
Foto bayi yang diunggah orang tua, riwayat tontonan di platform video, pencapaian di gim edukasi, hingga rekaman suara saat bertanya pada asisten pintar. Semua itu meninggalkan jejak data. Gen Alpha, anak-anak yang tumbuh di era gawai, sering disebut sebagai generasi dengan jejak data paling panjang sejak usia dini.
Klaim bahwa Gen Alpha menghasilkan data terbanyak memang lebih tepat dipahami sebagai gambaran, bukan angka pasti. Namun arahnya jelas, dan topik ini penting bagi mahasiswa Informatika dan Sains Data yang tertarik pada keamanan data. Biar lebih kebayang, kita bahas dari awal.
Gen Alpha dan Jejak Data Sejak Dini
Gen Alpha umumnya dikaitkan dengan anak yang lahir setelah Gen Z. Rentang tahunnya belum baku: McCrindle Research menyebut 2010 sampai 2024, sementara sumber lain memakai rentang berbeda. Yang disepakati secara umum adalah generasi ini tumbuh dengan gawai, media sosial, dan layanan digital sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Akibatnya, jejak digital anak sering terbentuk sebelum ia bisa memutuskan sendiri. Orang tua membagikan foto dan cerita, sekolah memakai aplikasi pembelajaran, dan hiburan anak berjalan di platform yang mencatat kebiasaan menonton. Itulah mengapa Gen Alpha menjadi sorotan dalam diskusi privasi. Bagi generasi sebelumnya, jejak digital baru terbentuk saat remaja. Bagi Gen Alpha, jejak itu bisa terbentuk sejak sebelum lahir, misalnya lewat foto hasil pemeriksaan kehamilan yang diunggah orang tua.
Jenis Data yang Dihasilkan Anak di Platform Digital
Berikut contoh data yang bisa terkumpul ketika anak memakai layanan digital.
- Data identitas dasar seperti nama, usia, dan akun yang didaftarkan orang tua.
- Riwayat tontonan, pencarian, dan permainan yang dimainkan.
- Data perangkat dan lokasi, bila izin diberikan.
- Rekaman suara atau gambar ketika memakai fitur tertentu.
- Prestasi dan perilaku belajar di aplikasi pendidikan.
Data ini, yang diproduksi Gen Alpha setiap hari, bisa dipakai untuk hal yang bermanfaat, seperti merekomendasikan konten sesuai usia atau menyesuaikan tingkat kesulitan belajar. Di sisi lain, data yang sama dapat disalahgunakan untuk iklan yang tidak tepat atau jatuh ke pihak yang tidak berhak bila keamanannya lemah. Pelindungan terhadap data Gen Alpha menjadi tanggung jawab bersama.
Baca juga: Sistem di Balik Transaksi Koin TikTok Ternyata Rumit, Begini Cara Kerja In-App Purchase-nya
Tantangan Privasi bagi Gen Alpha dan Keluarganya
Tantangan pertama adalah persetujuan. Anak belum bisa memahami sepenuhnya apa yang terjadi pada datanya, sehingga keputusan ada di tangan orang tua atau wali. Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi di Indonesia memberi perhatian khusus pada data anak, tetapi penerapan di lapangan tetap membutuhkan kesadaran semua pihak.
Tantangan kedua adalah jejak yang permanen. Unggahan yang dibuat hari ini bisa tersimpan bertahun-tahun, dan sulit dihapus sepenuhnya. Ketika Gen Alpha dewasa, jejak itu mungkin memengaruhi reputasi sang anak tanpa pernah ia pilih sendiri.
Tantangan ketiga adalah pemakaian data untuk personalisasi iklan. Anak-anak lebih mudah dipengaruhi oleh iklan, sehingga penargetan terhadap Gen Alpha memerlukan batas etika yang tegas.
Langkah Pelindungan Data yang Bisa Dilakukan
Menjaga data anak tidak harus rumit. Berikut langkah praktis yang bisa dipertimbangkan.
- Periksa pengaturan privasi di akun dan perangkat yang dipakai anak, lalu batasi izin yang tidak diperlukan.
- Gunakan fitur kontrol orang tua yang sesuai usia.
- Pikirkan ulang sebelum mengunggah foto atau informasi pribadi anak di ruang publik.
- Ajarkan anak untuk tidak membagikan data pribadi, seperti alamat, sekolah, dan nomor telepon.
- Pilih layanan yang jelas kebijakan privasinya dan memungkinkan penghapusan data.
Pengembang yang memahami kebutuhan Gen Alpha juga perlu menimbang bahwa anak-anak tidak membaca kebijakan privasi. Dari sisi teknis, pengembang aplikasi dapat menerapkan prinsip pengumpulan data seperlunya, enkripsi, kontrol akses yang ketat, serta pembaruan keamanan rutin. Bagi calon profesional keamanan data, melindungi Gen Alpha adalah latihan yang sangat nyata.
Peran Mahasiswa dalam Melindungi Data Gen Alpha
Mahasiswa yang menekuni keamanan data bisa berkontribusi lewat edukasi sederhana, misalnya memberi tahu keluarga cara mengatur privasi akun anak. Di dunia kerja, kemampuan merancang sistem yang menghormati privasi dan mematuhi aturan menjadi nilai tambah, terutama bagi perusahaan yang melayani pelanggan keluarga.
Mendalami Keamanan Data di Universitas Nusa Mandiri
Kalau anda tertarik pada perlindungan data, Universitas Nusa Mandiri (UNM) menyediakan program studi Informatika, Sains Data, Sistem Informasi, Manajemen, dan Bisnis Digital. Kombinasinya membantu anda memahami teknis pengamanan sistem, analisis data, sekaligus aspek tata kelola.
UNM terakreditasi BAN-PT, dan kompetensi lulusannya diakui secara nasional untuk karier profesional. Biaya pendidikannya ramah dan fleksibel, dengan pembayaran yang mudah dilakukan secara online. UNM dapat menjadi salah satu alternatif pendidikan yang dapat dipertimbangkan bagi anda yang ingin berkarier di bidang keamanan data.
Pada akhirnya, Gen Alpha membutuhkan orang dewasa dan profesional yang peduli pada keamanan data sejak sekarang.







