini dan masa depan, dengan menekankan penguasaan kompetensi strategis dan aplikatif.
Magister Ilmu Komputer UNM secara konsisten menghasilkan lulusan yang terampil dan ahli di bidang Ilmu Komputer (Computer Science) dengan kekhususan pada komputasi cerdas, meliputi:
• Artificial Intelligence & Blockchain,
• Software Engineering & Data Science, serta
• Computer Vision & Image Processing.
Kurikulum disusun berbasis proyek, riset terapan, dan problem industri nyata, sehingga lulusan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap bersaing di pasar kerja global, industri teknologi, startup digital, hingga dunia riset dan inovasi.
Ketua Program Studi Magister Ilmu Komputer UNM, Prof Dr Agus Subekti, menegaskan bahwa gelar S2 harus menjadi solusi, bukan beban baru bagi lulusan.
“Kami melihat masalah pengangguran lulusan S2 bukan pada gelarnya, tetapi pada relevansi kompetensinya. Di Magister Ilmu Komputer UNM, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi dibentuk menjadi problem solver yang menguasai teknologi strategis seperti AI, data science, dan blockchain,” ujar Prof Agus dalam keterangan rilis yang diterima, pada Rabu (7/1).
Baca juga:UNM Hadirkan Magister Ilmu Komputer (S2) Terakreditasi Unggul
Ia menambahkan, pendekatan pembelajaran di UNM dirancang agar lulusan memiliki daya saing tinggi dan portofolio nyata.
“Lulusan kami kami siapkan untuk langsung terjun ke industri, membangun produk digital, melakukan riset terapan, bahkan menciptakan lapangan kerja baru. Inilah komitmen Universitas Nusa Mandiri sebagai Kampus Digital Bisnis,” tegasnya.
Dengan pendekatan tersebut, Magister Ilmu Komputer Universitas Nusa Mandiri hadir sebagai jawaban atas keresahan pengangguran terdidik, sekaligus bukti bahwa pendidikan S2 yang relevan, adaptif, dan berbasis teknologi mampu menjadi jalan menuju masa depan karier yang lebih pasti.










