NusamandiriNews–Selama beberapa tahun terakhir, marketplace menjadi ikon utama perkembangan ekonomi digital Indonesia. Berbagai platform e-commerce berhasil mengubah cara masyarakat berbelanja, mempertemukan penjual dan pembeli dalam ruang digital yang praktis dan efisien. Namun, saya melihat bahwa lanskap bisnis digital sedang memasuki babak baru. Marketplace tidak lagi menjadi satu-satunya pusat aktivitas perdagangan digital. Kini, media sosial mulai mengambil peran yang jauh lebih strategis melalui fenomena yang dikenal sebagai social commerce.
Perubahan ini sebenarnya bukan sesuatu yang mengejutkan. Konsumen digital saat ini mengalami pergeseran perilaku yang sangat signifikan. Mereka tidak lagi sekadar mencari produk dengan harga terbaik, tetapi juga mencari pengalaman, keterhubungan emosional, serta kepercayaan terhadap sebuah merek. Sebelum membeli suatu produk, konsumen cenderung melihat ulasan pengguna lain, menonton konten video, mengikuti rekomendasi influencer, atau bahkan berinteraksi langsung dengan pemilik usaha melalui media sosial.
Baca juga:Riset Dosen UNM Bongkar Rahasia Loyalitas Konsumen Marketplace, Pebisnis Wajib Tahu!
Social Commerce Menggeser Marketplace
Dalam konteks tersebut, media sosial telah berkembang jauh melampaui fungsi awalnya sebagai sarana komunikasi. Platform seperti TikTok, Instagram, YouTube, hingga WhatsApp kini menjadi ruang yang memengaruhi keputusan pembelian secara langsung. Konten kreatif, interaksi komunitas, dan komunikasi yang autentik menjadi faktor yang semakin menentukan keberhasilan sebuah bisnis.
Menurut saya, fenomena ini menunjukkan bahwa masa depan perdagangan digital tidak lagi hanya berbicara tentang transaksi, tetapi juga tentang hubungan. Konsumen ingin merasa dekat dengan merek yang mereka pilih. Mereka ingin mengetahui nilai yang diperjuangkan sebuah bisnis, memahami cerita di balik produk, dan menjadi bagian dari komunitas yang memiliki minat yang sama.
Inilah yang membedakan social commerce dengan marketplace konvensional. Jika marketplace berfokus pada efisiensi transaksi, social commerce berfokus pada penciptaan pengalaman dan keterlibatan. Dalam banyak kasus, keputusan pembelian justru lahir dari rasa percaya yang dibangun melalui interaksi digital yang konsisten.
Perubahan tersebut sekaligus menghadirkan tantangan baru bagi dunia usaha. Keberhasilan bisnis tidak lagi ditentukan semata oleh kualitas produk atau strategi harga. Pelaku usaha harus mampu membangun komunikasi yang relevan, menciptakan konten yang bernilai, memahami perilaku audiens, serta mengelola hubungan jangka panjang dengan pelanggan.
Di sisi lain, transformasi ini juga memberikan sinyal kuat bagi dunia pendidikan tinggi. Saya meyakini bahwa kebutuhan industri saat ini tidak lagi dapat dijawab dengan pendekatan pendidikan yang bersifat konvensional. Dunia kerja membutuhkan talenta yang mampu mengintegrasikan kemampuan bisnis, teknologi, kreativitas, dan analisis data secara bersamaan.
Karena itu, pengembangan kompetensi digital harus dilakukan secara komprehensif. Generasi muda perlu memahami bagaimana membangun strategi pemasaran digital, mengelola media sosial, menciptakan pengalaman pelanggan yang positif, menganalisis data perilaku konsumen, hingga mengembangkan model bisnis yang adaptif terhadap perubahan teknologi.
Sebagai bagian dari Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis, kami melihat bahwa penguasaan teknologi saja tidak cukup. Talenta digital masa depan harus memiliki kemampuan memahami manusia. Sebab pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Nilai sesungguhnya terletak pada bagaimana teknologi digunakan untuk menciptakan solusi yang relevan dan memberikan pengalaman terbaik bagi pengguna.
Indonesia memiliki peluang yang sangat besar dalam era social commerce. Dengan jumlah pengguna internet dan media sosial yang terus meningkat, ruang untuk menciptakan inovasi bisnis digital semakin terbuka lebar. Namun peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan apabila kita mampu menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi sesuai dengan kebutuhan zaman.
Oleh karena itu, sinergi antara dunia pendidikan, industri, pemerintah, dan masyarakat menjadi sangat penting. Kita membutuhkan ekosistem yang mampu melahirkan generasi yang tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta inovasi dan penggerak ekonomi digital.
Baca juga:Aston Mampang Hotel Bidik Mahasiswa UNM, Peluang Magang di Finance hingga Digital Marketing Dibuka
Saya percaya bahwa masa depan perdagangan digital akan dimenangkan oleh mereka yang mampu memahami dua hal sekaligus: teknologi dan manusia. Mereka yang mampu menggabungkan kreativitas, data, komunikasi, serta pemahaman mendalam terhadap perilaku konsumen akan menjadi pemimpin dalam gelombang baru ekonomi digital.
Marketplace mungkin tidak akan hilang. Namun dominasinya perlahan mulai bergeser. Era baru telah dimulai, dan namanya adalah social commerce. Pertanyaannya bukan lagi apakah perubahan itu akan terjadi, melainkan seberapa siap kita menghadapi dan memanfaatkannya untuk menciptakan nilai yang lebih besar bagi masyarakat dan perekonomian Indonesia.
Penulis: Lia Mazia, Ketua Program Studi Bisnis Digital Universitas Nusa Mandiri










