Menu

Mode Gelap
Universitas Nusa Mandiri Raih Klasterisasi Utama: Pengakuan atas Kinerja Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UNM Beri Penghargaan Inovasi Pada Mahasiswa dan Alumni Berprestasi UNM Terima Penghargaan Apresiasi Penggabungan Perguruan Tinggi Tahun 2021 Manfaat Teknologi Untuk Ketahui Kepribadian dan Kecerdasan Pada Anak Sarah, Mahasiswa UNM yang Aktif Kuliah Sambil Berbisnis UNM Gelar Pembekalan Internal Program Kampus Mengajar Angkatan 3 Tahun 2022

Opini

Jangan Percaya AI Visual Sebelum Paham Image Processing

badge-check


Jangan Percaya AI Visual Sebelum Paham Image Processing Perbesar

NusamandiriNews–Pemberitaan media tentang kecerdasan buatan kerap menampilkan sisi yang mengagumkan. Sistem yang mampu mengenali wajah, membaca emosi, atau menafsirkan gambar sering diposisikan sebagai lompatan besar teknologi. Namun, di balik narasi tersebut, ada proses image processing yang kompleks dan jarang dibahas. Publik disuguhi hasil akhir, sementara fondasi teknisnya nyaris luput dari perhatian. Di sinilah sikap kritis menjadi penting, terutama bagi mahasiswa Informatika.

Mahasiswa Program Studi Informatika S1 Universitas Nusa Mandiri perlu memahami bahwa kecanggihan AI visual tidak muncul secara instan. Image processing adalah proses awal yang memungkinkan mesin “melihat” dan mengolah citra sebagai data. Tanpa pemahaman ini, teknologi mudah dipersepsikan secara berlebihan dan cenderung dipuja tanpa analisis. Pendidikan Informatika seharusnya membekali mahasiswa dengan kemampuan untuk membongkar teknologi hingga ke akar teknisnya.

Baca juga:Setiap Hari Pakai Image Processing, Sudahkah Kita Memahaminya?

Jangan Percaya AI Visual

Sebagai Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis, kami mendorong mahasiswa untuk tidak sekadar mengonsumsi berita teknologi, tetapi membacanya dengan nalar akademik. Image processing menjadi pintu masuk penting untuk memahami bagaimana AI visual bekerja secara objektif dan terukur. Melalui pendekatan ini, mahasiswa dilatih untuk menempatkan teknologi dalam konteks ilmiah, bukan sekadar sensasi media. Pemahaman mendalam inilah yang membentuk pola pikir analitis.

Kemampuan membaca teknologi dengan perspektif Informatika membantu mahasiswa memilah informasi yang valid. Di tengah banjir konten digital, mahasiswa perlu mampu membedakan antara fakta ilmiah dan klaim yang dibungkus narasi populer. Image processing memberi dasar teknis untuk menilai sejauh mana teknologi benar-benar bekerja dan apa batasannya. Sikap kritis ini menjadi modal penting di era digital yang sarat disinformasi.

Baca juga:Image Processing sebagai Kompetensi Kunci Informatika

Dengan bekal tersebut, mahasiswa Informatika Universitas Nusa Mandiri diharapkan tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga agen literasi teknologi di masyarakat. Mereka mampu menjelaskan, meluruskan, dan mengedukasi publik tentang cara kerja AI secara rasional. Image processing bukan sekadar mata kuliah, melainkan kunci memahami kecerdasan buatan secara utuh. Inilah peran pendidikan Informatika dalam membentuk generasi yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab di era digital.

Penulis: Arfhan Prasetyo, Ketua Program Studi Informatika, Universitas Nusa Mandiri

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kuliah untuk Diisi atau Digali?

9 Februari 2026 - 12:20 WIB

Arah Dasar Pendidikan Tinggi

Kenapa Kita Lebih Mudah Percaya Hoaks daripada Fakta?

6 Februari 2026 - 12:49 WIB

Percaya Hoaks daripada Fakta?

Masih Cari Buku dengan Cara Lama? OPAC Bukan Pajangan Digital

5 Februari 2026 - 08:55 WIB

OPAC Bukan Pajangan Digital

Ide Bisnis Mahasiswa Banyak, yang Jalan Kok Sedikit?

5 Februari 2026 - 08:41 WIB

Ide Bisnis Mahasiswa Banyak

Literasi Kita Tinggi, Membaca Kita Rendah

31 Januari 2026 - 09:44 WIB

Literasi Kita Tinggi
Sedang Tren di Opini