NusamandiriNews–Ketika publik ramai membicarakan kiper yang mencetak gol ke gawang Real Madrid, kita diingatkan pada satu pesan penting: peran tidak selalu berhenti pada definisi lama. Dalam momen langka itu, penjaga gawang melampaui tugas utamanya dan menjadi penentu hasil pertandingan. Ia keluar dari zona yang selama ini dilekatkan padanya.
Di dunia literasi, pustakawan menghadapi tantangan yang serupa. Hingga hari ini, masih banyak yang memandang pustakawan sebatas penjaga rak buku, mengatur koleksi, mencatat peminjaman, memastikan buku kembali tepat waktu. Padahal, di tengah banjir informasi, hoaks, dan dominasi algoritma media sosial, peran pustakawan justru semakin strategis. Mereka adalah penjaga nalar publik.
Baca juga:Scroll Terus, Paham Kapan? Saatnya Kembali ke Literasi
Pustakawan Mencetak Gol
Literasi hari ini tidak lagi sekadar soal bisa membaca. Literasi adalah kemampuan memahami konteks, memverifikasi sumber, membedakan fakta dan opini, serta menyadari potensi manipulasi informasi. Di tengah arus informasi yang serba cepat dan sering kali menyesatkan, pustakawan hadir sebagai penunjuk arah. Mereka membantu masyarakat terutama mahasiswa agar tidak tersesat di lautan informasi digital.
Perpustakaan modern pun telah bertransformasi. Ia tidak lagi sekadar ruang sunyi yang dipenuhi rak, melainkan ruang dialog, refleksi, dan pembelajaran sepanjang hayat. Pustakawan mendampingi mahasiswa dan dosen bukan hanya untuk “mengakses informasi”, tetapi juga untuk memaknainya. Mulai dari penelusuran sumber ilmiah yang kredibel, pemahaman etika akademik, hingga pembentukan kebiasaan membaca yang sehat di tengah budaya scroll.
Peran ini nyata terlihat di Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis. Perpustakaan UNM tidak hanya menyediakan koleksi cetak dan digital, tetapi juga berfungsi sebagai ruang pembelajaran nalar kritis. Melalui layanan literasi informasi, pendampingan riset, dan pemanfaatan teknologi digital secara bijak, perpustakaan menjadi mitra akademik yang aktif bukan sekadar fasilitas pelengkap.
Baca juga:IPK Tinggi Tak Cukup, Saatnya Mahasiswa Melek Literasi!
Seperti kiper yang sesekali maju ke depan dan mencetak gol, pustakawan hari ini melampaui batas peran lama. Mereka hadir dalam diskusi akademik, penguatan riset, dan pembentukan budaya literasi digital yang sehat. Kerja mereka sering kali sunyi, jarang menjadi sorotan, tetapi dampaknya menentukan: memastikan nalar tidak kebobolan oleh disinformasi.
Pada akhirnya, kekuatan sebuah institusi pendidikan tidak hanya diukur dari kecanggihan teknologinya, tetapi dari kemampuannya menjaga cara berpikir warganya. Dan di Universitas Nusa Mandiri, peran itu dijaga melalui perpustakaan sebagai ruang pengetahuan, refleksi, dan pertahanan terakhir akal sehat di era digital.
Penulis: Dio Andre Nusa, Pustakawan Universitas Nusa Mandiri










