NusamandiriNews–Ramadan selalu dikenang sebagai bulan ibadah, pengendalian diri, dan refleksi spiritual. Namun, jika ditarik lebih dalam, Ramadan juga merupakan bulan literasi. Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW bukanlah perintah ritual, melainkan perintah membaca. Sebuah pesan kuat bahwa ilmu dan pencarian pengetahuan adalah fondasi peradaban.
Dalam konteks perguruan tinggi, makna ini menjadi sangat relevan. Jika Ramadan adalah ruang pencerahan spiritual, maka perpustakaan adalah ruang pencerahan intelektual. Keduanya tidak berdiri terpisah. Keduanya justru saling melengkapi dalam membentuk insan akademik yang beretika, reflektif, dan berpikir kritis.
Baca juga: Scroll Terus, Paham Kapan? Saatnya Kembali ke Literasi
Kampus Kembali Membaca
Sejarah peradaban Islam mencatat bahwa kejayaan ilmu lahir dari kuatnya tradisi literasi. Bayt al-Hikmah di Baghdad menjadi simbol bagaimana spiritualitas dan keilmuan berjalan beriringan. Ilmu diterjemahkan, dikaji, dan dikembangkan bukan sekadar untuk pengetahuan, tetapi untuk kemaslahatan umat. Semangat inilah yang patut dihidupkan kembali di kampus-kampus modern hari ini.
Ramadan sejatinya memberi ruang yang ideal bagi dunia akademik untuk memperlambat ritme, lalu memperdalam makna. Di bulan ini, mahasiswa dan dosen memiliki momentum untuk kembali pada esensi belajar: membaca dengan utuh, menulis dengan jujur, dan berpikir dengan jernih. Ramadan adalah waktu yang tepat untuk menyelesaikan bacaan yang tertunda, memperdalam literatur riset, mengembangkan gagasan ilmiah, sekaligus memperkuat etika akademik.
Di sinilah perpustakaan kampus memainkan peran strategis. Perpustakaan bukan sekadar tempat meminjam buku atau memenuhi kewajiban administratif, tetapi ruang sunyi yang produktif, tempat ide tumbuh, argumen diuji, dan nalar diasah. Di tengah hiruk-pikuk dunia digital, perpustakaan menjadi penyeimbang antara kecepatan informasi dan kedalaman pemahaman.
Sebagai Kampus Digital Bisnis, Universitas Nusa Mandiri (UNM) memahami bahwa transformasi teknologi harus berjalan seiring dengan penguatan literasi. Perpustakaan tidak ditinggalkan oleh digitalisasi, justru diperkuat olehnya. Akses jurnal elektronik, repositori ilmiah, dan layanan literasi digital menjadi jembatan antara nilai tradisi membaca dan kebutuhan akademik masa kini.
Baca juga:IPK Tinggi Tak Cukup, Saatnya Mahasiswa Melek Literasi!
Ramadan juga mengingatkan dunia akademik bahwa produktivitas bukan sekadar soal kuantitas, tetapi kualitas. Membaca bukan hanya untuk menyelesaikan tugas, menulis bukan semata mengejar publikasi, dan riset bukan sekadar memenuhi target. Semuanya harus dilandasi integritas, kejujuran ilmiah, dan tanggung jawab intelektual, nilai-nilai yang sejalan dengan spirit Ramadan.
Sudah saatnya Ramadan tidak dipandang sebagai bulan penurunan aktivitas akademik. Justru sebaliknya, ia adalah bulan pemurnian cara belajar. Kampus yang kuat bukan hanya yang adaptif terhadap teknologi, tetapi yang mampu menjaga kedalaman berpikir warganya.
Karena pada akhirnya, membaca adalah ibadah intelektual. Dan perpustakaan adalah ruang yang menjaga ibadah itu tetap hidup. Ramadan ini, mari kembali membaca. Dari perpustakaan, untuk masa depan kampus dan bangsa.
Penulis: Dio Andre Nusa, Pustakawan Universitas Nusa Mandiri Universitas Nusa Mandiri










