NusamandiriNews–Di era digital yang serba cepat ini, opini publik di media sosial bukan sekadar percakapan ringan di dunia maya, ia telah menjadi sumber data yang sangat berharga. Setiap komentar di X (Twitter), setiap unggahan di Instagram, dan setiap reaksi di TikTok menyimpan pola pikir, emosi, dan pandangan masyarakat yang bisa diolah menjadi insight strategis. Inilah era di mana data adalah suara publik, dan kemampuan memahami suara itu menjadi salah satu keterampilan paling dibutuhkan di berbagai bidang, mulai dari bisnis, politik, hingga penelitian sosial.
Melalui pendekatan yang disebut analisis sentimen, kita dapat mengetahui bagaimana persepsi masyarakat terhadap suatu isu, produk, kebijakan, atau bahkan tokoh publik. Proses ini tidak sederhana, ia melibatkan pengumpulan data dari berbagai platform media sosial, kemudian pembersihan data dari noise atau spam, dan dilanjutkan dengan penerapan algoritma Machine Learning seperti Naive Bayes dan Decision Tree untuk mengelompokkan opini menjadi positif, negatif, atau netral.
Baca juga: Jangan Hanya Jadi Penonton di Era AI
Menguasai Data
Kemampuan ini menuntut dua jenis kecerdasan sekaligus yakni kecerdasan teknis dalam mengelola data, dan kecerdasan sosial dalam memahami perilaku manusia di ruang digital. Kedua aspek ini menjadi kunci agar analisis data tidak sekadar angka, tetapi juga mampu menangkap makna di balik emosi publik.
Sebagai Kampus Digital Bisnis, Universitas Nusa Mandiri (UNM) memahami betul bahwa masa depan industri ditentukan oleh mereka yang mampu menerjemahkan data menjadi keputusan. Karena itu, melalui Program Studi Sains Data, kami menghadirkan kurikulum yang dirancang secara komprehensif dan kontekstual terhadap kebutuhan zaman. Mahasiswa tidak hanya mempelajari teori data science, tetapi juga praktik langsung menggunakan tools modern seperti Python, Google Colab, dan Kaggle Dataset.
Kami menerapkan metode pembelajaran berbasis proyek, di mana mahasiswa diajak melakukan riset nyata terhadap isu sosial dan ekonomi yang sedang hangat di media digital. Dengan demikian, mereka tidak hanya belajar “mengolah data,” tetapi juga belajar “membaca masyarakat.”
Saya sering menyampaikan kepada mahasiswa, “Generasi muda harus mampu membaca arah opini publik digital melalui data. Dengan memahami analisis sentimen, mereka bisa menjadi pengambil keputusan yang cerdas baik di dunia bisnis, pemerintahan, maupun penelitian sosial.”
Program Studi Sains Data di Universitas Nusa Mandiri dirancang untuk mencetak lulusan yang siap menghadapi dunia industri digital. Lulusan kami diarahkan menjadi data analyst, AI engineer, social media researcher, hingga business intelligence specialist. Semua itu didukung dengan fasilitas pembelajaran modern, biaya kuliah yang terjangkau mulai dari Rp680.000 per bulan, serta bebas SSP (Sumbangan Sarana dan Prasarana), agar pendidikan berkualitas tetap mudah dijangkau.
Baca juga: Ketika AI Gagal Menggantikan Empati
Saat ini, Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) tahun akademik 2026 untuk Universitas Nusa Mandiri Kampus Margonda telah dibuka. Calon mahasiswa dapat mendaftar secara daring melalui pmb.nusamandiri.ac.id atau aplikasi MyNusa PMB di Playstore.
Di tengah derasnya arus informasi dan opini publik yang terus berubah setiap detik, kemampuan membaca data berarti kemampuan membaca masa depan. Karena itu, jika kamu ingin menjadi bagian dari generasi yang tidak hanya mengikuti tren digital tetapi juga mampu menafsirkan arah perubahan, maka Program Studi Sains Data di Kampus Digital Bisnis Universitas Nusa Mandiri adalah langkah awal terbaik untuk mewujudkannya.
Penulis: Andry Maulana, Kepala Kampus Universitas Nusa Mandiri kampus Margonda










