NusamandiriNews–Di era digital saat ini, setiap orang bukan hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga sekaligus penyebarnya. Satu unggahan di media sosial, satu video yang dibagikan di grup WhatsApp, atau satu komentar di platform digital dapat menjangkau ribuan orang dalam waktu singkat. Tanpa disadari, kita bisa menjadi bagian dari rantai penyebaran informasi yang belum tentu benar.
Inilah alasan mengapa literasi digital menjadi sangat penting. Tanpa kemampuan literasi digital yang baik, seseorang dapat menjadi “prajurit propaganda” tanpa sadar. Di tengah derasnya arus informasi global, masyarakat dituntut mampu membedakan antara fakta, opini, propaganda, hingga disinformasi yang sengaja disebarkan untuk memengaruhi persepsi publik.
Baca juga: Literasi Kita Tinggi, Membaca Kita Rendah
Bangun Literasi Digital Sekarang
Fenomena ini terlihat jelas dalam berbagai konflik internasional yang kini hadir langsung di layar ponsel kita. Peristiwa geopolitik tidak lagi hanya terjadi di ruang diplomasi atau medan perang, tetapi juga di ruang digital. Video, foto, infografis, hingga narasi yang beredar di media sosial sering kali membentuk persepsi publik sebelum fakta yang sebenarnya dapat diverifikasi.
Bagi masyarakat Indonesia, situasi ini memiliki dampak yang cukup besar. Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah pengguna media sosial terbesar di dunia. Dengan karakter masyarakat yang aktif berinteraksi di ruang digital, arus informasi global dengan cepat masuk ke dalam ruang percakapan publik baik di media sosial maupun di grup percakapan pribadi.
Sayangnya, tidak semua informasi tersebut akurat. Salah satu bentuk disinformasi yang sering muncul adalah misatribusi visual, yaitu penggunaan foto atau video dari peristiwa lama yang kemudian diklaim sebagai kejadian terbaru. Tidak jarang pula potongan adegan film atau dokumentasi konflik dari negara lain disebarkan seolah-olah berasal dari peristiwa yang sedang berlangsung.
Selain itu, ada pula framing selektif, yaitu praktik penyajian fakta yang hanya menampilkan bagian tertentu dari sebuah peristiwa sehingga membentuk narasi yang bias. Fakta yang tidak sesuai dengan narasi tersebut sering kali diabaikan, sehingga publik memperoleh gambaran yang tidak utuh.
Bentuk lain yang juga sering ditemukan adalah hoaks eskalasi, yaitu informasi palsu yang menyebutkan adanya perang besar, penggunaan senjata nuklir, atau mobilisasi militer skala global. Informasi semacam ini biasanya dirancang untuk memicu kepanikan dan emosi publik.
Tidak kalah penting adalah peran bot dan troll farm, yaitu akun-akun terkoordinasi yang secara sistematis menyebarkan konten provokatif hingga menjadi viral. Konten tersebut kemudian terlihat seolah-olah mewakili opini mayoritas, padahal sebenarnya merupakan hasil manipulasi algoritma.
Dalam situasi seperti ini, literasi digital menjadi benteng utama bagi masyarakat. Pertama, masyarakat perlu membangun kemampuan verifikasi informasi. Sebelum membagikan suatu konten, penting untuk menanyakan beberapa hal mendasar: siapa sumber informasi tersebut, kapan informasi itu dipublikasikan, dan apakah ada media kredibel lain yang memverifikasinya. Saat ini tersedia berbagai alat digital yang dapat membantu memeriksa keaslian gambar maupun video.
Kedua, masyarakat perlu memiliki kesadaran terhadap bias media. Setiap media memiliki perspektif editorial tertentu yang memengaruhi cara mereka menyajikan berita. Oleh karena itu, membaca informasi dari lebih dari satu sumber dengan perspektif yang berbeda dapat membantu membangun pemahaman yang lebih seimbang.
Ketiga, penting untuk memahami cara kerja algoritma media sosial. Platform digital cenderung menampilkan konten yang sesuai dengan preferensi pengguna, sehingga menciptakan apa yang disebut sebagai filter bubble. Akibatnya, seseorang hanya terpapar pada informasi yang menguatkan keyakinannya sendiri. Dalam konteks konflik global, situasi ini dapat memperdalam polarisasi opini di masyarakat.
Literasi digital bukan berarti masyarakat tidak boleh memiliki sikap atau pandangan terhadap suatu isu. Menyuarakan nilai kemanusiaan, mendukung perdamaian, atau mengkritik tindakan yang dianggap tidak adil merupakan bagian dari kebebasan berpendapat.
Baca juga: Scroll Terus, Paham Kapan? Saatnya Kembali ke Literasi
Namun sikap tersebut seharusnya dibangun di atas fondasi informasi yang benar, bukan berdasarkan hoaks yang dikemas dalam narasi emosional atau propaganda.
Sebagai bagian dari ekosistem pendidikan tinggi, Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis juga menempatkan literasi informasi dan literasi digital sebagai kompetensi penting bagi mahasiswa. Di tengah era informasi yang begitu cepat dan kompleks, kemampuan berpikir kritis menjadi kunci agar generasi muda tidak mudah terjebak dalam arus manipulasi informasi.
Pada akhirnya, perang informasi di ruang digital tidak hanya terjadi antarnegara, tetapi juga berlangsung di dalam masyarakat itu sendiri. Dan di tangan warga negara yang memiliki literasi digital yang kuat, informasi tidak lagi menjadi alat propaganda, melainkan menjadi kekuatan untuk membangun pemahaman, empati, dan perdamaian.
Penulis: Ricky Sediawan, Pustakawan Universitas Nusa Mandiri










