Keterampilan Masa Depan di Era AI

NusamandiriNews, Jakarta – Kemampuan menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) saja belum cukup untuk menghadapi perubahan dunia kerja. Generasi muda juga perlu berpikir kritis, kreatif, mampu berkolaborasi, serta terus memperbarui keterampilan agar dapat memanfaatkan teknologi untuk menghasilkan solusi nyata.

Pesan tersebut disampaikan Kepala NeX.AI Universitas Nusa Mandiri (UNM), Dr. Ali Khumaidi saat membawakan materi bertajuk How to Leverage AI for a Brighter Future: From AI Skills to Real Achievements and Lasting Impact dalam Seminar Artificial Intelligence di Aula UNM Kampus Jatiwaringin, Jl Raya Jatiwaring No 2, Cipinang Melayu, Makasar,  pada Kamis (29/10).

Baca juga: Rektor UNM Tegaskan Ketekunan dan Integritas Tetap Jadi Kunci Prestasi di Era AI

Keterampilan Masa Depan di Era AI

Dalam pemaparannya, Dr. Ali menyoroti perubahan kebutuhan keterampilan tenaga kerja seiring meluasnya penggunaan AI. Ia mengacu pada laporan Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum (WEF), yang memproyeksikan sekitar 39 persen keterampilan pekerja saat ini akan berubah atau menjadi usang pada periode 2025–2030.

Perubahan tersebut menuntut generasi muda untuk tidak berhenti pada penguasaan teknologi yang sedang populer. Kemampuan belajar kembali, menyesuaikan diri, dan memahami persoalan yang perlu diselesaikan menjadi bekal penting agar AI dapat digunakan secara produktif.

Perkembangan AI memunculkan kekhawatiran mengenai pekerjaan yang berpotensi tergantikan oleh otomatisasi, terutama tugas-tugas rutin. Namun, perubahan pasar kerja juga membuka peluang pada bidang teknologi, data, keamanan siber, energi hijau, hingga pendidikan.

WEF memperkirakan berbagai tren ekonomi, teknologi, demografi, dan transisi hijau dapat menciptakan 170 juta pekerjaan sekaligus menggeser 92 juta pekerjaan hingga 2030. Secara bersih, proyeksi tersebut menghasilkan penambahan 78 juta pekerjaan secara global. Angka ini menggambarkan dampak gabungan berbagai tren terhadap pasar kerja, bukan semata-mata akibat penggunaan AI.

Karena itu, Dr. Ali mengingatkan bahwa respons terhadap perkembangan teknologi seharusnya bukan ketakutan, melainkan kesiapan untuk belajar dan berinovasi.

“Kuncinya bukan takut pada AI, melainkan terus belajar, melakukan reskilling, dan berinovasi. AI adalah alat (tool), dan dampak nyata sangat bergantung pada bagaimana kita memanfaatkannya untuk menyelesaikan masalah,” ujar Dr. Ali di hadapan ratusan peserta seminar, Kamis (29/10).

Ia juga menyinggung penelitian Shakked Noy dan Whitney Zhang yang terbit dalam jurnal Science pada 2023. Dalam eksperimen terhadap 453 profesional berpendidikan perguruan tinggi yang mengerjakan tugas menulis profesional, penggunaan ChatGPT menurunkan waktu penyelesaian rata-rata sebesar 40 persen dan meningkatkan kualitas hasil sebesar 18 persen.

Temuan tersebut menunjukkan potensi AI dalam mendukung produktivitas pada jenis pekerjaan tertentu. Meski demikian, hasil penelitian itu perlu dipahami sesuai konteksnya dan tidak serta-merta menjadi ukuran untuk semua jenis pekerjaan atau industri.

Selain membahas keterampilan masa depan, Dr. Ali memaparkan roadmap NeX.AI untuk periode 2026–2027. Sebagai pusat riset dan inovasi di lingkungan UNM sebagai Kampus Digital Bisnis, NeX.AI diarahkan untuk mendukung pengembangan talenta digital melalui sejumlah program yang terintegrasi.

Baca juga:UNM dan PT Kreasi Alam Inspirasi Gandeng Tangan Kembangkan Edukasi AI

Program tersebut mencakup pengembangan talenta, bootcamp, riset berbasis komunitas, kolaborasi dengan industri, hingga pameran inovasi melalui kegiatan showcase and impact.

Upaya tersebut diarahkan untuk mempertemukan pembelajaran, riset, dan kebutuhan nyata di masyarakat maupun dunia industri. Dengan demikian, pemanfaatan AI tidak berhenti pada kemampuan mengoperasikan aplikasi, tetapi dapat berkembang menjadi gagasan, karya, dan solusi yang memiliki manfaat.

Seminar yang diikuti mahasiswa serta pelajar SMA/SMK ini menjadi ruang untuk mengenalkan peluang sekaligus tantangan penggunaan AI. Pesan yang dibawa Dr. Ali menegaskan bahwa teknologi akan terus berkembang, sehingga kesiapan generasi muda perlu dibangun melalui proses belajar yang berkelanjutan.