NusamandiriNews–Pemberitaan media tentang kecerdasan buatan kerap menampilkan sisi yang mengagumkan. Sistem yang mampu mengenali wajah, membaca emosi, atau menafsirkan gambar sering diposisikan sebagai lompatan besar teknologi. Namun, di balik narasi tersebut, ada proses image processing yang kompleks dan jarang dibahas. Publik disuguhi hasil akhir, sementara fondasi teknisnya nyaris luput dari perhatian. Di sinilah sikap kritis menjadi penting, terutama bagi mahasiswa Informatika.
Mahasiswa Program Studi Informatika S1 Universitas Nusa Mandiri perlu memahami bahwa kecanggihan AI visual tidak muncul secara instan. Image processing adalah proses awal yang memungkinkan mesin “melihat” dan mengolah citra sebagai data. Tanpa pemahaman ini, teknologi mudah dipersepsikan secara berlebihan dan cenderung dipuja tanpa analisis. Pendidikan Informatika seharusnya membekali mahasiswa dengan kemampuan untuk membongkar teknologi hingga ke akar teknisnya.
Baca juga:Setiap Hari Pakai Image Processing, Sudahkah Kita Memahaminya?
Jangan Percaya AI Visual
Sebagai Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis, kami mendorong mahasiswa untuk tidak sekadar mengonsumsi berita teknologi, tetapi membacanya dengan nalar akademik. Image processing menjadi pintu masuk penting untuk memahami bagaimana AI visual bekerja secara objektif dan terukur. Melalui pendekatan ini, mahasiswa dilatih untuk menempatkan teknologi dalam konteks ilmiah, bukan sekadar sensasi media. Pemahaman mendalam inilah yang membentuk pola pikir analitis.
Kemampuan membaca teknologi dengan perspektif Informatika membantu mahasiswa memilah informasi yang valid. Di tengah banjir konten digital, mahasiswa perlu mampu membedakan antara fakta ilmiah dan klaim yang dibungkus narasi populer. Image processing memberi dasar teknis untuk menilai sejauh mana teknologi benar-benar bekerja dan apa batasannya. Sikap kritis ini menjadi modal penting di era digital yang sarat disinformasi.
Baca juga:Image Processing sebagai Kompetensi Kunci Informatika
Dengan bekal tersebut, mahasiswa Informatika Universitas Nusa Mandiri diharapkan tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga agen literasi teknologi di masyarakat. Mereka mampu menjelaskan, meluruskan, dan mengedukasi publik tentang cara kerja AI secara rasional. Image processing bukan sekadar mata kuliah, melainkan kunci memahami kecerdasan buatan secara utuh. Inilah peran pendidikan Informatika dalam membentuk generasi yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab di era digital.
Penulis: Arfhan Prasetyo, Ketua Program Studi Informatika, Universitas Nusa Mandiri










