NusamandiriNews–Di era serba digital, ada satu kebiasaan yang seharusnya sudah pension, mencari referensi akademik dengan cara ribet, lambat, dan serba manual. Ironisnya, kebiasaan ini masih sering terjadi di lingkungan kampus—bahkan di kalangan mahasiswa yang setiap hari akrab dengan gawai dan internet. Banyak yang mengeluh sulit menemukan buku, jurnal, atau referensi ilmiah, padahal sistemnya sudah tersedia. Masalahnya bukan pada teknologinya, tapi pada cara kita memanfaatkannya.
Sebagai pustakawan di Universitas Nusa Mandiri (UNM), saya melihat langsung perubahan besar dalam dunia perpustakaan. Perpustakaan hari ini bukan lagi sekadar ruang sunyi penuh rak buku. Di UNM yang dikenal Kampus Digital Bisnis, perpustakaan adalah mesin pencari pengetahuan dan Online Public Access Catalog (OPAC) adalah pintu masuk utamanya.
Baca juga: Literasi Kita Tinggi, Membaca Kita Rendah
OPAC Bukan Pajangan Digital
OPAC Universitas Nusa Mandiri bisa diakses melalui laman e-library resmi. Dengan beberapa klik, sivitas akademika dapat menelusuri buku, jurnal, referensi digital, hingga koleksi ilmiah lainnya kapan saja dan dari mana saja. Tidak perlu lagi berkeliling rak tanpa arah, atau bertanya satu per satu apakah buku yang dicari masih tersedia.
Namun di sinilah letak persoalannya, teknologi secanggih apa pun akan percuma jika hanya jadi pajangan digital. OPAC UNM dirancang bukan sekadar formalitas sistem. Fitur pencariannya memungkinkan pengguna menelusuri koleksi berdasarkan judul, nama pengarang, subjek, hingga kata kunci spesifik, lengkap dengan informasi ketersediaan koleksi secara real time. Artinya, mahasiswa dan dosen bisa langsung tahu apakah bahan pustaka itu ada, sedang dipinjam, atau siap digunakan.
Ini bukan soal gaya-gayaan digital, ini soal efisiensi akademik. Di tengah tuntutan tugas, riset, dan publikasi ilmiah yang semakin tinggi, waktu menjadi aset paling mahal. OPAC membantu memangkas waktu pencarian referensi, sehingga energi bisa difokuskan pada analisis, penulisan, dan pengembangan gagasan. Inilah wajah baru perpustakaan yang relevan dengan kebutuhan generasi digital.
Transformasi ini sejalan dengan komitmen Universitas Nusa Mandiri sebagai Kampus Digital Bisnis. Digitalisasi perpustakaan bukan tujuan akhir, melainkan strategi untuk mendukung pembelajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat secara lebih adaptif dan terintegrasi.
Baca juga: Scroll Terus, Paham Kapan? Saatnya Kembali ke Literasi
Sebagai pustakawan, saya tidak ingin perpustakaan dipandang sebagai ruang terakhir yang dikunjungi saat terdesak. Perpustakaan melalui OPAC harus menjadi titik awal pencarian ilmu. Tempat pertama yang dibuka, bukan pilihan cadangan. OPAC UNM sudah dirancang user-friendly. Tidak perlu keahlian khusus. Cukup niat untuk mencoba dan kebiasaan untuk memanfaatkan. Karena di era digital, literasi bukan hanya soal bisa membaca, tapi mampu menemukan informasi yang tepat dengan cara yang cerdas.
Jadi, jika hari ini masih ada yang merasa sulit mencari referensi, mungkin pertanyaannya bukan: “Sistemnya kurang bagus?” Melainkan: “Sudahkah kita benar-benar menggunakan yang sudah tersedia?” Saatnya berhenti mencari ilmu dengan cara lama. Buka OPAC, temukan referensimu, dan biarkan teknologi bekerja untuk akademikmu.
Penulis: Dio Andre Nusa, Pustakawan,Universitas Nusa Mandiri










