Menu

Mode Gelap
Universitas Nusa Mandiri Raih Klasterisasi Utama: Pengakuan atas Kinerja Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UNM Beri Penghargaan Inovasi Pada Mahasiswa dan Alumni Berprestasi UNM Terima Penghargaan Apresiasi Penggabungan Perguruan Tinggi Tahun 2021 Manfaat Teknologi Untuk Ketahui Kepribadian dan Kecerdasan Pada Anak Sarah, Mahasiswa UNM yang Aktif Kuliah Sambil Berbisnis UNM Gelar Pembekalan Internal Program Kampus Mengajar Angkatan 3 Tahun 2022

Opini

Kuliah untuk Diisi atau Digali?

badge-check


Kuliah untuk Diisi atau Digali? Perbesar

NusamandiriNews–Arah dasar pendidikan tinggi kerap berada di persimpangan dua konsep klasik yakni educare dan educere. Educare memandang pendidikan sebagai proses pengisian transfer pengetahuan dan kompetensi dari luar ke dalam diri mahasiswa. Sebaliknya, educere menekankan proses menggali potensi internal melalui dialog, refleksi, dan keterlibatan kognitif aktif. Dua konsep ini bukan sekadar istilah pedagogik, melainkan penentu wajah dan masa depan pendidikan tinggi.

Berbagai kajian mutakhir menunjukkan bahwa dominasi educare masih kuat di banyak perguruan tinggi. Pembelajaran berpusat pada penyampaian materi, ujian, dan capaian nilai. Mahasiswa ditempatkan sebagai penerima pengetahuan, bukan sebagai subjek yang membangun pemahaman. Pola ini, seperti dikritik sejumlah akademisi, berisiko mereduksi pendidikan tinggi menjadi pabrik pencetak tenaga kerja, bukan ruang pembentukan intelektual.

Baca juga: Siap Go Internasional? UNM Matangkan ICITRI 2026 Berstandar IEEE

Arah Dasar Pendidikan Tinggi

Sebaliknya, pendekatan educere semakin relevan dengan kebutuhan zaman. Dunia hari ini menuntut lulusan yang mampu berpikir kritis, menganalisis persoalan kompleks, dan mengambil keputusan berbasis nalar. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan aktif mahasiswa dalam mengonstruksi pengetahuan, berdialog, dan merefleksikan pengalaman belajar berkorelasi langsung dengan peningkatan kualitas pembelajaran dan lahirnya gagasan baru. Pendidikan tinggi tidak cukup hanya mengajarkan “apa”, tetapi harus melatih “bagaimana berpikir”.

Namun, educere tidak akan berjalan jika sistem akademik tidak siap. Kurikulum yang terlalu padat, relasi dosen, mahasiswa yang hierarkis, serta budaya akademik yang berorientasi nilai sering kali mematikan keberanian intelektual mahasiswa. Dalam situasi seperti ini, pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning) pun berisiko menjadi formalitas. Mahasiswa belajar menebak keinginan dosen, bukan mengasah penalarannya sendiri.

Sebagai Kampus Digital Bisnis, Universitas Nusa Mandiri (UNM) menyadari bahwa transformasi pendidikan tidak cukup dilakukan di ruang kelas. Lingkungan akademik harus didesain sebagai ekosistem educere, ruang yang memberi kesempatan eksplorasi, dialog, dan refleksi. Kurikulum perlu memberi ruang proyek lintas disiplin, studi kasus nyata, dan pembelajaran berbasis pengalaman. Teori harus bertemu praktik, dan praktik harus diuji melalui nalar kritis.

Budaya akademik juga perlu bergeser. Proses berpikir harus dihargai setara, bahkan lebih penting, daripada sekadar angka di transkrip nilai. Mahasiswa harus merasa aman untuk berargumen, berbeda pendapat, dan mengambil risiko intelektual. Dalam konteks ini, peran dosen bergeser dari pusat kebenaran menjadi fasilitator diskusi dan mitra berpikir.

Baca juga:LPPM Universitas Nusa Mandiri Dorong Kualitas Pengabdian Dosen Lewat Monev Hibah DPPM Kemdiktisaintek 2025

Sistem penilaian pun harus bertransformasi. Penilaian berbasis portofolio, proyek kolaboratif, dan proses reflektif lebih sejalan dengan semangat educere dibandingkan ujian hafalan. Yang dinilai bukan hanya hasil akhir, tetapi bagaimana mahasiswa menyusun argumen, menganalisis masalah, dan mengambil keputusan intelektual.

Sebagai Ketua LPPM, saya melihat bahwa riset dan pengabdian kepada masyarakat juga merupakan wahana strategis educere. Ketika mahasiswa terlibat dalam riset dan pemecahan masalah nyata di masyarakat, mereka belajar berpikir secara utuh menghubungkan teori, data, konteks, dan nilai. Inilah pendidikan tinggi yang membebaskan dan memberdayakan.

Pada akhirnya, pertanyaan mendasar bagi pendidikan tinggi adalah ini: apakah kita ingin mahasiswa yang penuh isi, atau mahasiswa yang mampu menggali dan mengembangkan potensi dirinya? Di Universitas Nusa Mandiri, jawabannya jelas. Pendidikan harus berani berpihak pada educere karena masa depan tidak dibangun oleh hafalan, tetapi oleh cara berpikir.

Saatnya kampus berhenti sekadar mengisi kepala mahasiswa. Mari mulai menggali daya pikir mereka.

Penulis: Andi Saryoko, Ketua LPPM Universitas Nusa Mandiri

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kenapa Kita Lebih Mudah Percaya Hoaks daripada Fakta?

6 Februari 2026 - 12:49 WIB

Percaya Hoaks daripada Fakta?

Masih Cari Buku dengan Cara Lama? OPAC Bukan Pajangan Digital

5 Februari 2026 - 08:55 WIB

OPAC Bukan Pajangan Digital

Ide Bisnis Mahasiswa Banyak, yang Jalan Kok Sedikit?

5 Februari 2026 - 08:41 WIB

Ide Bisnis Mahasiswa Banyak

Literasi Kita Tinggi, Membaca Kita Rendah

31 Januari 2026 - 09:44 WIB

Literasi Kita Tinggi

Ketika Pustakawan Mencetak Gol

30 Januari 2026 - 16:31 WIB

Pustakawan Mencetak Gol
Sedang Tren di Opini