NusamandiriNews–Kampus sering disebut sebagai laboratorium kehidupan, tempat ide-ide besar tumbuh dan bertransformasi menjadi solusi nyata. Namun, di tengah derasnya arus digitalisasi, dunia akademik kerap kehilangan koneksi dengan realitas sosial. Banyak lulusan yang unggul dalam teori, tetapi gamang ketika harus menghadapi tantangan praktik di lapangan. Fenomena ini mencerminkan adanya jurang yang kian lebar antara dunia kampus dan dunia nyata.
Sebagai Kampus Digital Bisnis, Universitas Nusa Mandiri (UNM) menolak untuk menjadi menara gading yang terisolasi dari masyarakat. Di kampus ini, pendidikan dirancang bukan hanya untuk mencetak sarjana yang pandai berbicara tentang perubahan, tetapi yang mampu menjadi pelaku perubahan itu sendiri. Melalui pendekatan pembelajaran kontekstual, mahasiswa Informatika S1 UNM diajak untuk memaknai teknologi sebagai alat untuk menyelesaikan masalah sosial bukan sekadar simbol kemajuan digital.
Baca juga: Sarjana Sejati di Era Digital, Bukan Sekadar Gelar Tapi Tanggung Jawab Sosial
Waktunya Kampus Bergerak
Keterputusan antara teori dan praktik masih sering terjadi karena sistem pendidikan tinggi terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif dan administratif. Riset masih banyak yang bersifat formalitas akademik, belum benar-benar diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Sementara itu, proses pembelajaran lebih sering mengejar nilai daripada menanamkan makna.
Program Studi Informatika S1 UNM berusaha memecah kebekuan itu dengan pendekatan berbasis aksi. Mahasiswa tidak hanya belajar coding dan teori algoritma, tetapi juga ditantang untuk menerapkannya dalam riset terapan, proyek pengabdian masyarakat digital, serta kolaborasi dengan dunia industri. Melalui praktik tersebut, mahasiswa dilatih berpikir kritis, adaptif, dan inovatif, karakter yang mutlak dibutuhkan di abad ke-21.
Pendidikan tinggi seharusnya menjadi ruang kolaboratif yang menyatukan dunia akademik, industri, dan masyarakat. Kampus tidak boleh berdiri di menara gading, tetapi harus turun tangan memecahkan persoalan nyata. Di UNM, mahasiswa Informatika S1 diarahkan untuk menciptakan solusi berbasis komunitas dan teknologi sosial, agar ilmu yang mereka miliki menjadi kekuatan yang hidup bukan hanya pengetahuan yang dibukukan.
Baca juga:Era Digital, Prodi Informatika UNM Mantap dengan Status UNGGUL
Misi baru pendidikan tinggi Indonesia bukan sekadar mencetak sarjana berintelektual tinggi, tetapi membentuk motor perubahan sosial yang mampu menjawab tantangan zaman. Melalui integrasi antara ilmu dan aksi, inovasi dan empati, Kampus Digital Bisnis UNM membuktikan bahwa pendidikan sejati adalah yang menghadirkan dampak.
Ketika dunia kampus dan dunia nyata berjalan beriringan, lahirlah generasi Informatika UNM yang berilmu, beretika, dan berdaya guna bukan hanya siap bekerja, tetapi juga siap mengabdi dan membangun bangsa melalui teknologi yang berpihak pada kemanusiaan.
Penulis: Arfhan Prasetyo, Kaprodi Informatika Universitas Nusa Mandiri (UNM)










