NusamandiriNews–Selama bertahun-tahun, pendidikan tinggi kita masih terlalu sering terjebak pada satu pola lama yakni dosen mengajar, mahasiswa mendengar, lalu dosen menjelaskan, mahasiswa mencatat dan dosen memberi soal, mahasiswa menjawab. Pola ini terlihat rapi, terstruktur, dan mudah diukur. Tetapi pertanyaannya sederhananya, apakah mahasiswa benar-benar belajar, atau hanya terbiasa menerima?
Dalam praktik sehari-hari, pembelajaran di kampus masih banyak menempatkan mahasiswa sebagai penerima pengetahuan, bukan sebagai subjek yang aktif membangun pemahaman. Mahasiswa menjadi objek transfer informasi, bukan aktor intelektual. Akibatnya, yang berkembang sering kali bukan daya pikir, melainkan sekadar kemampuan menghafal dan menyesuaikan diri dengan sistem penilaian.
Baca juga: Dunia Memanas, Siapkah Cara Pikir Kita? UNM Perkuat Literasi Mahasiswa
Mulai Menggali Potensi Mahasiswa!
Sebagai Ketua Lembaga Penjaminan dan Pengembangan Pembelajaran (LPPP) Universitas Nusa Mandiri (UNM), saya melihat bahwa tantangan terbesar pendidikan tinggi hari ini bukan kekurangan teknologi atau fasilitas, tetapi keberanian untuk mengubah paradigma. Dari sekadar “mengajar” ke “menggali”. Dari mentransfer isi kepala dosen ke membangkitkan potensi intelektual mahasiswa.
Mahasiswa sejatinya tidak datang ke kampus sebagai kertas kosong. Mereka membawa pengalaman, rasa ingin tahu, sudut pandang, bahkan keraguan. Tugas perguruan tinggi bukan menuangkan isi, melainkan memantik proses berpikir. Pendidikan seharusnya menjadi ruang dialog, refleksi, dan eksplorasi gagasan bukan sekadar ruang mendengar dan mencatat.
Masalahnya, sistem akademik kita sering belum sepenuhnya mendukung cara belajar seperti ini. Kurikulum yang terlalu padat membuat pembelajaran berorientasi pada kejar materi. Penilaian yang menitikberatkan angka membuat mahasiswa bermain aman, menghindari risiko berpikir, dan lebih sibuk menebak jawaban “yang diinginkan dosen” daripada membangun argumen sendiri.
Dalam situasi seperti ini, mahasiswa cenderung pasif secara intelektual. Mereka mungkin lulus tepat waktu, nilainya baik, tetapi miskin keberanian berpikir kritis. Padahal, dunia nyata tidak pernah menanyakan IPK. Dunia nyata menuntut kemampuan menganalisis masalah, mengambil keputusan, dan berpikir mandiri.
Di sinilah pentingnya menggeser orientasi pembelajaran. Mahasiswa harus ditempatkan sebagai pusat proses belajar, bukan sebagai objek evaluasi. Pembelajaran berbasis masalah, diskusi kasus, proyek lintas disiplin, hingga refleksi kritis perlu menjadi jantung aktivitas akademik. Kelas harus menjadi ruang aman untuk berbeda pendapat, menguji ide, bahkan keliru karena dari situlah proses berpikir tumbuh.
Peran dosen pun perlu bergeser. Bukan lagi sebagai satu-satunya sumber kebenaran, tetapi sebagai fasilitator dialog. Dosen bukan sekadar menjelaskan, tetapi menantang. Bukan hanya memberi jawaban, tetapi memancing pertanyaan. Relasi dosen dan mahasiswa tidak lagi hierarkis, melainkan kolaboratif.
Baca juga: Peluang Karier Customer Success Manager di Berbagai Industri Saat Ini
Sistem penilaian juga harus ikut berubah. Jika yang dinilai hanya hasil akhir, maka yang tumbuh hanya mental “asal jadi”. Tetapi jika yang dinilai adalah proses berpikir melalui portofolio, esai reflektif, proyek kolaboratif, maka mahasiswa akan belajar berpikir secara lebih dalam dan bertanggung jawab.
Sebagai institusi pendidikan, Universitas Nusa Mandiri yang dikenal sebagai Kampus Digital Bisnis terus mendorong agar ruang kelas tidak hanya menjadi tempat penyampaian materi, tetapi menjadi ruang tumbuhnya nalar. Pendidikan tinggi harus kembali pada tujuan utamanya: membentuk manusia yang berpikir, bukan sekadar manusia yang lulus.
Karena pada akhirnya, kampus tidak diukur dari seberapa banyak materi yang diajarkan, tetapi dari seberapa jauh mahasiswa berkembang secara intelektual. Sudah saatnya kita berhenti sekadar mengajar dan mulai benar-benar menggali potensi mahasiswa.
Penulis: Nurmalasari, Ketua LPPP Universitas Nusa Mandiri










