NusamandiriNews–Mahasiswa hari ini sebenarnya tidak kekurangan ide bisnis. Yang kurang justru keberanian untuk memulai dan ruang yang mau menampung kegagalan. Saya sering mendengar kalimat yang sama, berulang-ulang. “Idenya sudah ada, Pak… tapi bingung mulainya dari mana.” Atau yang lebih jujur: “Takut salah.”
Ini bukan soal malas. Ini soal tidak punya ekosistem yang aman untuk mencoba. Sebagai Kepala Nusa Mandiri Entrepreneur Center (NEC), saya melihat satu fenomena yang menarik sekaligus ironis: di kepala mahasiswa, ide bisnis itu hidup di dunia nyata, ide itu sering mati sebelum lahir.
Baca juga: Masih Takut Coding? Mahasiswa UNM Saja Sudah Bikin Startup, Kamu Kapan?
Ide Bisnis Mahasiswa Banyak
Padahal, kalau mau jujur, mahasiswa hari ini sangat dekat dengan peluang. Dari usaha kuliner sederhana, jasa digital, konten kreatif, sampai produk berbasis teknologi semuanya ada di sekitar mereka. Masalahnya, banyak ide berhenti di satu tahap yang sama: “kepikiran doang.”
Dan sayangnya, kampus sering tanpa sadar ikut melanggengkan situasi ini. Terlalu sibuk bicara teori, tapi lupa menyediakan ruang untuk gagal.
Di sinilah Nusa Mandiri Entrepreneur Center (NEC) hadir. Bukan sebagai “hakim ide”, tapi sebagai ruang tumbuh. Di Universitas Nusa Mandiri sebagai Kampus Digital Bisnis, kami percaya bahwa kewirausahaan tidak lahir dari keberanian instan, tapi dari proses yang dibimbing dan konsisten. NEC tidak menuntut mahasiswa langsung punya startup unicorn. Kami justru mulai dari hal paling dasar: berani melangkah.
Di NEC, mahasiswa boleh datang dengan ide mentah, keraguan, bahkan rasa takut. Itu bukan kelemahan, itu titik awal. Berbeda dengan ruang kelas yang menuntut jawaban benar, NEC adalah ruang eksplorasi. Diskusi lebih penting daripada nilai. Proses lebih utama daripada hasil instan. Mahasiswa diajak memahami bahwa bisnis itu bukan soal cepat sukses, tapi tahan belajar.
“Di NEC, kami tidak menuntut mahasiswa harus langsung punya bisnis besar. Yang kami dorong adalah keberanian untuk mulai dan kemauan untuk belajar dari proses.”
Saya katakan ini berulang kali, karena Gen Z sering dibebani ekspektasi yang tidak realistis: harus sukses muda, harus viral, harus langsung cuan. Akibatnya? Takut gagal jadi penyakit bersama.
Padahal dalam bisnis, gagal itu bukan aib, gagal itu kurikulum kehidupan. NEC justru memosisikan kegagalan sebagai bagian penting dari pembelajaran. Di sini, mahasiswa tidak ditertawakan karena salah langkah. Mereka diajak refleksi, diperkuat, lalu mencoba lagi.
Universitas Nusa Mandiri (UNM) tidak ingin mahasiswanya hanya lulus sebagai pencari kerja. Sebagai Kampus Digital Bisnis, UNM mendorong lahirnya problem solver dan pencipta peluang. Dan NEC menjadi ruang konkret agar semangat itu tidak berhenti sebagai slogan promosi kampus.
Baca juga:Startup Masuk Fase Seleksi, Mahasiswa Siap Naik Kelas?
Kami membangun lingkungan yang kondusif: tanpa tekanan berlebihan, tapi tetap terarah. Tanpa romantisasi sukses, tapi penuh proses nyata. Bagi saya, NEC bukan sekadar unit kewirausahaan. NEC adalah partner perjalanan. Dari ide yang masih samar, sampai mahasiswa punya peta jalan bisnis yang masuk akal.
Karena pada akhirnya, ide bisnis besar tidak pernah lahir dari keberanian yang tiba-tiba. Ia tumbuh dari langkah kecil yang ditemani dengan benar. Dan jika hari ini masih banyak ide mahasiswa yang berhenti di kepala, mungkin pertanyaannya bukan: “Mahasiswanya kurang niat?”
Tapi: “Apakah kita sudah menyediakan ruang yang cukup aman untuk mereka memulai?”. Kalau idemu masih terjebak di kepala, mungkin sudah waktunya turun ke proses. NEC siap menemani langkah pertamamu.
Penulis: Maruloh, Kepala Nusa Mandiri Entrepreneur Center (NEC), Universitas Nusa Mandiri










