NusamandiriNews–Perpustakaan hari ini memang ramai. Di banyak kampus, termasuk Universitas Nusa Mandiri (UNM), kursi penuh, laptop menyala, dan suara keyboard jadi musik pengiring aktivitas akademik. Sekilas, ini terlihat sebagai kabar baik: mahasiswa kembali ke perpustakaan. Tapi tunggu dulu, apakah mereka benar-benar membaca, atau sekadar mencari tempat nyaman untuk mengerjakan tugas, scrolling media sosial, atau mengisi waktu menunggu kelas?
Fenomena ini bukan sekadar kritik, tapi alarm bagi dunia akademik. Buku di rak tetap tersusun rapi, tapi interaksi dengan bacaan semakin minim. Mahasiswa lebih cepat menelan ringkasan instan, menonton video pendek, atau membaca slide power point, daripada menelaah buku secara mendalam. Budaya membaca perlahan tergantikan oleh budaya klik dan swipe.
Baca juga:Literasi Kita Tinggi, Membaca Kita Rendah
Perpustakaan Ramai, Tapi Buku Masih Sepi?
Sebagai pustakawan di Kampus Digital Bisnis, saya melihat tantangan ini sebagai peluang. Perpustakaan modern memang harus adaptif, nyaman, dan digital-friendly. Tapi fasilitas canggih dan Wi-Fi cepat saja tidak cukup. Esensi perpustakaan tetap membangun cara berpikir kritis dan reflektif melalui buku, diskusi, dan literasi informasi yang sehat.
Perpustakaan kampus harus menjadi jembatan antara mahasiswa dan tradisi membaca yang mendalam. Ramai secara fisik boleh, tapi yang lebih penting adalah ramai secara intelektual: diskusi berkelas, pertukaran gagasan, dan konfrontasi perspektif. Di situlah mahasiswa belajar tidak sekadar menerima informasi, tapi menganalisis, menafsirkan, dan mengambil kesimpulan kritis.
Baca juga:Scroll Terus, Paham Kapan? Saatnya Kembali ke Literasi
Budaya membaca memang menuntut waktu, kesabaran, dan konsentrasi tidak bisa instan seperti kopi dingin. Namun, dari proses itu lah lahir pengetahuan yang mendalam, yang menjadi fondasi sumber daya manusia unggul. Tanpa budaya membaca, keramaian perpustakaan hanyalah dekorasi digital dan deretan kursi penuh, bukan inkubator intelektual.
Mahasiswa UNM, jangan cuma datang untuk Wi-Fi. Klik buku, buka pikiran, dan jadikan perpustakaan lebih dari sekadar ruang nongkrong. Literasi digital dan membaca mendalam harus berjalan beriringan.
Penulis: Dio Andre Nusa, PustakawanUniversitas Nusa Mandiri










