NusamandiriNews–Arah dasar pendidikan tinggi kerap berada di persimpangan dua konsep klasik yakni educare dan educere. Educare memandang pendidikan sebagai proses pengisian transfer pengetahuan dan kompetensi dari luar ke dalam diri mahasiswa. Sebaliknya, educere menekankan proses menggali potensi internal melalui dialog, refleksi, dan keterlibatan kognitif aktif. Dua konsep ini bukan sekadar istilah pedagogik, melainkan penentu wajah dan masa depan pendidikan tinggi.
Berbagai kajian mutakhir menunjukkan bahwa dominasi educare masih kuat di banyak perguruan tinggi. Pembelajaran berpusat pada penyampaian materi, ujian, dan capaian nilai. Mahasiswa ditempatkan sebagai penerima pengetahuan, bukan sebagai subjek yang membangun pemahaman. Pola ini, seperti dikritik sejumlah akademisi, berisiko mereduksi pendidikan tinggi menjadi pabrik pencetak tenaga kerja, bukan ruang pembentukan intelektual.
Baca juga: Siap Go Internasional? UNM Matangkan ICITRI 2026 Berstandar IEEE
Arah Dasar Pendidikan Tinggi
Sebaliknya, pendekatan educere semakin relevan dengan kebutuhan zaman. Dunia hari ini menuntut lulusan yang mampu berpikir kritis, menganalisis persoalan kompleks, dan mengambil keputusan berbasis nalar. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan aktif mahasiswa dalam mengonstruksi pengetahuan, berdialog, dan merefleksikan pengalaman belajar berkorelasi langsung dengan peningkatan kualitas pembelajaran dan lahirnya gagasan baru. Pendidikan tinggi tidak cukup hanya mengajarkan “apa”, tetapi harus melatih “bagaimana berpikir”.
Namun, educere tidak akan berjalan jika sistem akademik tidak siap. Kurikulum yang terlalu padat, relasi dosen, mahasiswa yang hierarkis, serta budaya akademik yang berorientasi nilai sering kali mematikan keberanian intelektual mahasiswa. Dalam situasi seperti ini, pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning) pun berisiko menjadi formalitas. Mahasiswa belajar menebak keinginan dosen, bukan mengasah penalarannya sendiri.
Sebagai Kampus Digital Bisnis, Universitas Nusa Mandiri (UNM) menyadari bahwa transformasi pendidikan tidak cukup dilakukan di ruang kelas. Lingkungan akademik harus didesain sebagai ekosistem educere, ruang yang memberi kesempatan eksplorasi, dialog, dan refleksi. Kurikulum perlu memberi ruang proyek lintas disiplin, studi kasus nyata, dan pembelajaran berbasis pengalaman. Teori harus bertemu praktik, dan praktik harus diuji melalui nalar kritis.
Budaya akademik juga perlu bergeser. Proses berpikir harus dihargai setara, bahkan lebih penting, daripada sekadar angka di transkrip nilai. Mahasiswa harus merasa aman untuk berargumen, berbeda pendapat, dan mengambil risiko intelektual. Dalam konteks ini, peran dosen bergeser dari pusat kebenaran menjadi fasilitator diskusi dan mitra berpikir.
Sistem penilaian pun harus bertransformasi. Penilaian berbasis portofolio, proyek kolaboratif, dan proses reflektif lebih sejalan dengan semangat educere dibandingkan ujian hafalan. Yang dinilai bukan hanya hasil akhir, tetapi bagaimana mahasiswa menyusun argumen, menganalisis masalah, dan mengambil keputusan intelektual.
Sebagai Ketua LPPM, saya melihat bahwa riset dan pengabdian kepada masyarakat juga merupakan wahana strategis educere. Ketika mahasiswa terlibat dalam riset dan pemecahan masalah nyata di masyarakat, mereka belajar berpikir secara utuh menghubungkan teori, data, konteks, dan nilai. Inilah pendidikan tinggi yang membebaskan dan memberdayakan.
Pada akhirnya, pertanyaan mendasar bagi pendidikan tinggi adalah ini: apakah kita ingin mahasiswa yang penuh isi, atau mahasiswa yang mampu menggali dan mengembangkan potensi dirinya? Di Universitas Nusa Mandiri, jawabannya jelas. Pendidikan harus berani berpihak pada educere karena masa depan tidak dibangun oleh hafalan, tetapi oleh cara berpikir.
Saatnya kampus berhenti sekadar mengisi kepala mahasiswa. Mari mulai menggali daya pikir mereka.
Penulis: Andi Saryoko, Ketua LPPM Universitas Nusa Mandiri










