Menu

Mode Gelap
Universitas Nusa Mandiri Raih Klasterisasi Utama: Pengakuan atas Kinerja Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UNM Beri Penghargaan Inovasi Pada Mahasiswa dan Alumni Berprestasi UNM Terima Penghargaan Apresiasi Penggabungan Perguruan Tinggi Tahun 2021 Manfaat Teknologi Untuk Ketahui Kepribadian dan Kecerdasan Pada Anak Sarah, Mahasiswa UNM yang Aktif Kuliah Sambil Berbisnis UNM Gelar Pembekalan Internal Program Kampus Mengajar Angkatan 3 Tahun 2022

Opini

Tak Harus Skripsi! Saatnya Mahasiswa Buktikan Kompetensi Nyata

badge-check

NusamandiriNews–Selama bertahun-tahun, skripsi telah menjadi simbol puncak perjalanan akademik mahasiswa sarjana di Indonesia. Ia dianggap sebagai tolok ukur kemampuan intelektual sekaligus syarat mutlak kelulusan. Namun di tengah derasnya arus transformasi digital dan perubahan kebutuhan industri, relevansi skripsi sebagai satu-satunya model tugas akhir patut dipertanyakan.

Dunia kerja hari ini tidak lagi hanya menilai seberapa baik seseorang menulis karya ilmiah, tetapi seberapa mampu ia menghadirkan solusi nyata. Perusahaan, industri, hingga ekosistem startup membutuhkan talenta yang adaptif, kreatif, dan mampu menerjemahkan pengetahuan menjadi produk atau inovasi yang berdampak.

Baca juga:Galau Mulai Skripsi? Ini Cara Menentukan Topik Penelitian Tugas Akhir

Tak Harus Skripsi!

Di titik inilah pendidikan tinggi dituntut untuk berbenah. Sebagai Kampus Digital Bisnis, Universitas Nusa Mandiri (UNM) memandang bahwa sistem tugas akhir harus bergerak lebih progresif. Program Studi (prodi) Sistem Informasi UNM mengadopsi pendekatan multi-skema sebagai jawaban atas tantangan tersebut. Mahasiswa tidak lagi diposisikan dalam satu jalur tunggal bernama skripsi, melainkan diberikan opsi untuk menempuh tugas akhir berbasis karya, inovasi, maupun proyek kolaboratif dengan industri.

Mahasiswa kini dapat mengembangkan aplikasi digital, membangun sistem informasi, merancang dashboard berbasis data, hingga menciptakan solusi berbasis kecerdasan buatan. Tidak hanya itu, publikasi ilmiah, proyek kewirausahaan, dan pengabdian masyarakat berbasis teknologi juga menjadi bagian dari alternatif kelulusan.

Pendekatan ini bukan sekadar inovasi administratif, melainkan strategi untuk memperkuat konsep link and match antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Selama ini, salah satu kritik terbesar terhadap lulusan perguruan tinggi adalah minimnya pengalaman praktis. Banyak yang unggul secara teori, tetapi belum siap menghadapi kompleksitas di lapangan.

Model tugas akhir berbasis proyek menjawab persoalan tersebut secara langsung. Mahasiswa tidak hanya belajar memahami masalah, tetapi juga dituntut untuk menyelesaikannya. Mereka berlatih berpikir kritis, bekerja dalam tim, dan berinteraksi dengan kebutuhan nyata pengguna atau industri.

Lebih jauh, hasil dari tugas akhir ini tidak berhenti sebagai dokumen akademik yang tersimpan di perpustakaan. Karya mahasiswa berpotensi menjadi portofolio profesional, produk digital yang siap dikembangkan, bahkan inovasi yang memiliki nilai ekonomi dan sosial.

Dalam konteks ekonomi digital yang terus berkembang, pendekatan ini menjadi sangat relevan. Indonesia membutuhkan lebih banyak talenta yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja. Pendidikan tinggi harus mengambil peran strategis dalam mencetak generasi tersebut.

Meski demikian, skripsi tidak serta-merta ditinggalkan. Jalur ini tetap penting bagi mahasiswa yang memiliki minat di bidang penelitian atau berencana melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi. Yang berubah adalah cara pandang: skripsi bukan lagi satu-satunya ukuran keberhasilan.

Baca juga: Bidik PKM Nasional, Mahasiswa Prodi Sistem Informasi UNM Siapkan Inovasi Berbasis Industri

Transformasi ini menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh berjalan di tempat ketika dunia bergerak cepat. Perguruan tinggi harus berani keluar dari zona nyaman dan menghadirkan sistem pembelajaran yang lebih adaptif, kontekstual, dan berdampak.

Keberhasilan lulusan tidak lagi diukur dari seberapa tebal laporan yang dihasilkan, tetapi dari seberapa besar kontribusi yang mampu mereka berikan. Dunia membutuhkan problem solver, bukan sekadar penulis laporan.

Sudah saatnya kita mengakhiri dominasi skripsi sebagai satu-satunya jalan kelulusan. Mahasiswa perlu diberi ruang untuk membuktikan bahwa mereka tidak hanya siap lulus, tetapi juga siap berkarya dan menjawab tantangan nyata di era digital.

Penulis: Dr. Sukmawati Anggraeni Putri, Ketua Program Studi Sistem Informasi Universitas Nusa Mandiri (UNM)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Jangan Tertinggal! Prodi Bisnis Digital Jadi Investasi Masa Depan Generasi Muda

13 April 2026 - 08:24 WIB

Prodi Bisnis Digital Jadi Investasi Masa Depan

Riset Mahasiswa UNM Ungkap TikTok Jadi Penentu Keputusan Belanja, Tapi Bukan Faktor Utama

10 April 2026 - 15:18 WIB

Riset Mahasiswa UNM

Bisnis Berubah Cepat, Saatnya Pilih Prodi Bisnis Digital!

10 April 2026 - 12:33 WIB

Bisnis Berubah Cepat

Saatnya Generasi Muda Kuasai Bisnis Digital untuk Industri Perhotelan

10 April 2026 - 12:11 WIB

Generasi Muda Kuasai Bisnis Digital

Stop Jadi User Pasif, Mahasiswa Harus Jadi Penggerak Digital

10 April 2026 - 08:38 WIB

Mahasiswa Harus Jadi Penggerak Digital
Sedang Tren di Opini