Saatnya Melek Digital

NusamandiriNews — Belakangan ini, media sosial dipenuhi karakter virtual yang tampak begitu nyata. Ada sosok influencer dengan wajah nyaris sempurna, tokoh fiksi yang memiliki kisah hidup menyentuh, hingga video yang seolah merekam peristiwa nyata. Jutaan orang menyukai, membagikan, bahkan mempercayai konten tersebut. Baru kemudian diketahui bahwa semuanya merupakan hasil rekayasa Artificial Intelligence (AI).

Fenomena ini menunjukkan bahwa AI telah memasuki babak baru. Teknologi tidak lagi hanya membantu manusia menyelesaikan pekerjaan administratif atau mengolah data, tetapi juga mampu menciptakan realitas digital yang sangat sulit dibedakan dari kenyataan. Di satu sisi, ini adalah lompatan besar dalam inovasi. Namun di sisi lain, muncul tantangan serius yang tidak boleh diabaikan: kemampuan masyarakat untuk membedakan fakta dari manipulasi.

Baca juga:Mahasiswa Sains Data Jangan Cuma Jago Coding, Literasi Digital Jadi Kunci Masa Depan

Saatnya Melek Digital

Menurut saya, persoalan terbesar di era AI bukan lagi soal siapa yang memiliki akses terhadap teknologi, melainkan siapa yang memiliki kemampuan berpikir kritis ketika berhadapan dengan informasi. Ketika sebuah gambar, video, atau suara dapat diproduksi secara instan dengan tingkat kemiripan yang sangat tinggi, kepercayaan publik menjadi sesuatu yang mudah dipermainkan.

Di sinilah literasi digital menjadi semakin penting. Literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan gawai atau menguasai berbagai aplikasi. Literasi digital adalah kemampuan untuk memahami konteks, memverifikasi informasi, mengenali potensi manipulasi, serta mengambil keputusan berdasarkan sumber yang kredibel.

Sebagai pustakawan, saya melihat tantangan ini sangat erat dengan fungsi perpustakaan di era digital. Perpustakaan tidak lagi hanya menjadi tempat menyimpan koleksi buku, tetapi juga menjadi pusat pengembangan literasi informasi. Tugas kami bukan hanya menyediakan referensi, melainkan membangun budaya akademik yang kritis, objektif, dan berbasis pada informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Di lingkungan Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis, penguatan literasi digital menjadi bagian penting dalam menyiapkan mahasiswa menghadapi perkembangan teknologi. Mahasiswa perlu dibekali kemampuan untuk memanfaatkan AI secara produktif tanpa kehilangan kemampuan berpikir mandiri. AI harus diposisikan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti nalar manusia.

Kita perlu menyadari bahwa algoritma media sosial memiliki tujuan utama meningkatkan keterlibatan pengguna. Konten yang memancing emosi, rasa penasaran, atau kekaguman cenderung lebih mudah menjadi viral, terlepas dari benar atau tidaknya informasi yang disampaikan. Dalam situasi seperti ini, pengguna yang tidak memiliki kemampuan verifikasi akan lebih rentan menjadi korban disinformasi.

Fenomena karakter AI juga menghadirkan persoalan etika yang semakin kompleks. Bagaimana jika teknologi tersebut digunakan untuk membangun propaganda, menyebarkan hoaks, mencemarkan nama baik seseorang, atau membentuk opini publik secara sistematis? Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan bahwa perkembangan AI bukan hanya isu teknologi, tetapi juga menyangkut tanggung jawab sosial, budaya, dan moral.

Karena itu, saya mengajak mahasiswa untuk membangun kebiasaan sederhana tetapi sangat penting. Jangan mudah percaya pada konten yang viral hanya karena tampilannya meyakinkan. Lakukan verifikasi terhadap sumber informasi, bandingkan dengan referensi yang kredibel, dan biasakan mempertanyakan setiap informasi sebelum membagikannya kepada orang lain.

Mahasiswa juga perlu memahami karakteristik umum konten berbasis AI, mulai dari visual yang terlalu sempurna, detail yang tidak konsisten, hingga narasi yang terasa dibuat untuk memancing emosi secara berlebihan. Semakin tinggi pemahaman terhadap cara kerja AI, semakin kecil kemungkinan kita terjebak dalam manipulasi digital.

Pada akhirnya, saya percaya bahwa masa depan tidak akan dimenangkan oleh mereka yang sekadar mampu menggunakan AI. Masa depan akan dimiliki oleh mereka yang mampu menggunakan AI secara bijak sekaligus tetap mengedepankan nalar, etika, dan integritas.

Baca juga:Informatika Unggul, Siap Rebut Karier Digital!

Teknologi akan terus berkembang, algoritma akan semakin canggih, dan batas antara dunia nyata dengan dunia digital akan semakin tipis. Namun satu hal yang tidak boleh hilang adalah kemampuan manusia untuk berpikir kritis. Itulah kompetensi yang akan membedakan antara mereka yang hanya mengikuti arus teknologi dan mereka yang mampu mengendalikan arah perkembangan teknologi itu sendiri.

Sudah saatnya kita tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi juga menjadi warga digital yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab.

Penulis: Ricky Sediawan, Pustakawan Universitas Nusa Mandiri