Overthinking Bikin Susah Fokus Kuliah, Ini Penjelasan Psikologi dan Cara Mengelolanya

Memilih topik skripsi, menerima tawaran magang, atau menentukan peminatan sering membuat kepala penuh. Pilihan dibandingkan berulang kali, kekurangan dibesar-besarkan, dan keputusan tak kunjung diambil. Itulah overthinking saat memilih, kondisi yang bisa menguras waktu dan energi tanpa menghasilkan jawaban. Bagi mahasiswa Sains Data dan Manajemen, kebiasaan menimbang pilihan secara rapi justru termasuk keterampilan yang perlu dilatih, karena pengambilan keputusan adalah bagian dari pekerjaan sehari-hari.

Kabar baiknya, analis data punya kebiasaan kerja yang bisa dipinjam. Para analis tidak menunggu informasi sempurna, melainkan memakai kerangka yang jelas untuk menimbang pilihan. Biar lebih kebayang, kita lihat langkah-langkahnya.

Mengapa Overthinking Muncul Saat Memilih

Dalam psikologi, overthinking sering dikaitkan dengan ketakutan salah memilih dan keinginan mendapat hasil terbaik. Makin banyak opsi dan makin besar taruhannya, makin kuat dorongan untuk terus menimbang. Penelitian di bidang psikologi keputusan juga menunjukkan bahwa terlalu banyak pilihan dapat membuat orang merasa kurang puas, sehingga overthinking terasa makin wajar muncul. Akibatnya, ada orang yang justru lumpuh dan menunda keputusan sampai kesempatan lewat.

Pola ini wajar, tetapi bisa dilatih. Salah satu caranya adalah mengganti pertanyaan dari mana pilihan yang paling sempurna menjadi mana pilihan yang cukup baik berdasarkan kriteria yang saya tentukan. Pergeseran sederhana ini sudah mengurangi overthinking karena targetnya jadi realistis. Dalam praktik, overthinking juga sering mereda begitu anda tahu persis kapan keputusan harus diambil.

Kerangka Berpikir Terstruktur ala Analis

Analis biasanya memecah keputusan menjadi bagian-bagian kecil. Berikut langkah yang dapat anda tiru.

  1. Rumuskan keputusannya dalam satu kalimat, misalnya memilih topik skripsi yang paling layak dikerjakan semester ini.
  2. Tentukan tiga sampai lima kriteria, seperti ketersediaan data, minat, waktu pengerjaan, dan relevansi karier.
  3. Kumpulkan data pendukung secukupnya, bukan sebanyak-banyaknya.
  4. Beri nilai tiap pilihan pada tiap kriteria, lalu jumlahkan.
  5. Tetapkan batas waktu, lalu ambil keputusan.

Metode ini dikenal sebagai matriks keputusan. Sederhana, tetapi efektif untuk menjaga overthinking agar tidak berputar tanpa arah. Anda cukup memakai spreadsheet untuk menjalankannya. Misalnya, ada tiga tawaran magang. Beri nilai satu sampai lima untuk gaji, jarak, pembelajaran, dan peluang diangkat, lalu kalikan dengan bobot yang anda tentukan. Hasilnya bukan vonis mutlak, tetapi cukup untuk menunjukkan pilihan mana yang paling sesuai, sekaligus menenangkan overthinking yang tadinya hanya berputar di kepala.

Baca juga: Quarter Life Crisis Sering Muncul karena Bingung Karier, Ini Cara Bikin Peta Jalan Biar Nggak Panik

Peran Data dalam Mengurangi Overthinking

Data membantu karena membuat penilaian lebih terlihat. Alih-alih berkata rasanya opsi A lebih bagus, anda bisa melihat bahwa opsi A unggul pada tiga dari empat kriteria. Namun data bukan pengganti penilaian. Angka hanya memperjelas, sementara bobot kriteria tetap anda yang menentukan sesuai nilai dan tujuan pribadi.

Jangan juga mengumpulkan data tanpa henti, karena overthinking bisa menyamar sebagai riset. Itu bentuk overthinking yang terselubung, sering disebut analysis paralysis, yaitu merasa belum cukup informasi padahal keputusan sudah bisa diambil. Tentukan di awal seberapa banyak informasi yang dianggap cukup, misalnya tiga sumber tepercaya, lalu berhenti di situ.

Satu kebiasaan analis lain yang berguna adalah membedakan keputusan yang bisa dibatalkan dan yang sulit dibatalkan. Memilih proyek kelompok bisa diperbaiki bila ternyata kurang cocok, sehingga tidak perlu dipikirkan berminggu-minggu. Memutuskan hal besar seperti pindah kota tentu butuh pertimbangan lebih panjang. Dengan memilah seperti ini, anda menyimpan energi berpikir untuk keputusan yang benar-benar penting, dan overthinking pada urusan kecil bisa dikurangi. Kemampuan memilah semacam ini juga dihargai di tempat kerja, terutama pada peran yang menuntut analisis dan pengambilan keputusan cepat.

Kebiasaan Kecil yang Menjaga Pikiran Tetap Jernih

Selain kerangka, beberapa kebiasaan membantu menahan overthinking. Beri batas waktu pada setiap keputusan, tuliskan alasan pemilihan agar bisa dievaluasi kemudian, dan terima bahwa selalu ada ketidakpastian. Dengan begitu, hasil yang kurang ideal bisa diperlakukan sebagai bahan belajar, bukan bukti bahwa anda salah.

Jika overthinking sudah sangat mengganggu tidur atau aktivitas harian, pertimbangkan berbicara dengan psikolog. Tulisan ini hanya gambaran umum dan bukan pengganti bantuan profesional.

Mengasah Keputusan Berbasis Data di Universitas Nusa Mandiri

Kalau anda tertarik pada cara memakai data untuk mengambil keputusan, Universitas Nusa Mandiri (UNM) menyediakan program studi Sains Data, Manajemen, Sistem Informasi, Informatika, dan Bisnis Digital. Kombinasinya membantu anda memahami analisis sekaligus penerapannya dalam organisasi.

UNM terakreditasi BAN-PT, dan kompetensi lulusannya diakui secara nasional untuk karier profesional. Biaya pendidikannya ramah dan fleksibel, dengan pembayaran yang mudah dilakukan secara online. UNM dapat menjadi salah satu alternatif pendidikan yang dapat dipertimbangkan bagi anda yang ingin berpikir lebih terstruktur.

Pada akhirnya, overthinking tidak hilang dengan memaksa diri berhenti berpikir. Ia mereda ketika pikiran punya kerangka dan batas waktu yang jelas.