NusamandiriNews–Perguruan tinggi tidak boleh terjebak dalam rutinitas akademik yang berputar di ruang kelas dan laporan administratif. Tri Dharma Perguruan Tinggi menuntut peran yang lebih luas yakni riset yang relevan dan pengabdian yang berdampak nyata bagi masyarakat. Inilah semangat yang terus kami dorong di Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis.
Partisipasi aktif dosen Universitas Nusa Mandiri dalam Program Hibah BESTARI Saintek Tahun 2026 menjadi penegasan bahwa dunia akademik harus hadir langsung menjawab tantangan zaman. Sebanyak 11 proposal dosen kami ajukan dengan tema-tema strategis seperti Internet of Things, Artificial Intelligence, Living Lab, ketahanan pangan, kesehatan, ekonomi sirkular, hingga pemberdayaan masyarakat berbasis teknologi. Ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan arah kebijakan akademik yang berorientasi pada dampak.
Baca juga:Riset Berdampak Nyata! UNM Dorong Inovasi Lewat Hibah BESTARI 2026
Dosen Harus Turun ke Masyarakat
Bagi saya, hibah riset dan pengabdian bukan tujuan akhir, melainkan instrumen perubahan. Melalui program seperti BESTARI, dosen didorong untuk keluar dari zona nyaman, membangun kolaborasi lintas disiplin, dan menjalin kemitraan dengan masyarakat, pemerintah daerah, serta industri. Di sinilah riset menemukan relevansinya, dan pengabdian memperoleh maknanya.
Sebagai Kampus Digital Bisnis, Universitas Nusa Mandiri memandang teknologi bukan sekadar objek kajian, tetapi alat strategis untuk menyelesaikan persoalan nyata. AI, IoT, dan berbagai inovasi digital harus mampu menyentuh isu-isu konkret seperti kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, dan ekonomi berkelanjutan. Ketika dosen terlibat langsung dalam pengembangan solusi, maka ilmu pengetahuan tidak berhenti di jurnal, tetapi hidup di tengah masyarakat.
Penguatan ekosistem riset menjadi prioritas kami di bidang akademik. Pendampingan proposal, penguatan kapasitas dosen, hingga kolaborasi berkelanjutan terus kami kembangkan agar kualitas tridarma semakin meningkat. Budaya akademik yang kami bangun adalah budaya yang produktif, kolaboratif, dan berorientasi pada solusi.
Baca juga:Dosen UNM Turun ke Masyarakat! Inovasi BESTARI Saintek 2026 Siap Berdampak Nyata
Saya percaya, masa depan perguruan tinggi ditentukan oleh keberanian dosennya untuk berkontribusi lebih jauh. Bukan hanya mengajar, tetapi meneliti dan mengabdi dengan kesadaran sosial yang kuat. Ketika dosen bergerak, mahasiswa belajar dari keteladanan. Dan ketika kampus hadir untuk masyarakat, di situlah pendidikan tinggi menemukan relevansi sejatinya.
Universitas Nusa Mandiri akan terus mendorong dosen untuk aktif, adaptif, dan berdampak. Karena kampus yang besar bukan hanya yang unggul secara akademik, tetapi yang nyata manfaatnya bagi bangsa.
Penulis: Dr Nita Merlina, Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Nusa Mandiri










