NusamandiriNews–Era Industri 4.0 telah mengubah wajah dunia kerja secara drastis. Otomatisasi dan kecerdasan buatan menggantikan banyak pekerjaan manual, sementara kebutuhan keterampilan baru terus bermunculan. Dalam situasi ini, perguruan tinggi tidak bisa lagi berjalan dengan pola lama.
Kita harus jujur mengakui, masih ada kesenjangan antara lulusan kampus dan kebutuhan industri. Kurikulum sering kali berubah di atas kertas, tetapi implementasinya tertinggal. Pembelajaran masih terlalu teoritis, minim praktik, dan belum sepenuhnya menyentuh kompetensi yang benar-benar dibutuhkan pasar kerja digital.
Baca juga:Gaji Digital Marketing Tembus Rp35 Juta Prodi Bisnis Digital UNM Siapkan Talenta Siap Pakai
Ijazah Saja Tak Cukup
Hari ini, ijazah tidak lagi menjadi jaminan kesuksesan. Dunia industri lebih menghargai keterampilan nyata, kemampuan problem solving, komunikasi, kolaborasi, serta adaptasi terhadap teknologi. Jika kampus tidak segera bertransformasi, maka kesenjangan ini akan semakin melebar.
Menurut saya, kampus tidak cukup hanya menjadi pencetak pekerja. Kampus harus menjadi pusat lahirnya inovator. Itu berarti kurikulum harus adaptif, responsif, dan terintegrasi dengan perkembangan teknologi terkini. Hard skill dan soft skill harus diperkuat secara seimbang. Mahasiswa tidak hanya diajarkan memahami teori, tetapi juga dilatih berpikir kritis, kreatif, dan solutif.
Sebagai Kampus Digital Bisnis, Universitas Nusa Mandiri (UNM) berkomitmen mengimplementasikan kurikulum berbasis kualitas dan inovasi. Strategi implementasi kurikulum tidak boleh berhenti pada dokumen formal. Ia harus hidup di ruang kelas, laboratorium, dan program magang yang terstruktur.
Laboratorium, misalnya, bukan sekadar pelengkap fasilitas. Ia adalah ruang pembentukan pola pikir ilmiah. Di sanalah mahasiswa memperoleh pengalaman empiris, mengasah keterampilan proses sains, dan belajar menyelesaikan persoalan secara sistematis. Pengelolaan laboratorium yang baik menjadi bagian penting dalam memastikan kurikulum berjalan efektif.
Begitu pula dengan program magang. Pendampingan dosen harus optimal, terstruktur, dan berkelanjutan. Mahasiswa tidak boleh dilepas tanpa arah. Dosen memiliki tanggung jawab akademik untuk memastikan pengalaman magang benar-benar relevan dan memberi nilai tambah kompetensi.
Dalam kerangka penjaminan mutu, pendekatan Outcome-Based Education (OBE) menjadi penting. Pendidikan tidak lagi hanya berorientasi pada proses, tetapi pada capaian pembelajaran yang terukur. Lulusan harus benar-benar menunjukkan kompetensi yang dibutuhkan industri. Data nasional pun menunjukkan bahwa institusi yang konsisten menerapkan OBE menghasilkan lulusan yang lebih siap kerja.
Namun, kualitas perguruan tinggi tidak bisa dilepaskan dari kualitas dosennya. Dosen bukan hanya penyampai materi, tetapi fasilitator pembelajaran yang dinamis. Mereka harus terus mengembangkan keahlian, memperluas wawasan lintas disiplin, serta adaptif terhadap perkembangan teknologi. Transformasi kurikulum tidak akan berhasil tanpa kesiapan dan profesionalisme dosen.
Baca juga:Tak Cukup Ijazah, Mahasiswa Bisnis Digital UNM Wajib Kantongi Sertifikasi!
Lebih dari itu, kurikulum harus dibangun di atas fondasi filosofis, sosiologis, psikologis, dan yuridis yang kuat. Pendidikan tinggi bukan hanya tentang keterampilan kerja, tetapi juga tentang pembentukan karakter, integritas, dan tanggung jawab kebangsaan.
Perguruan tinggi memang tidak bisa berjalan sendiri. Dukungan negara, industri, dan masyarakat sangat menentukan. Namun, perubahan harus dimulai dari dalam kampus itu sendiri. Karena itu, saya meyakini satu hal: reformasi kurikulum bukan pilihan, melainkan keharusan.
Jika kampus ingin lulusannya relevan dan kompetitif, maka perubahan harus dilakukan sekarang. Tingkatkan kualitas, perkuat inovasi, dan pastikan setiap lulusan benar-benar siap menghadapi dunia kerja digital.
Penulis: Nurmalasari, Ketua Lembaga Penjaminan dan Pengembangan Pembelajaran (LPPP), Universitas Nusa Mandiri










