NusamandiriNews–Masih banyak calon mahasiswa yang mengurungkan niat memilih jurusan berbasis teknologi karena satu kekhawatiran klasik: tidak bisa coding. Kekhawatiran ini kerap membuat Sains Data atau bidang sejenis dianggap “hanya untuk yang sudah ahli”. Padahal, cara pandang tersebut tidak lagi relevan di tengah kebutuhan industri yang terus berubah.
Di era ekonomi digital, data telah menjadi fondasi utama dalam hampir setiap pengambilan keputusan. Aktivitas sederhana seperti berbelanja online, menggunakan media sosial, hingga memesan transportasi menghasilkan jejak data yang sangat besar. Persoalannya bukan lagi siapa yang bisa mengakses data, tetapi siapa yang mampu membaca, memahami, dan mengolahnya menjadi keputusan strategis.
Baca juga:Sains Data Bukan Cuma untuk Anak IPA Saatnya Berani Daftar dan Kuasai Masa Depan
Jangan Takut Coding
Dalam konteks ini, kemampuan teknis seperti coding memang penting, tetapi bukan satu-satunya kunci. Yang jauh lebih mendasar adalah pola pikir analitis, rasa ingin tahu, serta kemampuan memecahkan masalah. Tanpa itu, penguasaan teknologi hanya akan berhenti pada level operasional, bukan solusi.
Saya melihat banyak kesalahpahaman yang perlu diluruskan. Coding hanyalah alat. Ia digunakan untuk membantu mengolah data, membangun model, dan menciptakan sistem. Namun, arah dari semua itu ditentukan oleh kemampuan manusia dalam memahami masalah.
Di sinilah letak nilai sesungguhnya: pada cara berpikir, bukan sekadar keterampilan teknis. Dunia kerja saat ini tidak hanya mencari individu yang mampu menjalankan perintah sistem, tetapi mereka yang mampu bertanya, menganalisis, dan mengambil keputusan berbasis data. Perusahaan membutuhkan talenta yang dapat membaca pola perilaku konsumen, memprediksi tren pasar, hingga merancang strategi berbasis insight, bukan sekadar intuisi.
Menariknya, bidang ini justru terbuka bagi siapa saja. Latar belakang bukan lagi penghalang utama. Mahasiswa dengan kekuatan di bidang komunikasi, bisnis, atau bahkan sosial memiliki peluang yang sama untuk berkembang. Dalam praktiknya, pengolahan data membutuhkan perspektif yang beragam. Data bukan hanya angka, tetapi representasi dari perilaku manusia yang kompleks.
Di Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis, pendekatan pembelajaran dirancang untuk menjawab kebutuhan tersebut. Mahasiswa tidak dituntut datang sebagai ahli, tetapi dibimbing dari dasar hingga mampu menguasai kompetensi yang dibutuhkan industri. Kurikulum dikembangkan secara bertahap, menggabungkan aspek teknis, analitis, dan bisnis dalam satu ekosistem pembelajaran yang adaptif.
Yang tidak kalah penting, mahasiswa juga didorong untuk memahami konteks. Sebab data tanpa pemahaman hanya akan menjadi angka. Sementara data yang diolah dengan perspektif yang tepat dapat menjadi strategi, inovasi, bahkan solusi bagi berbagai persoalan.
Baca juga:Gak Mau Ketinggalan? Sains Data Jadi Jurusan Paling Dicari di 2026!
Ke depan, kebutuhan terhadap talenta berbasis data akan terus meningkat. Hampir semua sektor mulai dari bisnis, kesehatan, pemerintahan, hingga industri kreatif bergantung pada kemampuan membaca dan memanfaatkan data. Artinya, peluang terbuka lebar bagi mereka yang siap belajar, bukan hanya bagi mereka yang sudah mahir sejak awal.
Karena itu, sudah saatnya cara pandang terhadap dunia digital diubah. Ketakutan terhadap coding tidak seharusnya menjadi penghalang untuk masuk ke bidang yang justru menjanjikan masa depan. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk memulai, konsistensi untuk belajar, dan kesiapan untuk beradaptasi.
Pada akhirnya, keunggulan di era digital tidak ditentukan oleh siapa yang paling cepat belajar teknologi, tetapi oleh siapa yang mampu memahami masalah dan mengubah data menjadi solusi. Dan di situlah masa depan sedang dibentuk.
Penulis: Tati Mardiana, Ketua Program Studi Sains Data Universitas Nusa Mandiri (UNM









