Menu

Mode Gelap
Universitas Nusa Mandiri Raih Klasterisasi Utama: Pengakuan atas Kinerja Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UNM Beri Penghargaan Inovasi Pada Mahasiswa dan Alumni Berprestasi UNM Terima Penghargaan Apresiasi Penggabungan Perguruan Tinggi Tahun 2021 Manfaat Teknologi Untuk Ketahui Kepribadian dan Kecerdasan Pada Anak Sarah, Mahasiswa UNM yang Aktif Kuliah Sambil Berbisnis UNM Gelar Pembekalan Internal Program Kampus Mengajar Angkatan 3 Tahun 2022

Opini

Iqra’ di Era Digital Jangan Berhenti Membaca Mulai Bergerak

badge-check


Iqra’ di Era Digital Jangan Berhenti Membaca Mulai Bergerak Perbesar

NusamandiriNews–Nuzulul Quran bukan sekadar peringatan turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad SAW. Ia adalah momentum lahirnya peradaban berbasis ilmu. Wahyu pertama, Iqra’ bacalah menjadi pesan fundamental bahwa perubahan selalu dimulai dari membaca. Pertanyaannya, apakah semangat itu masih hidup di kampus hari ini?

Sebagai pustakawan di Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis, saya melihat tantangan literasi di era digital jauh lebih kompleks. Membaca tidak lagi terbatas pada lembaran buku. Mahasiswa kini berhadapan dengan banjir informasi: artikel daring, jurnal elektronik, data statistik, tren industri, hingga konten media sosial.

Baca juga:Manajemen Kunci Karier Digital

Iqra’ di Era Digital

Namun membaca di era digital bukan soal kuantitas informasi, melainkan kualitas pemahaman.
Mahasiswa harus mampu membaca data, menafsirkan angka, memilah informasi yang valid, serta mengubah pengetahuan menjadi solusi kreatif. Literasi bukan hanya kemampuan teknis, tetapi juga kecakapan berpikir kritis. Di dunia bisnis digital yang dinamis dan kompetitif, kemampuan inilah yang menjadi pembeda.

Perpustakaan memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem tersebut. Kami tidak lagi sekadar menyediakan rak buku. Perpustakaan hadir melalui koleksi cetak dan digital, akses e-journal bereputasi, repository karya ilmiah, hingga layanan literasi informasi yang membimbing mahasiswa memahami cara menelusur, mengevaluasi, dan memanfaatkan sumber pengetahuan secara tepat.

Perpustakaan adalah ruang bertumbuhnya gagasan. Momentum Nuzulul Quran seharusnya menjadi refleksi bersama bagi seluruh sivitas akademika. Apakah kita sudah menjadikan membaca sebagai budaya, bukan sekadar kewajiban akademik? Apakah riset dan inovasi benar-benar tumbuh dari tradisi literasi yang kuat?

Baca juga:Sains Data vs Informatika, Bedanya di Mana?

Sebagai Kampus Digital Bisnis, Universitas Nusa Mandiri menempatkan literasi, riset, dan inovasi sebagai pilar utama dalam membentuk lulusan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Tanpa budaya membaca yang kuat, transformasi digital hanya akan menjadi slogan.

Semangat Iqra’ hari ini berarti membaca lebih luas dan lebih dalam: membaca perubahan, membaca peluang, dan membaca tantangan masa depan. Karena pada akhirnya, kampus yang besar bukan hanya yang memiliki teknologi canggih, tetapi yang memiliki tradisi intelektual yang hidup.

Penulis: Oleh: Dio Andre Nusa, Pustakawan Universitas Nusa Mandiri, Universitas Nusa Mandiri

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Jangan Jadi Tentara Hoaks Bangun Literasi Digital Sekarang

13 Maret 2026 - 08:44 WIB

Bangun Literasi Digital Sekarang

Jago UI UX Sejak Kuliah Siap Rebut Peluang Karier Digital

12 Maret 2026 - 14:43 WIB

Jago UI UX Sejak Kuliah

Jangan Takut Skripsi Jadikan Penelitianmu Solusi Bisnis

12 Maret 2026 - 14:10 WIB

Jadikan Penelitianmu Solusi Bisnis

Bayangkan Kampus Tanpa Perpustakaan Masihkah Ilmu Punya Arah

11 Maret 2026 - 11:25 WIB

Kampus Tanpa Perpustakaan

Belajar Manajemen Jangan Hanya di Kelas, Saatnya Terjun ke Dunia Nyata

11 Maret 2026 - 10:25 WIB

Belajar Manajemen Jangan Hanya di Kelas
Sedang Tren di Opini