
NusamandiriNews – Ada satu kesalahan yang masih sering dilakukan perusahaan ketika ingin merebut perhatian Generasi Z (Gen Z), mereka terlalu sibuk menjual, tetapi lupa membangun percakapan. Di tengah banjir informasi digital, perhatian anak muda bukan lagi sesuatu yang bisa dibeli hanya dengan memasang iklan. Setiap hari, layar gawai mereka dipenuhi berbagai konten. Ada video pendek, meme, informasi pendidikan, hiburan, rekomendasi produk, hingga berbagai tren yang berubah dalam hitungan jam. Dalam situasi seperti ini, merek yang datang dengan bahasa terlalu formal, kaku, dan terasa seperti sedang memaksa konsumen membeli akan dengan mudah dilewati.
Menurut saya, persoalannya bukan karena Gen Z tidak tertarik terhadap produk atau merek. Justru sebaliknya. Mereka sangat tertarik, tetapi memiliki cara berbeda dalam menentukan siapa yang layak mendapatkan perhatian. Gen Z ingin melihat merek yang terasa manusiawi. Mereka ingin diajak berbicara, bukan terus-menerus diberi ceramah. Mereka menghargai komunikasi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, terbuka terhadap kritik, memiliki nilai yang jelas, dan tidak berusaha terlihat sempurna setiap saat.
Baca juga:5 Langkah Utama Strategi Bangun Bisnis Bagi Mahasiswa
Bangun Percakapan
Karena itu, perusahaan perlu mengubah cara berpikir dalam menjalankan pemasaran digital. Pertanyaannya bukan lagi, “Bagaimana membuat konten agar produk kita laku?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Mengapa audiens harus peduli terhadap konten dan merek kita?”
Perubahan cara pandang ini membawa konsekuensi besar terhadap kebutuhan tenaga kerja di industri digital. Perusahaan tidak cukup hanya membutuhkan orang yang mampu mengunggah foto atau video ke media sosial.
Mereka membutuhkan talenta yang mampu memahami audiens, membaca perilaku konsumen, menyusun strategi komunikasi, membuat perencanaan konten, sekaligus mengukur apakah pesan yang disampaikan benar-benar memberikan dampak.
Seorang digital marketer masa kini harus mampu bekerja seperti seorang perancang strategi. Ia perlu memahami siapa audiensnya, persoalan apa yang mereka hadapi, bahasa seperti apa yang relevan, platform mana yang digunakan, serta jenis konten apa yang memiliki peluang untuk membangun keterlibatan.
Konten yang baik tidak lahir dari keberuntungan. Di balik sebuah unggahan yang terlihat sederhana, terdapat proses perencanaan yang seharusnya jelas. Ada kalender konten, tujuan komunikasi, pemilihan tema, penentuan format visual, distribusi pada platform yang tepat, hingga evaluasi berdasarkan data.
Poster promosi, misalnya, tidak cukup hanya dibuat dengan desain yang menarik. Pesan di dalamnya harus mampu menjawab kebutuhan audiens. Begitu pula konten edukasi tidak boleh berhenti pada upaya terlihat informatif. Konten harus memiliki konteks dan memberikan alasan bagi audiens untuk berhenti menggulir layar. Di sinilah kreativitas dan strategi bisnis harus berjalan beriringan.
Kreativitas tanpa strategi dapat menghasilkan konten yang ramai tetapi tidak memberikan dampak bisnis. Sebaliknya, strategi tanpa kreativitas berpotensi menghasilkan komunikasi yang benar secara konsep tetapi gagal mendapatkan perhatian audiens.
Bagi mahasiswa yang ingin masuk ke industri digital, kemampuan semacam ini menjadi bekal penting. Dunia kerja membutuhkan talenta yang mampu menggabungkan pemahaman bisnis, teknologi, komunikasi, kreativitas, dan analisis data.
Program Studi Bisnis Digital Universitas Nusa Mandiri melihat perubahan tersebut sebagai tantangan sekaligus peluang. Sebagai Kampus Digital Bisnis, Universitas Nusa Mandiri (UNM), berupaya menghadirkan pembelajaran yang tidak berhenti pada teori, tetapi mendorong mahasiswa memahami bagaimana strategi bisnis dan komunikasi digital diterapkan dalam persoalan nyata.
Mahasiswa perlu dibiasakan untuk berpikir dari sudut pandang konsumen. Mereka harus belajar menyusun strategi komunikasi, merancang kalender konten, memahami karakter berbagai platform digital, menghasilkan materi komunikasi visual, sekaligus mengevaluasi efektivitas kampanye berdasarkan data.
Lebih dari itu, saya percaya bahwa mahasiswa juga perlu memahami satu hal penting, Gen Z bukan sekadar target pasar. Mereka adalah manusia dengan aspirasi, keresahan, humor, nilai, dan preferensi yang beragam.
Karena itu, jangan memperlakukan mereka hanya sebagai angka dalam laporan pemasaran.
Merek yang ingin memenangkan hati generasi ini harus mampu membangun hubungan. Harus mau mendengar. Harus berani menerima kritik. Dan yang paling penting, harus konsisten antara apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan.
Likes dan views memang penting. Namun, keduanya bukan tujuan akhir. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana perhatian sesaat diubah menjadi kepercayaan, kemudian berkembang menjadi hubungan jangka panjang antara konsumen dan merek.
Inilah alasan mengapa profesi di bidang digital marketing, content strategy, social media management, hingga digital communication semakin membutuhkan talenta yang tidak hanya kreatif, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir strategis.
Bagi perguruan tinggi, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan harus terus bergerak mengikuti perubahan industri. Mahasiswa tidak boleh hanya diajarkan bagaimana menggunakan teknologi yang ada hari ini, tetapi juga harus dibentuk menjadi individu yang mampu membaca perubahan dan menciptakan solusi untuk kebutuhan yang mungkin baru muncul di masa depan.
Baca juga:Mahasiswa Bisnis Digital UNM Raih Medali Perak Robotik Dunia di Malaysia
Pada akhirnya, memenangkan Gen Z bukan tentang siapa yang paling keras beriklan. Bukan pula tentang siapa yang paling sering muncul di layar mereka. Merek yang akan bertahan adalah merek yang mampu membuat audiens merasa didengar, dipahami, dan dihargai.
Dan bagi generasi muda yang ingin berkarier di industri digital, tantangannya pun jelas yakni jangan hanya menjadi pengguna media sosial. Pelajari bagaimana media sosial bekerja, bagaimana perilaku konsumen terbentuk, bagaimana data dibaca, dan bagaimana kreativitas dapat diubah menjadi strategi bisnis. Sebab di era ketika perhatian menjadi mata uang baru, kemampuan memahami manusia akan menjadi keunggulan digital yang tidak mudah digantikan teknologi.
Penulis: Lia Mazia, Ketua Program Studi Bisnis Digital Universitas Nusa Mandiri








