Penyimpanan digital menjadi salah satu kebutuhan penting dalam dunia perkuliahan saat ini. Berbagai tugas, laporan praktikum, hasil penelitian, hingga dokumen administrasi kampus umumnya disimpan dalam bentuk digital. Tidak sedikit mahasiswa yang akhirnya membutuhkan kapasitas penyimpanan lebih besar agar seluruh file tetap tersimpan dengan aman dan mudah diakses.
Salah satu layanan yang banyak digunakan adalah Google Drive. Selain praktis, layanan ini terhubung langsung dengan berbagai produk Google lainnya sehingga memudahkan proses belajar dan kolaborasi. Kabar baiknya, tambahan kapasitas Google Drive tidak selalu harus diperoleh melalui langganan pribadi. Beberapa perguruan tinggi menyediakan akses penyimpanan melalui akun institusi yang terintegrasi dengan Google Workspace for Education.
Baca juga: Mengenal Canva untuk Mahasiswa, Alat Desain dengan Segudang Manfaat
Mengapa Mahasiswa Membutuhkan Penyimpanan Google Drive yang Lebih Besar?
Seiring meningkatnya aktivitas pembelajaran berbasis digital, ukuran file yang digunakan dalam perkuliahan juga semakin besar. Materi presentasi, video pembelajaran, dokumen penelitian, hingga proyek berbasis data membutuhkan ruang penyimpanan yang tidak sedikit.
Melalui Google Drive, berbagai file tersebut dapat disimpan tanpa harus memenuhi memori perangkat. Selain itu, dokumen yang tersimpan di layanan cloud juga lebih mudah diakses kapan saja selama terhubung dengan internet.
Karena alasan tersebut, banyak mahasiswa mulai mencari cara memperoleh kapasitas Google Drive tambahan melalui fasilitas yang disediakan kampus.
Cara Klaim Penyimpanan Google Drive untuk Mahasiswa
Selain melalui program atau event tertentu, beberapa perguruan tinggi juga menyediakan akses penyimpanan Google Drive bagi sivitas akademika melalui layanan Google Workspace for Education.
Perlu diketahui bahwa kapasitas yang diberikan berbeda-beda pada setiap institusi. Ada kampus yang menyediakan penyimpanan sebesar 15 GB, 100 GB, bahkan lebih besar sesuai kebijakan masing-masing.
Sebelum mengajukan akses, penting untuk memahami bahwa tidak semua perguruan tinggi memiliki akun Google yang terintegrasi dengan Google Workspace for Education. Oleh karena itu, ketersediaan layanan ini bergantung pada kebijakan kampus tempat menempuh pendidikan.
Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk memperoleh akses penyimpanan tersebut.
1. Dapatkan Email Institusi Kampus
Pastikan masih berstatus sebagai mahasiswa atau dosen aktif. Selanjutnya, hubungi Pusat Teknologi Informasi (Puskom), Direktorat Sistem Informasi (DSI), atau unit terkait di kampus untuk mengajukan pembuatan akun email institusi. Umumnya akun tersebut menggunakan domain resmi universitas, seperti @nama-kampus.ac.id.
2. Aktivasi Akun Google Workspace
Setelah memperoleh username dan kata sandi dari kampus, buka layanan Gmail atau halaman Google Workspace. Lakukan masuk menggunakan akun institusi yang telah diberikan dan ikuti proses verifikasi awal hingga akun aktif sepenuhnya.
3. Akses Google Drive Melalui Akun Kampus
Ketika proses aktivasi selesai, seluruh layanan Google yang terhubung dengan akun tersebut biasanya dapat langsung digunakan. Salah satunya adalah Google Drive yang telah disesuaikan kapasitas penyimpanannya berdasarkan kebijakan kampus. Akses dapat dilakukan menggunakan akun email institusi yang sudah aktif.
4. Periksa Kapasitas Penyimpanan yang Diberikan
Untuk mengetahui besaran ruang penyimpanan yang tersedia, buka halaman Google One Storage menggunakan akun kampus. Informasi tersebut akan menunjukkan kapasitas yang dapat digunakan untuk menyimpan dokumen, foto, maupun berbagai file akademik lainnya.
Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Mengajukan Akun Kampus
Sebelum mengandalkan akun institusi sebagai media penyimpanan utama, terdapat beberapa hal yang perlu dipahami.
1. Kebijakan Setiap Kampus Berbeda
Tidak semua perguruan tinggi memberikan kapasitas penyimpanan yang sama. Beberapa kampus hanya menyediakan kapasitas standar, sementara institusi lain memberikan ruang penyimpanan yang lebih besar sesuai kebutuhan akademik.
2. Akses Bisa Berubah Setelah Masa Studi Berakhir
Pada beberapa kampus, akun institusi dapat dinonaktifkan setelah mahasiswa lulus atau tidak lagi berstatus aktif. Oleh karena itu, penting untuk menyiapkan cadangan data secara berkala.
3. Tidak Semua Kampus Menggunakan Google Workspace
Sebagian perguruan tinggi memilih platform penyimpanan dan kolaborasi lain selain Google. Karena itu, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah memastikan terlebih dahulu apakah kampus telah mengadopsi Google Workspace for Education.
Pilihan Kampus yang Mendukung Kesiapan Karier Profesional
Selain mempertimbangkan fasilitas digital, calon mahasiswa juga perlu memperhatikan kualitas pendidikan dan relevansi program studi dengan kebutuhan dunia kerja. Salah satu perguruan tinggi yang dapat dipertimbangkan adalah Universitas Nusa Mandiri (UNM). Universitas ini telah memperoleh akreditasi resmi dari BAN-PT dan berfokus pada pengembangan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini.
Lulusan Universitas Nusa Mandiri memiliki bukti kompetensi yang diakui secara nasional sehingga dapat menjadi nilai tambah dalam pengembangan karier profesional. Dari sisi biaya, UNM juga menawarkan sistem pendidikan yang relatif ramah dan fleksibel, termasuk kemudahan pembayaran secara daring.
Program studi yang tersedia dirancang sesuai kebutuhan dunia kerja modern, seperti Sistem Informasi, Informatika, Sains Data, Manajemen, dan Bisnis Digital. Bidang-bidang tersebut memiliki keterkaitan erat dengan perkembangan teknologi dan transformasi digital yang terus berkembang. Bagi calon mahasiswa yang mencari pendidikan berkualitas dengan orientasi pada kompetensi profesional, Universitas Nusa Mandiri dapat menjadi salah satu alternatif pendidikan yang layak dipertimbangkan.










