NusamandiriNews–Di era digital, kecepatan informasi sering kali mengalahkan kebenaran. Dalam hitungan detik, sebuah judul sensasional bisa menyebar luas, dikomentari, dibagikan, bahkan dipercaya tanpa pernah benar-benar dibaca, apalagi diverifikasi. Inilah paradoks zaman digital: informasi melimpah, tetapi nalar justru kerap tertinggal.
Sebagai pustakawan, saya melihat hoaks bukan sekadar persoalan teknologi, melainkan persoalan literasi dan cara berpikir. Banyak orang termasuk kalangan terdidik mudah percaya hoaks bukan karena kurang cerdas, tetapi karena terbiasa bereaksi cepat tanpa sempat berpikir kritis. Judul provokatif sering terasa lebih “meyakinkan” daripada data yang faktual.
Baca juga:Perpustakaan Masih Sekadar Rak Buku? UNM Jawab Tantangan Digital
Percaya Hoaks daripada Fakta?
Media sosial memperparah kondisi ini. Siapa pun kini bisa menjadi produsen informasi tanpa proses penyuntingan dan verifikasi. Akibatnya, ruang digital dipenuhi opini, potongan konteks, dan narasi emosional yang dikemas seolah-olah fakta. Ketika informasi datang bertubi-tubi, kebiasaan mengecek sumber perlahan ditinggalkan.
Faktor psikologis juga memainkan peran besar. Informasi yang sejalan dengan keyakinan pribadi atau emosi marah, takut, simpati lebih mudah diterima dan disebarkan. Hoaks memahami betul cara kerja emosi manusia, sementara fakta sering kali kalah menarik karena membutuhkan waktu untuk dipahami.
Di sinilah literasi informasi menjadi kunci. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca teks, tetapi kemampuan memilah, menganalisis, membandingkan, dan mengevaluasi kebenaran informasi. Tanpa literasi yang kuat, kita mudah terjebak manipulasi, meski hidup di tengah teknologi canggih.
Sebagai Kampus Digital Bisnis, Universitas Nusa Mandiri (UNM) memandang literasi digital sebagai kompetensi esensial, bukan pelengkap. Kampus tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga harus membentuk pola pikir kritis dalam memanfaatkan informasi. Mahasiswa perlu dibekali keberanian untuk bertanya tentang siapa sumbernya, apa datanya, dan untuk kepentingan apa informasi ini disebarkan?
Perpustakaan memiliki peran strategis dalam ekosistem ini. Perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku, tetapi ruang edukasi literasi. Melalui koleksi jurnal ilmiah, buku akademik, dan sumber terkurasi, perpustakaan menghadirkan alternatif yang kredibel di tengah hiruk-pikuk informasi viral. Di sinilah mahasiswa dilatih untuk kembali pada data, riset, dan argumen yang dapat dipertanggungjawabkan.
Baca juga:Perpustakaan UNM Dorong Manfaat Ergonomi untuk Mahasiswa Belajar Optimal
Melawan hoaks tidak cukup dengan teknologi pemfilteran atau klarifikasi semata. Yang lebih penting adalah membangun budaya berpikir kritis. Mahasiswa, sebagai kelompok intelektual, seharusnya menjadi penyaring informasi bagi lingkungannya bukan justru menjadi mata rantai penyebaran hoaks.
Pada akhirnya, literasi adalah investasi jangka panjang. Dengan literasi digital yang kuat, dukungan perpustakaan modern, dan ekosistem kampus yang adaptif, Universitas Nusa Mandiri berkomitmen mencetak lulusan yang tidak hanya cakap secara teknologi, tetapi juga bijak dalam menyikapi informasi. Di tengah banjir hoaks, kemampuan berpikir kritis adalah keunggulan yang sesungguhnya.










