NusamandiriNews — Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Momentum ini sering dipahami sebagai pengingat sejarah dan identitas bangsa. Namun di tengah gelombang transformasi digital yang semakin cepat, saya memandang Pancasila tidak cukup hanya dikenang sebagai dasar negara. Nilai-nilainya harus menjadi kompas dalam mengembangkan teknologi dan inovasi digital yang kini memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat.
Hari ini, kita hidup dalam era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), big data, Internet of Things (IoT), komputasi awan, hingga keamanan siber yang berkembang sangat pesat. Teknologi telah menghadirkan banyak kemudahan sekaligus membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi dan kemajuan bangsa. Namun pertanyaan mendasarnya adalah: apakah seluruh inovasi yang kita ciptakan sudah selaras dengan nilai kemanusiaan, keadilan, dan persatuan yang menjadi ruh Pancasila?
Baca juga:Skripsi Numpuk, Tapi Masih Bisa Bawa Emas? Mahasiswa UNM Ini Bikin Kagum di Pancasila Cup 2026!
Pancasila Jangan Tinggal di Buku
Menurut saya, tantangan terbesar transformasi digital bukan lagi sekadar menciptakan teknologi yang canggih, tetapi memastikan teknologi tersebut memberikan manfaat yang adil dan berkelanjutan bagi masyarakat. Kita tidak boleh terjebak pada euforia inovasi tanpa mempertimbangkan dampak sosial, etika, dan kemanusiaan yang menyertainya.
Dalam praktiknya, teknologi yang hebat belum tentu menghasilkan kemajuan jika tidak dibangun dengan landasan nilai yang kuat. Artificial Intelligence misalnya, mampu membantu pengambilan keputusan secara cepat dan akurat. Namun tanpa prinsip keadilan dan transparansi, teknologi tersebut berpotensi melahirkan diskriminasi digital, bias algoritma, hingga kesenjangan akses informasi.
Di sinilah relevansi Pancasila menjadi sangat penting. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengajarkan bahwa teknologi harus dikembangkan dengan tanggung jawab moral. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab mengingatkan bahwa inovasi harus menghormati hak dan martabat manusia. Sementara sila Persatuan Indonesia menjadi fondasi agar transformasi digital mampu memperkuat kohesi sosial, bukan justru menciptakan polarisasi di ruang digital.
Sebagai Ketua Program Studi Informatika Program Magister Fakultas Teknologi Informasi Universitas Nusa Mandiri, saya meyakini bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab strategis dalam menyiapkan talenta digital yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki karakter kebangsaan yang kuat. Dunia saat ini membutuhkan lebih banyak inovator yang mampu menggabungkan kecerdasan teknologi dengan kebijaksanaan sosial.
Karena itu, proses pendidikan magister tidak boleh hanya berorientasi pada penguasaan teori, publikasi ilmiah, atau pengembangan sistem semata. Mahasiswa perlu didorong untuk menghadirkan riset yang mampu menjawab persoalan nyata masyarakat, menciptakan solusi digital yang inklusif, serta menghasilkan inovasi yang memberikan dampak positif bagi pembangunan bangsa.
Sebagai Universitas Nusa Mandiri (UNM), Kampus Digital Bisnis, kami terus mendorong pengembangan riset dan inovasi yang berpijak pada kebutuhan masyarakat. Mahasiswa dan dosen tidak hanya ditantang untuk menghasilkan teknologi yang cerdas, tetapi juga teknologi yang humanis, adaptif, dan beretika. Semangat gotong royong, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap keberagaman menjadi nilai yang terus kami tanamkan dalam setiap aktivitas akademik dan penelitian.
Baca juga: Jangan Asal Pilih Topik Tesis! Magister Informatika Kini Dituntut Ciptakan Riset Berdampak
Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi kekuatan digital di kawasan bahkan dunia. Namun keberhasilan tersebut tidak cukup diukur dari jumlah startup, penetrasi internet, atau adopsi AI yang tinggi. Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika teknologi mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat, memperluas akses pendidikan, memperkuat layanan kesehatan, meningkatkan produktivitas ekonomi, serta memperkokoh persatuan bangsa.
Momentum Hari Lahir Pancasila seharusnya menjadi refleksi bersama bahwa kemajuan teknologi dan digitalisasi tidak boleh berjalan tanpa arah. Inovasi harus tetap berpijak pada nilai-nilai luhur bangsa agar tidak kehilangan tujuan utamanya, yaitu menghadirkan kemaslahatan bagi manusia.
Karena pada akhirnya, bangsa yang maju bukanlah bangsa yang hanya mampu menciptakan teknologi paling canggih, melainkan bangsa yang mampu memastikan teknologi tersebut bekerja untuk kemanusiaan, keadilan, dan persatuan. Di situlah Pancasila menemukan relevansinya, bukan hanya dalam pidato dan peringatan seremonial, tetapi dalam setiap inovasi yang kita ciptakan untuk masa depan Indonesia.
Penulis: Prof. Ris. Dr. Agus Subekti, Ketua Program Studi Informatika Program Magister Fakultas Teknologi Informasi Universitas Nusa Mandiri










