NusamandiriNews, Jakarta — Anggapan bahwa kuliah mahal identik dengan kualitas masih melekat kuat di masyarakat. Padahal, paradigma tersebut sudah tidak lagi relevan di era ekonomi digital saat ini. Pendidikan tinggi kini bukan sekadar soal biaya, melainkan tentang relevansi dengan kebutuhan industri.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, dunia kerja menuntut lulusan yang adaptif, menguasai keterampilan digital, serta siap terjun langsung ke dunia profesional. Ironisnya, banyak generasi muda justru terhambat mengakses pendidikan tinggi karena faktor biaya.
Baca juga:Tak Cuma Teori, Mahasiswa FEB UNM Disiapkan Kuasai Bisnis Digital
Kuliah Harus Mahal?
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa kondisi ekonomi masih menjadi salah satu penghambat utama dalam melanjutkan pendidikan. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang terus meningkat membuka peluang kerja yang luas. Namun, peluang tersebut belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan karena keterbatasan akses pendidikan.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Nusa Mandiri (UNM), Ida Zuniarti, menegaskan bahwa sudah saatnya cara pandang terhadap pendidikan diubah.
“Fokus pendidikan tinggi hari ini bukan lagi mahal atau murah, tetapi relevan atau tidak dengan kebutuhan industri. Mahasiswa harus dibekali keterampilan yang aplikatif dan siap digunakan di dunia kerja,” ujarnya, Jumat (10/4).
Ia juga menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan sistem pembelajaran yang inklusif dan terjangkau tanpa mengorbankan kualitas. Menurutnya, teknologi menjadi kunci dalam menciptakan akses pendidikan yang lebih luas.
Sebagai Kampus Digital Bisnis, UNM melalui FEB menghadirkan pendekatan pembelajaran berbasis industri yang adaptif dan aplikatif. Salah satunya melalui Program Studi Manajemen dan Bisnis Digital yang dirancang untuk menjawab kebutuhan dunia kerja modern.
Salah satu implementasi nyata adalah Internship Experience Program (IEP) 3+1, yaitu skema pembelajaran tiga tahun di kampus dan satu tahun pengalaman langsung di dunia industri. Program ini memungkinkan mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga merasakan langsung dinamika kerja profesional.
Konsep pembelajaran digital yang diterapkan juga memberikan fleksibilitas dan efisiensi, sehingga mampu menekan biaya tanpa mengurangi kualitas pendidikan. Mahasiswa dapat mengakses pembelajaran yang relevan, mengikuti perkembangan industri, serta membangun keterampilan yang dibutuhkan di era digital.
Ida Zuniarti menambahkan bahwa kolaborasi antara pemerintah, industri, dan perguruan tinggi sangat diperlukan untuk memperluas akses pendidikan. Ia menilai bahwa keberhasilan memanfaatkan bonus demografi bergantung pada kesiapan sumber daya manusia yang kompeten.
“Jika akses pendidikan tidak diperluas, kita berisiko memiliki banyak usia produktif tanpa kompetensi yang memadai. Ini yang harus kita cegah bersama,” jelasnya.
Baca juga:FEB UNM Siapkan Lulusan Siap Industri Lewat Program IEP 3+1
Pada akhirnya, pendidikan tinggi harus menjadi ruang yang inklusif bagi semua kalangan. Bukan lagi tentang siapa yang mampu kuliah, tetapi bagaimana setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.
Kuliah mahal bukan lagi standar kualitas, melainkan mitos lama yang sudah saatnya ditinggalkan.
Bagi masyarakat yang ingin mengakses pendidikan berkualitas dengan biaya terjangkau, informasi pendaftaran dapat diakses melalui https://pmb.nusamandiri.ac.id/.
Dengan semangat “Ubah Mimpi Jadi Prestasi,” UNM berkomitmen menghadirkan pendidikan tinggi yang relevan, terjangkau, dan siap menjawab tantangan masa depan.










