NusamandiriNews–Budaya membaca di era digital tengah mengalami pergeseran besar. Informasi kini hadir serba cepat, ringkas, dan instan, cukup dengan menggulir layar ponsel. Judul dibaca, isi sering dilewati. Fenomena ini memunculkan pertanyaan mendasar yakni di tengah melimpahnya informasi digital, apakah perpustakaan masih relevan?
Kemudahan akses informasi ternyata tidak selalu sejalan dengan kualitas pemahaman. Budaya scroll mendorong konsumsi informasi secara cepat, tetapi kerap dangkal. Banyak orang berhenti pada judul, menerima informasi tanpa verifikasi, bahkan sulit membedakan antara fakta, opini, dan hoaks. Inilah tantangan literasi nyata di era digital bukan soal kurangnya informasi, melainkan lemahnya kemampuan memahami dan mengolahnya.
Baca juga: IPK Tinggi Tak Cukup, Saatnya Mahasiswa Melek Literasi!
Scroll Terus, Paham Kapan?
Literasi sejatinya bukan sekadar bisa membaca, tetapi mampu memahami, menganalisis, dan menggunakan informasi secara kritis dan bertanggung jawab. Di titik inilah peran perpustakaan menjadi krusial. Perpustakaan bukan hanya ruang penyimpanan buku, melainkan ruang pembelajaran yang menghadirkan sumber pengetahuan kredibel, terkurasi, dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
Perkembangan teknologi justru mendorong perpustakaan untuk bertransformasi. Kehadiran perpustakaan digital menjawab kebutuhan generasi yang akrab dengan teknologi tanpa menghilangkan esensi literasi mendalam. Akses jurnal ilmiah, buku elektronik, dan referensi akademik kini dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Yang berubah adalah medium, bukan nilai literasinya.
Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis, UNM memahami bahwa integrasi teknologi dan literasi adalah kunci pendidikan masa depan. Melalui layanan perpustakaan digital dan sistem pembelajaran berbasis teknologi, mahasiswa didorong tidak hanya mahir menggunakan perangkat digital, tetapi juga bijak dalam memanfaatkan informasi. Di kampus digital, literasi menjadi fondasi kecakapan intelektual.
Baca juga:Dunia Memanas, Siapkah Cara Pikir Kita? UNM Perkuat Literasi Mahasiswa
Perpustakaan di lingkungan kampus digital berperan sebagai penjaga nalar akademik. Ia mendukung riset, inovasi, dan pengembangan wawasan mahasiswa. Mahasiswa tidak hanya diajarkan cara mencari informasi, tetapi juga bagaimana memilih sumber yang valid dan mengolahnya menjadi pengetahuan yang bermakna.
Di tengah derasnya arus informasi digital, perpustakaan tidak kehilangan relevansinya. Justru sebaliknya, ia semakin penting. Teknologi bukan pengganti perpustakaan, melainkan alat untuk memperkuat perannya. Jika generasi hari ini ingin melampaui sekadar scroll, maka literasi harus menjadi pilihan sadar. Saatnya kembali membaca dengan nalar, bukan sekadar menggulir layar.
Penulis: Dio Andre Nusa, Pustakawan Universitas Nusa Mandiri










