NusamandiriNews–Setiap tahun, Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) selalu melahirkan satu pertanyaan klasik di kalangan mahasiswa: “Kenapa ide bagus saya tidak lolos?” Pertanyaan ini wajar, tetapi sering kali jawabannya tidak sesederhana yang dibayangkan.
Berdasarkan pengalaman mendampingi mahasiswa di Universitas Nusa Mandiri (UNM), saya melihat satu pola yang berulang. Banyak proposal PKM memiliki ide yang cerdas, inovatif, bahkan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Namun sayangnya, ide tersebut gugur bukan karena lemah, melainkan karena tidak disampaikan dengan cara yang benar.
Baca juga:Sosialisasi PKM 2026, UNM Siapkan Mahasiswa Tembus Pendanaan Nasional
PKM Bisa Jadi Sekadar Wacana
Di PKM, ide keren tanpa format yang tepat sering kali hanya berakhir sebagai wacana. PKM bukan ajang adu siapa paling pintar beride, tetapi siapa yang paling siap mengeksekusi gagasan secara sistematis. Proposal PKM adalah dokumen akademik resmi yang dinilai dengan standar ketat. Ketidaksesuaian format, kesalahan sitasi, alur logika yang meloncat, hingga pengajuan anggaran yang tidak rasional masih menjadi penyebab utama kegagalan di tahap awal seleksi.
Inilah realitas yang perlu dipahami mahasiswa sejak awal.
Sebagai Kampus Digital Bisnis, Universitas Nusa Mandiri mendorong mahasiswa untuk tidak hanya kreatif, tetapi juga disiplin secara akademik dan strategis secara perencanaan. Kreativitas tanpa struktur akan sulit bersaing di level nasional. Sebaliknya, ide yang ditulis dengan rapi, berbasis data, relevan dengan skema PKM, dan memiliki dampak nyata justru memiliki peluang besar untuk lolos pendanaan.
Saya sering menekankan kepada mahasiswa bahwa PKM adalah miniatur dunia profesional. Di dunia nyata, ide bisnis, proposal riset, maupun program sosial tidak dinilai dari niat baik saja, tetapi dari kejelasan konsep, kelayakan eksekusi, dan manfaatnya. PKM melatih mahasiswa menghadapi realitas tersebut sejak dini.
Di Nusa Mandiri Innovation Center (NIC), kami tidak ingin mahasiswa bergerak sendirian. Pendampingan PKM bukan sekadar sosialisasi, tetapi proses berkelanjutan mulai dari pematangan ide, pemilihan skema yang tepat, penyusunan proposal, hingga review teknis. Semakin awal mahasiswa mau berdiskusi, semakin besar peluang proposal tersebut matang dan kompetitif.
Baca juga:Mau Lolos PKM 2026? UNM Buka Sosialisasi, Ayo Daftar Sekarang!
PKM seharusnya tidak dipandang sebagai beban administratif, melainkan sebagai pintu masuk membangun portofolio akademik, inovasi, dan kepemimpinan mahasiswa. Mahasiswa yang serius menekuni PKM akan terbiasa berpikir solutif, bekerja kolaboratif, dan mengambil keputusan berbasis data kompetensi yang sangat dibutuhkan di era digital.
Tahun 2026 akan kembali menjadi arena kompetisi ide mahasiswa dari seluruh Indonesia. Pertanyaannya kini bukan lagi “punya ide atau tidak”, tetapi “siap atau tidak mengeksekusinya dengan benar”.
Bagi mahasiswa Universitas Nusa Mandiri, ini saatnya membuktikan bahwa kreativitas bisa berjalan seiring dengan ketepatan strategi. Karena di PKM, ide hebat yang ditulis asal-asalan akan kalah dari ide baik yang disiapkan secara matang. Yuk, siapkan PKM 2026 dari sekarang, jangan biarkan ide bagus berhenti di kepala.
Penulis: Fitra Septia Nugraha, Kepala Nusa Mandiri Innovation Center (NIC), Universitas Nusa Mandiri










