NusamandiriNews–Masih banyak siswa SMA/SMK yang mengurungkan niat masuk jurusan teknologi hanya karena satu alasan klasik: takut matematika. Kekhawatiran ini begitu kuat hingga seolah menjadi “tembok tak terlihat” yang menghalangi generasi muda untuk masuk ke dunia teknologi informasi. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat.
Saya memandang bahwa dalam dunia informatika, kemampuan utama yang dibutuhkan bukanlah sekadar penguasaan rumus matematika tingkat tinggi, melainkan logika berpikir dan kreativitas dalam memecahkan masalah. Pemrograman pada dasarnya adalah tentang bagaimana menyusun langkah-langkah sistematis untuk menyelesaikan persoalan, bukan sekadar menghitung angka.
Baca juga:UNM Matangkan Akreditasi Sains Data dan Informatika S3 Demi Lahirkan Talenta Digital Unggul
Tak Jago Matematika?
Kesalahpahaman ini perlu diluruskan. Banyak calon mahasiswa membayangkan bahwa belajar informatika berarti harus mahir kalkulus sejak awal. Faktanya, proses pembelajaran di perguruan tinggi dirancang bertahap. Mahasiswa akan dibimbing dari dasar, mulai dari memahami logika sederhana hingga mampu membangun sistem yang kompleks.
Di Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis, pendekatan pembelajaran di Program Studi Informatika dirancang adaptif dan inklusif, terutama bagi pemula. Kurikulum disusun tidak untuk “menyaring” siapa yang sudah pintar, tetapi untuk “membentuk” siapa yang ingin belajar. Metode pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) menjadi kunci, karena mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi langsung mempraktikkannya dalam bentuk karya nyata.
Dalam proses ini, mahasiswa belajar dengan cara yang lebih kontekstual. Mereka tidak sekadar menulis kode, tetapi juga memahami bagaimana teknologi digunakan untuk menyelesaikan masalah di dunia nyata baik dalam bisnis, layanan publik, maupun kehidupan sehari-hari. Di sinilah kreativitas memainkan peran penting.
Lebih jauh, dukungan ekosistem pembelajaran juga menjadi faktor penentu. Kehadiran dosen praktisi, fasilitas laboratorium, hingga program mentoring dan webinar bersama industri memberikan pengalaman belajar yang lebih relevan. Mahasiswa tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga dari praktik dan kebutuhan nyata di lapangan.
Hal ini penting, mengingat dunia kerja di bidang teknologi berkembang sangat cepat. Perusahaan tidak hanya mencari individu yang paham teori, tetapi juga yang mampu beradaptasi, berpikir kritis, dan menciptakan solusi. Dengan kata lain, kemampuan belajar dan berkembang jauh lebih penting daripada sekadar kemampuan awal.
Saya meyakini bahwa siapa pun memiliki peluang yang sama untuk sukses di bidang teknologi, selama memiliki kemauan belajar dan tidak takut mencoba. Ketakutan terhadap matematika seharusnya tidak menjadi penghalang untuk memasuki dunia yang justru penuh peluang ini.
Baca juga:Lanjut S2 Informatika di 2026: Masih Perlu? Universitas Nusa Mandiri Ungkap Pertimbangannya
Di era digital saat ini, kebutuhan akan talenta IT terus meningkat. Hampir semua sektor mulai dari bisnis, pendidikan, kesehatan, hingga pemerintahan membutuhkan solusi berbasis teknologi. Artinya, peluang karier di bidang informatika semakin terbuka lebar bagi generasi muda.
Karena itu, penting bagi siswa untuk mulai mengubah cara pandang. Jurusan teknologi bukan hanya untuk mereka yang “jago hitung-hitungan”, tetapi untuk mereka yang ingin berpikir, berkreasi, dan menciptakan solusi.
Jika Anda memiliki rasa ingin tahu, suka memecahkan masalah, dan tertarik pada teknologi, maka dunia informatika adalah tempat yang tepat untuk berkembang. Jangan biarkan mitos menghalangi langkah Anda.
Saatnya berani mencoba dan memulai. Karena masa depan digital tidak menunggu mereka yang ragu, tetapi mereka yang siap belajar dan bergerak.
Penulis: Arfhan Prasetyo, Ketua Program Studi Informatika Universitas Nusa Mandiri (UNM)









