NusamandiriNews–“Pengen punya bisnis sih… tapi belum ada modal.” Kalimat ini kerap terdengar di kalangan mahasiswa. Namun jika ditelusuri lebih dalam, persoalan utama sering kali bukan soal uang, melainkan keberanian untuk memulai dari potensi yang sudah dimiliki.
Faktanya, banyak bisnis mahasiswa lahir bukan dari modal besar, melainkan dari skill sederhana yang diasah secara konsisten. Di era digital saat ini, skill justru menjadi aset paling berharga bahkan kerap melampaui peran modal uang.
Mulai dari Skill, Bukan dari Uang
Di lingkungan kampus, peluang itu sebenarnya sangat dekat. Mahasiswa yang mahir desain grafis dapat menjadi freelancer. Yang piawai mengedit video bisa membuka jasa konten kreator. Kemampuan public speaking dapat dikembangkan menjadi MC acara atau kelas kecil. Bahkan hobi memasak dan meracik kopi pun berpotensi menjadi bisnis.
Baca juga:Modal Tipis Bukan Alasan, Mahasiswa Bisa Mulai Bisnis dari Skill
Sayangnya, banyak mahasiswa menganggap skill mereka “biasa saja”. Padahal, dalam dunia bisnis, skill yang tampak sederhana bisa menjadi bernilai tinggi jika dikemas dengan tepat.
Ada tiga langkah awal yang bisa dilakukan mahasiswa:
1. Mengenali skill yang paling sering diapresiasi orang lain
2. Menguji coba ke lingkar pertemanan terdekat
3. Memperbaiki layanan berdasarkan masukan awal
Bisnis tidak selalu harus dimulai dengan rencana besar. Yang terpenting adalah keberanian untuk menjual kemampuan yang sudah ada.

Modal Minim, Strategi Harus Maksimal
Perkembangan teknologi digital membuat keterbatasan modal bukan lagi hambatan utama. Media sosial gratis, marketplace, hingga berbagai tools digital memungkinkan mahasiswa memulai bisnis tanpa harus menyewa tempat atau menyiapkan stok besar.
Yang jauh lebih menentukan justru konsistensi, positioning yang jelas, serta pemahaman terhadap target pasar. Banyak mahasiswa terjebak pada pola pikir harus memiliki modal jutaan rupiah terlebih dahulu. Padahal, sering kali yang dibutuhkan hanya kuota internet, kemauan belajar, dan keberanian untuk memulai langkah pertama.
Peran Kampus Digital Bisnis
Sebagai Kampus Digital Bisnis, Universitas Nusa Mandiri (UNM) berkomitmen mendorong mahasiswa agar tidak hanya berorientasi menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta peluang. Lingkungan akademik yang adaptif terhadap perkembangan teknologi membuat mahasiswa lebih siap mengubah skill digital menjadi peluang bisnis nyata.
Mahasiswa Universitas Nusa Mandiri tidak hanya dibekali teori di ruang kelas, tetapi juga didorong mengembangkan potensi diri agar relevan dengan kebutuhan industri dan pasar. Peran Nusa Mandiri Entrepreneur Center (NEC) menjadi bagian penting dalam proses tersebut, sebagai wadah diskusi, pendampingan, dan penguatan mindset kewirausahaan.
Kepala Nusa Mandiri Entrepreneur Center (NEC), Maruloh, menilai banyak mahasiswa sebenarnya telah memiliki potensi, namun belum cukup percaya diri untuk memulainya.
“Sering kali mahasiswa merasa harus punya modal besar dulu untuk mulai bisnis. Padahal yang utama adalah skill dan kemauan belajar. Di NEC, kami mendorong mahasiswa berani memanfaatkan kemampuan yang mereka miliki, meskipun dengan modal minim,” ujarnya dalam keterangan rilis, pada Jumat (13/2).
Ia menegaskan bahwa proses jauh lebih penting daripada hasil instan. “Bisnis bukan soal langsung besar, tetapi tentang konsisten berkembang. Mulai saja dari yang kecil, lalu perbaiki pelan-pelan.”
Lebih dari Sekadar Penghasilan
Menariknya, ketika mahasiswa mulai bisnis dari skill, mereka tidak hanya memperoleh penghasilan tambahan. Mereka juga belajar menghadapi klien, mengatur waktu, mengelola keuangan, hingga membangun kepercayaan diri, pengalaman yang tidak selalu didapat dari teori semata.
Pada akhirnya, bisnis bukan hanya soal keuntungan, melainkan proses bertumbuh. Maka, jika hari ini masih ragu memulai karena modal minim, mungkin pertanyaannya perlu diubah. Bukan lagi “punya uang berapa?”, tetapi “skill apa yang bisa dijual hari ini?” Karena bisa jadi, langkah kecil dari skill sederhana itulah yang kelak berkembang menjadi bisnis besar.










