Menu

Mode Gelap
Universitas Nusa Mandiri Raih Klasterisasi Utama: Pengakuan atas Kinerja Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UNM Beri Penghargaan Inovasi Pada Mahasiswa dan Alumni Berprestasi UNM Terima Penghargaan Apresiasi Penggabungan Perguruan Tinggi Tahun 2021 Manfaat Teknologi Untuk Ketahui Kepribadian dan Kecerdasan Pada Anak Sarah, Mahasiswa UNM yang Aktif Kuliah Sambil Berbisnis UNM Gelar Pembekalan Internal Program Kampus Mengajar Angkatan 3 Tahun 2022

Opini

Ketika Pustakawan Mencetak Gol

badge-check


					Ketika Pustakawan Mencetak Gol Perbesar

NusamandiriNews–Ketika publik ramai membicarakan kiper yang mencetak gol ke gawang Real Madrid, kita diingatkan pada satu pesan penting: peran tidak selalu berhenti pada definisi lama. Dalam momen langka itu, penjaga gawang melampaui tugas utamanya dan menjadi penentu hasil pertandingan. Ia keluar dari zona yang selama ini dilekatkan padanya.

Di dunia literasi, pustakawan menghadapi tantangan yang serupa. Hingga hari ini, masih banyak yang memandang pustakawan sebatas penjaga rak buku, mengatur koleksi, mencatat peminjaman, memastikan buku kembali tepat waktu. Padahal, di tengah banjir informasi, hoaks, dan dominasi algoritma media sosial, peran pustakawan justru semakin strategis. Mereka adalah penjaga nalar publik.

Baca juga:Scroll Terus, Paham Kapan? Saatnya Kembali ke Literasi

Pustakawan Mencetak Gol

Literasi hari ini tidak lagi sekadar soal bisa membaca. Literasi adalah kemampuan memahami konteks, memverifikasi sumber, membedakan fakta dan opini, serta menyadari potensi manipulasi informasi. Di tengah arus informasi yang serba cepat dan sering kali menyesatkan, pustakawan hadir sebagai penunjuk arah. Mereka membantu masyarakat terutama mahasiswa agar tidak tersesat di lautan informasi digital.

Perpustakaan modern pun telah bertransformasi. Ia tidak lagi sekadar ruang sunyi yang dipenuhi rak, melainkan ruang dialog, refleksi, dan pembelajaran sepanjang hayat. Pustakawan mendampingi mahasiswa dan dosen bukan hanya untuk “mengakses informasi”, tetapi juga untuk memaknainya. Mulai dari penelusuran sumber ilmiah yang kredibel, pemahaman etika akademik, hingga pembentukan kebiasaan membaca yang sehat di tengah budaya scroll.

Peran ini nyata terlihat di Universitas Nusa Mandiri (UNM)  sebagai Kampus Digital Bisnis. Perpustakaan UNM tidak hanya menyediakan koleksi cetak dan digital, tetapi juga berfungsi sebagai ruang pembelajaran nalar kritis. Melalui layanan literasi informasi, pendampingan riset, dan pemanfaatan teknologi digital secara bijak, perpustakaan menjadi mitra akademik yang aktif bukan sekadar fasilitas pelengkap.

Baca juga:IPK Tinggi Tak Cukup, Saatnya Mahasiswa Melek Literasi!

Seperti kiper yang sesekali maju ke depan dan mencetak gol, pustakawan hari ini melampaui batas peran lama. Mereka hadir dalam diskusi akademik, penguatan riset, dan pembentukan budaya literasi digital yang sehat. Kerja mereka sering kali sunyi, jarang menjadi sorotan, tetapi dampaknya menentukan: memastikan nalar tidak kebobolan oleh disinformasi.

Pada akhirnya, kekuatan sebuah institusi pendidikan tidak hanya diukur dari kecanggihan teknologinya, tetapi dari kemampuannya menjaga cara berpikir warganya. Dan di Universitas Nusa Mandiri, peran itu dijaga melalui perpustakaan sebagai ruang pengetahuan, refleksi, dan pertahanan terakhir akal sehat di era digital.

Penulis: Dio Andre Nusa, Pustakawan Universitas Nusa Mandiri

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kuliah Biasa Sudah Usang Pilih Kampus Siap Kerja Sekarang

26 Maret 2026 - 12:11 WIB

Jangan Jadi Tentara Hoaks Bangun Literasi Digital Sekarang

13 Maret 2026 - 08:44 WIB

Bangun Literasi Digital Sekarang

Jago UI UX Sejak Kuliah Siap Rebut Peluang Karier Digital

12 Maret 2026 - 14:43 WIB

Jago UI UX Sejak Kuliah

Jangan Takut Skripsi Jadikan Penelitianmu Solusi Bisnis

12 Maret 2026 - 14:10 WIB

Jadikan Penelitianmu Solusi Bisnis

Bayangkan Kampus Tanpa Perpustakaan Masihkah Ilmu Punya Arah

11 Maret 2026 - 11:25 WIB

Kampus Tanpa Perpustakaan
Sedang Tren di Opini