Berdaulat Digital

NusamandiriNews – Memaknai kemerdekaan pada usia 81 tahun Indonesia seharusnya tidak berhenti pada upacara, pengibaran bendera, atau mengenang perjuangan para pendahulu. Bagi generasi yang hidup di tengah percepatan teknologi, kemerdekaan memiliki makna yang semakin luas yakni kemampuan untuk berdiri di atas kekuatan sendiri, termasuk dalam menguasai teknologi dan menjaga kedaulatan digital bangsa.

Hari ini, kehidupan masyarakat hampir tidak dapat dipisahkan dari teknologi. Kita belajar melalui platform digital, bertransaksi secara daring, menyimpan informasi di berbagai layanan digital, hingga menggunakan kecerdasan buatan untuk membantu menyelesaikan pekerjaan. Ketergantungan tersebut menghadirkan pertanyaan penting: apakah kita hanya akan menjadi pengguna teknologi, atau mampu menjadi bangsa yang ikut menciptakan dan menentukan arah perkembangannya?

Baca juga:Akreditasi Unggul S3 Doktor Informatika Universitas Nusa Mandiri: Pilihan Tepat Jadi Pemimpin Riset Global dan Inovator Teknologi

Berdaulat Digital

Menurut saya, inilah salah satu bentuk perjuangan generasi muda Indonesia hari ini. Kemerdekaan di era digital tidak cukup dimaknai sebagai kebebasan menggunakan teknologi. Lebih jauh, kemerdekaan berarti memiliki kemampuan untuk menciptakan teknologi yang memberikan manfaat, menjaga keamanan informasi, menghormati privasi, serta menyelesaikan persoalan masyarakat.

Kita tidak ingin generasi muda hanya menjadi konsumen teknologi yang setiap hari menggunakan berbagai aplikasi buatan pihak lain tanpa memahami bagaimana teknologi tersebut bekerja dan bagaimana data mereka dikelola. Indonesia membutuhkan generasi yang berani naik kelas: dari pengguna menjadi pencipta, dari konsumen menjadi inovator, dan dari pencari peluang menjadi pembuka peluang. Karena itu, pendidikan teknologi memiliki tanggung jawab yang besar.

Sebagai Ketua Program Studi Informatika Universitas Nusa Mandiri (UNM), saya melihat bahwa mahasiswa informatika tidak cukup hanya dibekali kemampuan menulis kode. Kemampuan teknis memang merupakan fondasi penting, tetapi teknologi selalu memiliki konsekuensi sosial. Sebuah sistem yang kita bangun akan digunakan manusia, menyimpan data manusia, dan berpotensi memengaruhi kehidupan manusia.

Seorang calon profesional teknologi harus memiliki kemampuan berpikir kritis dan kesadaran etis. Ketika mahasiswa mempelajari kecerdasan buatan, misalnya, mereka tidak hanya perlu memahami bagaimana membangun model atau memanfaatkan algoritma. Mereka juga perlu memahami persoalan privasi, keamanan data, bias, transparansi, serta dampak teknologi terhadap masyarakat.

Demikian pula ketika mereka membangun sebuah sistem informasi. Keamanan tidak boleh dipikirkan setelah sistem selesai dibuat. Perlindungan data dan privasi harus menjadi bagian dari proses sejak awal.

Bagi saya, teknologi yang hebat bukan sekadar teknologi yang canggih. Teknologi yang hebat adalah teknologi yang mampu menyelesaikan persoalan tanpa menciptakan persoalan baru yang lebih besar. Di sinilah perguruan tinggi harus mengambil peran.

Kampus harus menjadi ruang yang memungkinkan mahasiswa bereksperimen, menguji gagasan, melakukan kesalahan, belajar dari proses, kemudian memperbaiki dan menghasilkan solusi yang lebih baik. Pendidikan teknologi tidak boleh terjebak dalam teori yang jauh dari persoalan masyarakat.

Mahasiswa harus memperoleh kesempatan untuk menghubungkan pengetahuan yang mereka pelajari dengan kebutuhan nyata. Ketika seorang mahasiswa mengembangkan aplikasi untuk membantu UMKM, misalnya, ia sebenarnya sedang belajar lebih dari sekadar pemrograman. Ia belajar memahami kebutuhan pengguna, merancang solusi, mengelola data, memikirkan keamanan sistem, sekaligus memahami persoalan ekonomi masyarakat.

Ketika mahasiswa membuat sistem yang membantu layanan publik, mereka sedang belajar bahwa teknologi memiliki dimensi kemanusiaan. Dan ketika mereka menciptakan solusi edukasi yang lebih mudah diakses, mereka sedang menunjukkan bahwa teknologi dapat menjadi instrumen pemerataan kesempatan.

Di situlah saya melihat hubungan antara teknologi dan kemerdekaan. Kemerdekaan seharusnya memberikan ruang bagi setiap orang untuk berkembang. Teknologi dapat memperluas ruang tersebut apabila digunakan secara bertanggung jawab. Namun, teknologi juga dapat menciptakan kesenjangan apabila hanya dikuasai oleh segelintir pihak.

Karena itu, membangun sumber daya manusia yang menguasai teknologi bukan sekadar kebutuhan industri. Ini merupakan bagian dari investasi strategis bangsa. Indonesia memiliki generasi muda dengan kreativitas yang besar. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut diarahkan menjadi kompetensi dan karya yang memberikan dampak.

Kita membutuhkan lebih banyak programmer, data scientist, ahli keamanan siber, pengembang kecerdasan buatan, peneliti, technopreneur, dan profesional teknologi yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap masyarakat.

Sebagai Kampus Digital Bisnis, Universitas Nusa Mandiri, kami melihat pendidikan teknologi sebagai bagian dari upaya mempersiapkan generasi yang adaptif terhadap perubahan. Mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk memahami teknologi, tetapi juga didorong untuk melihat teknologi sebagai instrumen menciptakan nilai dan menyelesaikan persoalan.

Semangat tersebut sejalan dengan komitmen Universitas Nusa Mandiri yakni Ubah Mimpi Jadi Prestasi. Bagi saya, slogan tersebut akan memiliki makna ketika mimpi mahasiswa benar-benar diterjemahkan menjadi kompetensi, karya, inovasi, dan kontribusi.

Pada akhirnya, kedaulatan digital tidak akan lahir hanya dari perangkat keras atau perangkat lunak yang kita miliki. Kedaulatan digital lahir dari manusia yang mampu menciptakan, mengelola, mengamankan, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Baca juga:Mahasiswa Informatika UNM Raih Emas Taekwondo Asia, Bukti Prestasi Tak Hanya di Kelas

Pada momentum 81 tahun kemerdekaan Indonesia ini, mari kita memperluas makna merdeka. Merdeka bukan hanya bebas dari penjajahan, tetapi juga bebas dari ketergantungan pengetahuan dan teknologi.
Kepada mahasiswa, teruslah belajar dan jangan takut bereksperimen. Kepada generasi muda yang bercita-cita terjun ke dunia teknologi, jangan puas hanya menjadi pengguna. Bangun kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat.

Sebab masa depan Indonesia tidak cukup hanya menunggu teknologi datang. Indonesia membutuhkan generasi yang berani menciptakan teknologinya sendiri. Inilah saatnya kita bergerak dari pengguna menjadi pencipta, dari penonton menjadi pelaku, dan dari bangsa yang mengonsumsi teknologi menjadi bangsa yang ikut menentukan masa depan teknologi.

Mari bangun Indonesia yang bukan hanya merdeka secara politik, tetapi juga semakin mandiri dan berdaulat secara digital. Informasi dan pendaftaran mahasiswa baru Universitas Nusa Mandiri dapat dilakukan secara online melalui https://pmb.nusamandiri.ac.id. Informasi lengkap mengenai Universitas Nusa Mandiri dapat diakses melalui https://nusamandiri.ac.id/.

Penulis: Arfhan Prasetyo, Ketua Program Studi Informatika Universitas Nusa Mandiri