NusamandiriNews–“Gue punya ide bisnis nih…” Kalimat ini bukan hal asing di lingkungan kampus. Mulai dari ide aplikasi titip cetak tugas tanpa antre, brand fashion mahasiswa, minuman kekinian, hingga jasa digital, semuanya terdengar menjanjikan. Namun, tidak sedikit ide bisnis mahasiswa berhenti di tahap wacana.
Padahal, menjadi entrepreneur kampus bukan tentang siapa yang memiliki ide paling unik, melainkan siapa yang berani mengeksekusi dengan langkah terukur. Pertanyaannya bukan lagi “punya ide apa?”, tetapi “sudah sejauh mana ide itu dijalankan?”
Agar ide tidak berhenti sebagai obrolan, berikut empat langkah sederhana yang bisa mulai diterapkan mahasiswa.
Baca juga: Tak Cukup Ide, Ini 6 Tips NIC Agar Mahasiswa Lahirkan Inovasi Digital Nyata
Empat Langkah Sederhana
1. Validasi Ide: Jangan Asumsi, Tanya Pasar
Kesalahan umum calon entrepreneur adalah terlalu percaya pada selera pribadi. Merasa produk pasti laku karena dianggap menarik.
Padahal, bisnis berbicara tentang kebutuhan pasar. Mahasiswa perlu menjawab tiga pertanyaan dasar: siapa yang benar-benar membutuhkan produk tersebut, masalah apa yang diselesaikan, dan apakah orang bersedia membayar untuk itu.
Validasi bisa dimulai dari lingkungan kampus. Tawarkan ke teman sekelas, mintalah umpan balik jujur, dan gunakan kritik sebagai bahan perbaikan. Dari situ akan terlihat apakah ide layak dikembangkan atau perlu disempurnakan.
2. Mulai Kecil, Jangan Tunggu Sempurna
Banyak ide tertunda karena menunggu segala sesuatu sempurna, logo harus ideal, konsep matang 100 persen, atau waktu luang tersedia. Padahal, dalam dunia bisnis, keberanian memulai lebih penting daripada kesempurnaan awal.
Mahasiswa dapat memulai dengan menjual melalui media sosial pribadi, menggunakan sistem pre-order, atau menguji pasar dengan stok terbatas. Di era digital, modal besar bukan lagi syarat utama. Aksi pertama jauh lebih menentukan.

3. Bangun Konsistensi, Bukan Sekadar Semangat
Semangat di minggu pertama relatif mudah. Tantangannya adalah bertahan di bulan ketiga ketika tugas kuliah menumpuk dan aktivitas organisasi meningkat.
Banyak bisnis mahasiswa berhenti bukan karena ide buruk, tetapi karena kurang konsisten. Dalam ekosistem entrepreneur, konsistensi menjadi pembeda utama. Langkah kecil yang dilakukan rutin lebih kuat dibanding semangat besar yang cepat padam.
4. Cari Lingkungan yang Mendukung
Faktor lingkungan sering kali menentukan keberanian mahasiswa dalam mengeksekusi ide. Tanpa dukungan dan pendampingan, proses membangun bisnis bisa terasa berat.
Sebagai Kampus Digital Bisnis, Universitas Nusa Mandiri (UNM) mendorong mahasiswa untuk tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta peluang. Mahasiswa dibekali wawasan digital dan pemahaman bisnis agar adaptif terhadap perkembangan industri.
Peran Nusa Mandiri Entrepreneur Center (NEC) menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem tersebut. NEC menyediakan ruang diskusi, pendampingan, hingga penguatan mindset kewirausahaan bagi mahasiswa yang ingin mengembangkan ide bisnisnya.
Kepala NEC, Maruloh, menyebutkan bahwa banyak mahasiswa sebenarnya memiliki potensi besar, namun ragu untuk memulai.
“Banyak mahasiswa punya ide yang bagus, tetapi belum berani melangkah. Di NEC, kami mendorong mereka untuk mulai dari langkah kecil, belajar dari proses, dan tidak takut mencoba. Menjadi entrepreneur bukan soal langsung sukses, tetapi soal konsisten bertumbuh,” ujarnya dalam keterangan rilis yang diterima, pada Senin (23/2).
Lingkungan yang suportif membuat mahasiswa lebih percaya diri untuk mengeksekusi ide dan membangun bisnis secara bertahap.
Pada akhirnya, menjadi entrepreneur kampus bukan tentang siapa yang paling jenius atau memiliki modal terbesar. Dunia bisnis lebih berpihak pada mereka yang bergerak.
Ide memang penting. Namun tanpa eksekusi, ia hanya akan menjadi catatan di ponsel atau bahan obrolan di kantin. Karena dalam bisnis, yang bertahan bukan yang paling banyak ide melainkan yang paling berani menjalankannya.










