NusamandiriNews–Dunia kerja sedang berubah, dan perubahan itu tidak lagi pelan. Jika dulu nasib karier banyak ditentukan oleh CV, wawancara, dan rekomendasi, kini satu faktor baru mengambil alih peran strategis: data. Perusahaan tidak lagi sekadar “menilai”, tetapi “membaca” kandidat melalui jejak digital dan analisis berbasis data. Inilah era profiling tenaga kerja.
Profiling tenaga kerja bukan sekadar tren, melainkan pendekatan baru dalam manajemen sumber daya manusia. Perusahaan kini mengumpulkan dan menganalisis berbagai data mulai dari latar belakang pendidikan, pengalaman kerja, hasil tes, hingga pola produktivitas dan aktivitas profesional di ruang digital. Semua itu diolah untuk menjawab satu pertanyaan: siapa yang paling tepat untuk posisi tertentu?
Baca juga:Sains Data Bukan Cuma untuk Anak IPA Saatnya Berani Daftar dan Kuasai Masa Depan
Data Menentukan Karier Anda
Sebagai akademisi di bidang Sains Data, saya melihat perubahan ini sebagai lompatan besar. Rekrutmen menjadi lebih cepat, lebih terukur, dan berpotensi lebih objektif. Perusahaan dapat memetakan kompetensi secara presisi, sementara individu memiliki peluang lebih besar untuk ditempatkan pada peran yang sesuai dengan potensi dan minatnya.
Namun, di balik efisiensi tersebut, ada sisi lain yang perlu dicermati. Data bukanlah entitas yang selalu netral. Ia bisa bias, tidak lengkap, bahkan menyesatkan jika tidak dikelola dengan benar. Ketika keputusan karier seseorang ditentukan oleh algoritma, maka kualitas data dan etika penggunaannya menjadi krusial. Tanpa transparansi dan perlindungan privasi, profiling justru berpotensi menciptakan ketidakadilan baru.
Lebih dari itu, perubahan ini menuntut kesiapan individu. Dunia kerja tidak lagi hanya menilai apa yang tertulis di CV, tetapi juga bagaimana seseorang membangun jejak digitalnya. Aktivitas profesional di platform digital, portofolio online, hingga cara berinteraksi di ruang publik digital kini menjadi bagian dari penilaian.
Artinya, kompetensi yang dibutuhkan juga berkembang. Tidak cukup hanya menguasai keterampilan teknis. Individu harus memahami bagaimana data bekerja, bagaimana informasi tentang dirinya dibaca, dan bagaimana membangun citra profesional yang kredibel. Dunia kerja kini semakin transparan, sekaligus semakin kompetitif.
Di sinilah Sains Data memainkan peran penting. Disiplin ini tidak hanya mengajarkan cara mengolah data, tetapi juga bagaimana menafsirkan dan menggunakannya untuk pengambilan keputusan yang tepat. Dalam konteks SDM, Sains Data menjadi fondasi bagi lahirnya sistem rekrutmen cerdas, analisis kinerja yang objektif, hingga strategi pengembangan talenta yang berkelanjutan.
Baca juga: Gak Mau Ketinggalan? Sains Data Jadi Jurusan Paling Dicari di 2026!
Sebagai Kampus Digital Bisnis, Universitas Nusa Mandiri (UNM) berupaya menjawab kebutuhan ini melalui Program Studi Sains Data. Mahasiswa tidak hanya dibekali kemampuan teknis seperti analitik dan pemrograman, tetapi juga pemahaman etika digital dan tanggung jawab dalam penggunaan data. Sebab, masa depan tidak hanya milik mereka yang mampu membaca data, tetapi juga mereka yang mampu menggunakannya secara bijak.
Pada akhirnya, profiling tenaga kerja di era digital adalah keniscayaan. Ia bisa menjadi peluang besar untuk menciptakan sistem kerja yang lebih adil dan efisien, tetapi juga bisa menjadi risiko jika disalahgunakan. Pilihannya ada pada kita: menjadi subjek yang dipahami oleh data, atau menjadi individu yang mampu memahami dan mengendalikan data itu sendiri.
Penulis: Tati Mardiana, Ketua Program Studi Sains Data Universitas Nusa Mandiri (UNM)









