NusamandiriNews–Indonesia dikenal sebagai bangsa yang kaya budaya dan memiliki potensi sumber daya manusia yang besar. Namun, di balik optimisme tersebut, ada satu tantangan mendasar yang terus membayangi cita-cita kemajuan pendidikan nasional: budaya membaca. Di era digital, ketika informasi begitu mudah diakses, minat baca dan kualitas literasi justru belum sepenuhnya sejalan dengan harapan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat literasi dasar kemampuan membaca dan menulis penduduk Indonesia telah mencapai sekitar 96,67 persen pada 2025. Angka ini terlihat menggembirakan. Namun, literasi tidak berhenti pada kemampuan teknis membaca huruf. Pertanyaan yang lebih penting adalah: seberapa sering dan seberapa dalam kita membaca?
Baca juga:Perpustakaan Masih Sekadar Rak Buku? UNM Jawab Tantangan Digital
Literasi Kita Tinggi
Fakta lain menunjukkan tantangan yang lebih serius. Survei Perpustakaan Nasional mencatat Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) Indonesia berada di angka 66,77 pada 2023 dan meningkat menjadi 72,44 pada 2024. Meski trennya positif, angka ini masih menunjukkan bahwa membaca belum menjadi kebiasaan kuat dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, hanya sekitar 44,56 persen pelajar yang rutin mengunjungi perpustakaan atau taman bacaan. Ini menandakan eksplorasi pengetahuan secara mendalam belum menjadi budaya dominan.
Fenomena ini tidak lepas dari perubahan cara manusia mengonsumsi informasi. Di era digital, masyarakat termasuk mahasiswa lebih akrab dengan scroll, ringkasan instan, dan konten singkat. Informasi dikonsumsi cepat, tetapi sering kali dangkal. Judul dibaca, isi diabaikan. Opini diterima tanpa verifikasi. Akibatnya, kemampuan membaca panjang, berpikir kritis, dan refleksi mendalam semakin tergerus.
Di sinilah perguruan tinggi memiliki peran strategis. Kampus tidak boleh hanya menjadi tempat transfer pengetahuan, tetapi harus menjadi ruang pembentukan budaya literasi yang matang. Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis menyadari bahwa literasi tradisional dan literasi digital tidak boleh dipertentangkan. Keduanya harus dijembatani.
Pendekatan UNM tidak berhenti pada digitalisasi materi kuliah. Perpustakaan digital, akses referensi ilmiah elektronik, serta pelatihan literasi informasi diintegrasikan ke dalam ekosistem pembelajaran. Mahasiswa tidak hanya diajarkan cara mencari informasi, tetapi juga bagaimana menilai kredibilitas sumber, mengolah data secara kritis, dan menggunakannya secara etis serta bertanggung jawab.
Baca juga: Perpustakaan Jadi Sekutu Tersembunyi Mahasiswa Skripsi di Era Digital
Bagi saya sebagai pustakawan, literasi bukan sekadar soal buku atau teknologi. Literasi adalah soal cara berpikir. Di tengah banjir informasi, mahasiswa perlu dilatih untuk melambat membaca dengan sadar, menganalisis dengan nalar, dan menarik kesimpulan dengan akal sehat. Perpustakaan, baik fisik maupun digital, menjadi ruang penting untuk proses tersebut.
Jika Indonesia ingin benar-benar maju, kita tidak cukup hanya bangga pada tingginya angka melek huruf. Kita harus berani mengakui bahwa budaya membaca mendalam masih menjadi pekerjaan rumah besar. Kampus, perpustakaan, dan pustakawan harus berdiri di garda depan untuk mengakhiri ilusi pintar digital dan menggantinya dengan literasi yang kritis, reflektif, dan berdaya guna.
Penulis: Dio Andre Nusa, Pustakawan Universitas Nusa Mandiri










