
NusamandiriNews, Jakarta – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) membawa peluang baru dalam dunia pendidikan, termasuk bagi Guru Bimbingan Konseling (BK) yang mendampingi siswa mengenali potensi diri dan menentukan arah masa depan. Namun, teknologi tersebut perlu ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti peran manusia dalam proses pendampingan.
Hal tersebut disampaikan Rian Septian Anwar selaku Partner of Dico & AI Specialist dalam Seminar Pemuda Mandiri bertajuk “Empowering Counselors Inspiring Futures yang digelar Universitas Nusa Mandiri (UNM) yang dikenal sebagai Kampus Digital Bisnis bersama Musyawarah Guru Bimbingan Konseling (MGBK) SMK Kota Bekasi di aula UNM kampus Jatiwaringin, Jl Raya Jatiwaringin No 2, Cipinang Melayu, Makasar, Jakarta Timur, pada Kamis (8/10).
Baca juga:UNM Akan Gelar Seminar Pemuda Mandiri untuk Tingkatkan Kompetensi Guru BK
Guru BK di Era AI
Dalam sesi bertajuk “AI dalam Pendampingan Siswa: Mengenali Potensi, Membuka Pilihan Karier”, Rian mengajak Guru BK melihat AI generatif sebagai teknologi yang dapat membantu proses persiapan pendampingan, mulai dari menyusun pertanyaan hingga memetakan berbagai pilihan karier.
“AI membantu guru menyiapkan pertanyaan, menyusun draf rencana, dan memetakan opsi. Namun, keputusan tetap berada di tangan guru bersama siswa, dan guru memegang tanggung jawab penuh atas layanan bimbingan,” ujar Rian, Kamis (8/10).
Menurut Rian, pemanfaatan AI dalam pendampingan karier dapat dilakukan secara bertahap. Teknologi digunakan untuk membantu pekerjaan persiapan dan eksplorasi, sementara Guru BK tetap menjadi pihak yang memandu proses, memahami konteks siswa, dan membantu mengambil keputusan.
Tahap pertama adalah memahami diri. AI dapat membantu Guru BK menyusun pertanyaan terbuka yang dapat digunakan untuk menggali pengalaman, minat, maupun kekuatan siswa. Namun, proses percakapan tetap dilakukan oleh guru dengan mendengarkan jawaban siswa tanpa tergesa-gesa memberikan label mengenai bakat atau potensinya.
Tahap berikutnya membuka pilihan. AI dapat membantu menerjemahkan istilah program studi maupun bidang pekerjaan yang terkadang sulit dipahami siswa. Informasi tersebut kemudian dapat dibahas bersama Guru BK dengan mempertimbangkan kebutuhan, kondisi, serta lingkungan siswa.
Pada tahap menguji pilihan, AI dapat digunakan untuk mengusulkan simulasi atau aktivitas sederhana yang memungkinkan siswa mencoba bidang tertentu. Guru kemudian mengarahkan siswa untuk melakukan eksplorasi secara nyata dan merefleksikan pengalaman tersebut.
Sementara pada tahap merencanakan, AI dapat membantu merapikan draf rencana maupun jadwal. Guru BK tetap memiliki peran penting untuk membantu siswa memahami pilihan, mengevaluasi alternatif, dan menentukan langkah yang realistis.
Dengan alur tersebut, AI tidak mengambil alih proses pengambilan keputusan. Teknologi justru digunakan untuk memberi lebih banyak ruang kepada Guru BK agar dapat memusatkan perhatian pada interaksi dan pendampingan siswa.
Di balik peluang pemanfaatan AI, Rian mengingatkan Guru BK agar memberikan perhatian serius terhadap keamanan dan kerahasiaan data siswa.
Informasi sensitif seperti identitas pribadi, catatan konseling, maupun cerita mengenai kondisi keluarga sebaiknya tidak dimasukkan ke dalam sistem AI. Untuk kebutuhan latihan atau penyusunan materi, guru dapat menggunakan skenario dan contoh yang bersifat fiktif.
Selain keamanan data, kualitas hasil AI juga sangat dipengaruhi oleh cara pengguna memberikan instruksi atau prompt. Rian membagikan lima unsur yang dapat digunakan Guru BK ketika menyusun prompt.
Pertama, peran, yaitu menentukan perspektif yang ingin digunakan AI, misalnya sebagai guru BK kelas XI. Kedua, tujuan, dengan menjelaskan target yang ingin dicapai, seperti membantu siswa mengenali minat.
Ketiga, tugas dan format, yakni menentukan bentuk keluaran yang dibutuhkan, seperti meminta lima pertanyaan terbuka. Keempat, konteks aman, dengan menggunakan contoh atau latar belakang fiktif. Kelima, batasan, yaitu memberikan aturan yang jelas agar AI tidak memberikan kesimpulan yang melampaui perannya, misalnya tidak menetapkan bakat siswa secara langsung.
Bagi Rian, kemampuan menggunakan AI secara tepat bukan berarti Guru BK harus menyerahkan proses pendampingan kepada teknologi. Justru, teknologi perlu digunakan untuk mendukung pekerjaan yang bersifat persiapan sehingga guru memiliki lebih banyak ruang untuk menjalankan fungsi utamanya sebagai pendamping.
Baca juga:Dua Kampus UNM Kolaborasi Gelar Seminar Penguatan Peran Guru BK
“Pendampingan karier bukan sekadar menentukan jurusan, melainkan mendampingi proses berpikir dan mengambil keputusan. Dengan memanfaatkan AI secara bijak, guru BK dapat menghemat waktu persiapan dan memberikan perhatian yang lebih utuh dalam berinteraksi langsung dengan siswa,” pungkasnya.
Pemanfaatan AI dalam layanan BK pada akhirnya membutuhkan keseimbangan antara kemampuan teknologi dan sentuhan manusia. Ketika AI digunakan untuk membantu mencari informasi, menyusun alternatif, dan merapikan rencana, Guru BK tetap menjadi sosok yang memahami konteks siswa dan mendampingi mereka dalam menentukan langkah.
Melalui seminar ini, UNM dan MGBK SMK Kota Bekasi mendorong Guru BK untuk tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga memahami batas penggunaannya. Sebab, secanggih apa pun teknologi yang digunakan, keputusan mengenai masa depan seorang siswa tetap membutuhkan proses dialog, pemahaman, dan pendampingan manusia.







