NusamandiriNews, Jakarta–Ukuran bisnis tak lagi menentukan besarnya dampak. Di era Artificial Intelligence (AI) dan otomatisasi tahun 2026, usaha kecil justru memiliki peluang lebih besar untuk berkembang dan menjangkau pasar luas jika mampu memanfaatkan teknologi secara tepat. Fenomena ini mulai dirasakan banyak pelaku UMKM yang sebelumnya hanya melayani pelanggan lokal, kini mampu menerima pesanan lintas kota bahkan lintas daerah.
Transformasi tersebut bukan karena lokasi usaha berpindah ke pusat perbelanjaan atau suntikan modal besar, melainkan karena pemanfaatan teknologi digital. AI dan otomatisasi kini tidak lagi eksklusif bagi perusahaan besar. Berbagai tools berbasis AI sudah dapat diakses UMKM hanya melalui ponsel dan laptop, mulai dari pembuatan konten promosi, chatbot layanan pelanggan, pencatatan keuangan otomatis, hingga analisis tren pasar berbasis data.
Teknologi ini membuat UMKM bekerja lebih cepat, rapi, dan efisien tanpa harus menambah banyak tenaga kerja. Otomatisasi bukan untuk menggantikan peran manusia, melainkan membantu pelaku usaha agar waktu administratif berkurang, fokus pada kualitas produk meningkat, serta keputusan bisnis menjadi lebih akurat.
Baca juga:Mahasiswa S2 UNM Luncurkan Finture, Aplikasi AI Kelola Keuangan UMKM!
UNM Dorong UMKM Naik Kelas
Selain itu, pemanfaatan data sederhana juga menjadi kunci. Riwayat penjualan, jam ramai pembeli, hingga produk terlaris kini dapat dianalisis dengan tools AI yang mudah digunakan. Keputusan berbasis data inilah yang membedakan UMKM biasa dengan UMKM yang siap naik kelas dan berkelanjutan.
Kehadiran digital pun menjadi faktor krusial. Media sosial, marketplace, dan website kini berfungsi sebagai etalase utama bisnis. Dengan bantuan AI, UMKM dapat menyusun konten yang konsisten, menentukan waktu unggah terbaik, hingga membuat visual promosi yang lebih profesional. Di sisi lain, AI juga membuka peluang kolaborasi, baik dengan mahasiswa, freelancer digital, maupun komunitas kreatif, tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
Transformasi UMKM ini membutuhkan ekosistem pendukung, termasuk dari dunia pendidikan. Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis mengambil peran aktif dalam mendorong pemanfaatan teknologi untuk pengembangan usaha. Melalui pendekatan pembelajaran praktis, UNM membekali mahasiswa dan masyarakat dengan pemahaman AI dan otomasi bisnis, keterampilan digital marketing, serta pengalaman langsung mendampingi UMKM.
Peran tersebut diperkuat melalui Nusa Mandiri Entrepreneur Center (NEC) sebagai pusat pengembangan kewirausahaan. Kepala NEC Universitas Nusa Mandiri, Maruloh, menegaskan bahwa AI harus dilihat sebagai peluang strategis bagi pelaku usaha kecil.
Baca juga:Kuliah Masih Cuma Teori? Mahasiswi UNM Ini Sudah Bangun Platform UMKM di Perusahaan Teknologi
“UMKM tidak harus besar untuk berdampak. Dengan pemanfaatan AI dan otomatisasi yang tepat, bisnis kecil justru bisa lebih adaptif, efisien, dan berkelanjutan. Di sinilah peran kampus hadir, menjembatani teknologi dengan kebutuhan nyata pelaku usaha,” tegas Maruloh dalam keterangan rilis yang diterima, pada Rabu (28/1).
Ia menambahkan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam pendampingan UMKM juga menjadi bentuk nyata kolaborasi antara dunia akademik dan masyarakat, sekaligus melahirkan wirausaha muda yang melek teknologi dan peka terhadap persoalan riil di lapangan.
“Memasuki tahun 2026, kekuatan bisnis tidak lagi diukur dari luas toko atau jumlah karyawan, melainkan dari kemampuan beradaptasi terhadap perubahan. UMKM yang mau belajar, mencoba, dan memanfaatkan AI akan menjadi contoh nyata bahwa bisnis kecil mampu menciptakan dampak besar di era digital dan otomatisasi,” jelasnya.










