Menu

Mode Gelap
Universitas Nusa Mandiri Raih Klasterisasi Utama: Pengakuan atas Kinerja Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UNM Beri Penghargaan Inovasi Pada Mahasiswa dan Alumni Berprestasi UNM Terima Penghargaan Apresiasi Penggabungan Perguruan Tinggi Tahun 2021 Manfaat Teknologi Untuk Ketahui Kepribadian dan Kecerdasan Pada Anak Sarah, Mahasiswa UNM yang Aktif Kuliah Sambil Berbisnis UNM Gelar Pembekalan Internal Program Kampus Mengajar Angkatan 3 Tahun 2022

Opini

Krisis Energi Mengancam, Lawan dengan Literasi Digital Sekarang!

badge-check


					Krisis Energi Mengancam, Lawan dengan Literasi Digital Sekarang! Perbesar

NusamandiriNews–Dunia sedang menghadapi apa yang bisa disebut sebagai “badai sempurna” di sektor energi. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara Iran dan Amerika Serikat yang berdampak pada jalur strategis Selat Hormuz, telah mengguncang stabilitas pasokan energi global. Harga minyak melonjak, distribusi gas alam cair (LNG) terganggu, dan efeknya mulai terasa hingga ke dalam negeri.

Bagi Indonesia, ini bukan sekadar isu global yang jauh dari keseharian. Dampaknya nyata mulai dari potensi kenaikan harga BBM hingga tekanan terhadap anggaran subsidi energi. Namun di tengah kompleksitas persoalan ini, ada satu aspek yang kerap luput dari perhatian: literasi digital.

Baca juga: Gelar Tak Lagi Cukup, Literasi Data Jadi Penentu Masa Depan

Literasi Digital Sekarang!

Dalam setiap krisis modern, perang tidak hanya terjadi di medan fisik, tetapi juga di ruang digital. Informasi yang beredar tidak selalu akurat. Rumor kelangkaan BBM, spekulasi kenaikan harga, hingga narasi provokatif dapat dengan cepat menyebar dan memicu kepanikan publik. Fenomena panic buying, misalnya, sering kali bukan dipicu oleh fakta, melainkan oleh informasi yang tidak terverifikasi.

Di sinilah literasi digital menjadi krusial. Masyarakat yang memiliki kemampuan literasi digital tidak akan mudah terjebak dalam arus disinformasi. Mereka mampu membedakan mana kebijakan resmi pemerintah dan mana sekadar opini atau manipulasi informasi. Kemampuan ini bukan lagi sekadar keterampilan tambahan, tetapi menjadi kebutuhan dasar dalam menjaga stabilitas sosial di tengah krisis.

Lebih jauh, literasi digital juga berperan dalam memahami konteks global. Pergerakan harga minyak dunia, dinamika geopolitik, hingga kebijakan energi internasional kini dapat diakses secara real-time. Namun tanpa kemampuan untuk membaca dan memahami data tersebut, informasi hanya akan menjadi angka tanpa makna.

Di sisi lain, tekanan terhadap anggaran subsidi energi menuntut pemerintah untuk lebih presisi dalam penyaluran bantuan. Digitalisasi menjadi solusi, mulai dari pendaftaran hingga distribusi subsidi berbasis platform. Namun, efektivitas sistem ini sangat bergantung pada kesiapan masyarakat dalam menggunakannya secara bijak dan aman.

Literasi digital tidak hanya soal kemampuan menggunakan aplikasi, tetapi juga kesadaran akan keamanan data pribadi dan kemampuan mengawal transparansi. Masyarakat yang melek digital dapat memastikan bahwa bantuan tepat sasaran, sekaligus mencegah potensi penyalahgunaan.

Ancaman lain yang tak kalah serius adalah meningkatnya risiko serangan siber terhadap infrastruktur energi. Sistem kelistrikan, distribusi gas, hingga layanan publik berbasis digital menjadi target potensial. Dalam kondisi ini, masyarakat yang memiliki kesadaran digital akan lebih siap menghadapi gangguan, tanpa mudah panik atau terprovokasi.

Bahkan pada level rumah tangga, literasi digital membuka peluang untuk efisiensi energi. Pemanfaatan teknologi seperti smart home dan Internet of Things (IoT) memungkinkan pengelolaan konsumsi energi yang lebih cerdas dan hemat, sebuah langkah kecil yang berdampak besar di tengah krisis.

Hal ini menegaskan satu hal penting tentang ketahanan energi tidak hanya ditentukan oleh cadangan minyak atau pasokan gas, tetapi juga oleh ketahanan informasi masyarakatnya. Bangsa yang mampu mengelola informasi dengan baik akan lebih tangguh menghadapi tekanan global.

Baca juga:Jangan Jadi Tentara Hoaks Bangun Literasi Digital Sekarang

Sebagai bagian dari Universitas Nusa Mandiri (UNM) yang dikenal sebagai Kampus Digital Bisnis, kami melihat literasi digital sebagai fondasi penting dalam membangun generasi yang adaptif dan kritis. Kampus tidak hanya bertugas mencetak lulusan, tetapi juga membentuk masyarakat yang mampu menghadapi tantangan zaman dengan nalar dan data.

Krisis energi mungkin tidak bisa kita hindari. Namun dampaknya bisa kita kelola. Kuncinya ada pada kemampuan kita sebagai masyarakat untuk tetap tenang, kritis, dan cerdas dalam menyikapi informasi.

Saatnya berhenti menjadi korban informasi. Saatnya menjadi masyarakat yang melek digital karena di era krisis, informasi yang benar adalah energi yang paling berharga.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Gen Z Tak Cukup Melek Teknologi, Naik Level atau Tersingkir!

6 April 2026 - 15:14 WIB

Gen Z Tak Cukup Melek Teknologi

Gelar Tak Lagi Cukup, Literasi Data Jadi Penentu Masa Depan

6 April 2026 - 14:55 WIB

Literasi Data Jadi Penentu Masa Depan

Berani Gagal atau Tertinggal? Saatnya Mahasiswa Informatika Bangun Startup Mindset!

6 April 2026 - 10:44 WIB

Mahasiswa Informatika Bangun Startup Mindset

AI Bantu Kuliah, Tapi Jangan Matikan Nalar Siapkah Kamu?

6 April 2026 - 10:25 WIB

AI Bantu Kuliah

Jangan Jadi Penonton, Saatnya Mahasiswa Kuasai Kreativitas Digital!

6 April 2026 - 09:36 WIB

Mahasiswa Kuasai Kreativitas Digital!
Sedang Tren di Opini