NusamandiriNews, Jakarta — Mahasiswa Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis kembali membuktikan ketajamannya dalam melihat peluang bisnis yang berdampak sosial dan lingkungan. Melalui konsep green entrepreneurship atau kewirausahaan hijau, kelompok mahasiswa yang tergabung dalam Tim SERATIM BAG sukses meraih pendanaan nasional pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2026 skema PKM-Kewirausahaan (PKM-K) yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa).
Prestasi tersebut diraih melalui proposal inovatif berjudul “SERATIM BAG: Transformasi Serat Sabut Kelapa menjadi Kotak Pendingin Ramah Lingkungan sebagai Solusi Pengganti Styrofoam yang Berkelanjutan dan Inovatif.”
Baca juga:Sampah Dapur Bisa Jadi Cuan? Mahasiswa Bisnis Digital UNM Buktikan Lewat PKM Nasional
Mahasiswa UNM Sulap Limbah Kelapa Jadi Pengganti Styrofoam
Melalui inovasi ini, tim mahasiswa menghadirkan solusi alternatif pengganti styrofoam berbahan dasar serat sabut kelapa yang selama ini sering dianggap limbah pertanian. Dengan sentuhan inovasi dan pendekatan bisnis berkelanjutan, limbah tersebut diolah menjadi kotak pendingin (cooler box) ramah lingkungan yang mampu menahan suhu secara optimal sekaligus mendukung pengurangan sampah sulit terurai.
Tim SERATIM BAG diketuai oleh Zahra Maysarah Bachtiar dari Program Studi Bisnis Digital dengan anggota Nikita Maharani, Salma Ananda, Jahra Fatia Hidayat dari Prodi Bisnis Digital, serta Ardelia Saviera dari Program Studi Manajemen.
Ketua Program Studi Bisnis Digital Universitas Nusa Mandiri, Lia Mazia, mengapresiasi capaian mahasiswa tersebut sebagai bentuk nyata implementasi pembelajaran kewirausahaan berbasis inovasi dan keberlanjutan.
“Mahasiswa saat ini tidak cukup hanya memiliki kemampuan bisnis, tetapi juga harus mampu menghadirkan solusi atas persoalan sosial dan lingkungan. Tim SERATIM BAG menunjukkan bahwa inovasi bisnis dapat berjalan seiring dengan kepedulian terhadap isu keberlanjutan,” katanya dalam rilis yang diterima, pada Selasa (26/5).
Ia menambahkan bahwa Universitas Nusa Mandiri sebagai Kampus Digital Bisnis terus mendorong mahasiswa untuk memiliki pola pikir kreatif, adaptif, dan visioner dalam membangun usaha berbasis teknologi maupun green business.
“Kami ingin mahasiswa UNM menjadi generasi entrepreneur yang tidak hanya mengejar profit, tetapi juga mampu menciptakan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan,” tambahnya.
Seluruh proses riset material, penyusunan model bisnis, hingga strategi komersialisasi SERATIM BAG didampingi secara intensif oleh dosen pendamping, Johan Hendri Prasetyo.
Menurut Johan Hendri Prasetyo, keberhasilan tim mahasiswa tersebut lahir dari proses kolaborasi, konsistensi, dan keberanian mahasiswa dalam mengembangkan ide bisnis yang inovatif.
“Mahasiswa mampu melihat peluang dari persoalan lingkungan yang nyata. Mereka tidak hanya berpikir tentang produk, tetapi juga bagaimana inovasi tersebut memiliki nilai bisnis, nilai sosial, dan peluang implementasi jangka panjang,” jelasnya.
Ia berharap inovasi SERATIM BAG dapat terus dikembangkan hingga mampu diproduksi secara massal dan diterima luas oleh masyarakat.
Baca juga:Dari Sampah Jadi Peluang Bisnis, Mahasiswa UNM Praktikkan Green Business Sejak Bangku Kuliah
“Dengan adanya dukungan pendanaan PKM ini, kami optimistis SERATIM BAG dapat berkembang menjadi produk ramah lingkungan yang memiliki daya saing dan berkontribusi dalam mengurangi penggunaan styrofoam,” tandasnya.
Lolosnya Tim SERATIM BAG dalam pendanaan PKM-K menjadi bukti bahwa mahasiswa Universitas Nusa Mandiri memiliki kemampuan inovasi dan jiwa kewirausahaan yang kompetitif di tingkat nasional.
Melalui dukungan pendanaan dari Belmawa, purwarupa SERATIM BAG diharapkan dapat segera dikembangkan dan dikomersialkan secara lebih luas sebagai bagian dari solusi bisnis masa depan yang hijau, inovatif, dan berkelanjutan.










