
Di tengah banjir iklan digital, saya melihat satu persoalan yang semakin penting bagi dunia bisnis: perusahaan terlalu sibuk mencari pelanggan baru, tetapi sering lupa merawat pelanggan yang sudah ada.
Setiap hari kita melihat iklan bermunculan di media sosial. Promosi datang silih berganti, influencer menawarkan berbagai produk, dan marketplace berlomba memberikan potongan harga. Namun, apakah semua itu otomatis membuat konsumen menjadi loyal? Belum tentu.
Di era digital, konsumen tidak lagi hanya membeli produk. Mereka juga mencari pengalaman, interaksi, pengakuan, bahkan rasa memiliki terhadap sebuah merek. Karena itu, menurut saya, masa depan pemasaran tidak cukup hanya berbicara tentang bagaimana mendapatkan customer, tetapi bagaimana mengubah customer menjadi bagian dari sebuah komunitas.
Baca juga:5 Langkah Utama Strategi Bangun Bisnis Bagi Mahasiswa
Bangun Komunitas!
Perubahan ini membawa konsekuensi besar bagi perusahaan. Strategi pemasaran yang hanya mengandalkan frekuensi iklan akan semakin sulit menghadapi konsumen yang kritis dan memiliki banyak pilihan. Ketika produk serupa tersedia dalam hitungan detik melalui mesin pencarian atau marketplace, hubungan antara merek dan konsumen menjadi pembeda yang sangat penting.
Di sinilah komunitas digital memainkan peran strategis. Sebuah komunitas bukan sekadar kumpulan akun yang mengikuti media sosial perusahaan. Komunitas adalah ruang interaksi ketika konsumen dapat berdiskusi, berbagi pengalaman, memberikan masukan, mengikuti kegiatan, sekaligus merasa memiliki hubungan dengan sebuah merek.
Karena itu, perusahaan membutuhkan profesi yang mampu mengelola hubungan tersebut secara serius. Salah satunya adalah Virtual Event & Community Manager. Saya memandang profesi ini jauh lebih kompleks daripada sekadar menjadi admin media sosial. Seorang pengelola komunitas digital harus mampu memahami karakter audiens, membangun komunikasi, merancang kegiatan virtual, mengelola dinamika komunitas, sekaligus menjaga reputasi perusahaan.
Kemampuan teknis saja tidak cukup. Bayangkan sebuah perusahaan memiliki platform komunitas dengan ribuan anggota, tetapi tidak memiliki orang yang mampu memahami konflik, merespons kritik, menjaga komunikasi, dan menciptakan aktivitas yang menarik. Komunitas tersebut mungkin memiliki jumlah anggota yang besar, tetapi belum tentu memiliki kehidupan.
Di sinilah kecerdasan emosional menjadi sama pentingnya dengan kecakapan digital. Seorang Community Manager harus mampu mendengarkan sebelum menjawab, memahami sebelum mengambil keputusan, dan membangun hubungan sebelum meminta konsumen membeli. Prinsipnya sederhana: jangan memperlakukan anggota komunitas hanya sebagai target pemasaran.
Mereka adalah manusia yang ingin didengar. Perubahan paradigma ini juga menjadi tantangan bagi perguruan tinggi. Jika industri membutuhkan talenta digital yang mampu menggabungkan kemampuan teknologi dan kemampuan komunikasi, maka pendidikan tinggi tidak boleh hanya berfokus pada keterampilan teknis.
Mahasiswa perlu dibentuk menjadi individu yang mampu memahami teknologi sekaligus memahami manusia yang menggunakan teknologi tersebut.
Di Program Studi Bisnis Digital Universitas Nusa Mandiri (UNM), pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Mahasiswa tidak hanya diperkenalkan pada konsep bisnis dan teknologi digital, tetapi juga dibekali kemampuan interpersonal dan komunikasi bisnis.
Mata kuliah seperti Interpersonal Skill dan English for Business memiliki relevansi yang kuat dengan kebutuhan tersebut. Kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, memimpin, memahami karakter orang lain, serta menyampaikan gagasan secara efektif merupakan kompetensi yang semakin menentukan keberhasilan seorang profesional di lingkungan kerja digital.
Apalagi komunitas digital tidak mengenal batas geografis. Seorang Community Manager dapat berinteraksi dengan anggota komunitas dari berbagai kota, bahkan berbagai negara. Karena itu, kemampuan bahasa Inggris dan komunikasi lintas budaya bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan bagian dari kompetensi profesional.
Saya percaya, lulusan Bisnis Digital harus mampu menjadi penghubung antara teknologi, bisnis, dan manusia. Teknologi dapat membantu perusahaan mengumpulkan data. Algoritma dapat membantu membaca perilaku konsumen. Kecerdasan buatan dapat membantu memberikan rekomendasi. Tetapi membangun kepercayaan dan hubungan jangka panjang tetap membutuhkan kemampuan manusia untuk berkomunikasi dan memahami manusia lainnya.
Inilah mengapa saya melihat peluang profesi Virtual Event & Community Manager akan semakin relevan. Ketika perusahaan mulai menyadari bahwa loyalitas konsumen tidak bisa dibeli hanya dengan diskon, kebutuhan terhadap talenta yang mampu membangun komunitas akan semakin besar.
Pada akhirnya, bisnis digital bukan sekadar persoalan menjual melalui internet. Bisnis digital adalah tentang bagaimana teknologi digunakan untuk menciptakan nilai dan membangun hubungan yang berkelanjutan.
Perusahaan boleh memiliki teknologi paling canggih. Boleh memiliki aplikasi yang menarik. Boleh memiliki anggaran iklan yang besar. Tetapi jika konsumen tidak merasa dihargai, semua itu mudah kehilangan makna.
Baca juga:Mahasiswa Bisnis Digital UNM Raih Medali Perak Robotik Dunia di Malaysia
Karena itu, saya ingin mengajak generasi muda untuk melihat dunia digital secara lebih luas. Jangan hanya belajar bagaimana membuat konten viral. Pelajari bagaimana membangun hubungan. Jangan hanya mengejar jumlah followers. Pelajari bagaimana menciptakan komunitas. Jangan hanya menjadi pengguna teknologi. Jadilah talenta yang mampu mengubah teknologi menjadi solusi bisnis dan hubungan yang bernilai.
Sebagai Kampus Digital Bisnis, Universitas Nusa Mandiri (UNM) terus mendorong lahirnya talenta yang memiliki keseimbangan antara kompetensi digital, kemampuan bisnis, dan kecakapan interpersonal. Sebab dunia kerja masa depan tidak hanya membutuhkan orang yang pintar menggunakan teknologi, tetapi juga orang yang mampu memimpin, berkomunikasi, berkolaborasi, dan membangun kepercayaan.
Jika masa depan bisnis adalah komunitas, maka masa depan talenta digital adalah mereka yang mampu membangun dan merawatnya.
Penulis: Lia Mazia, Ketua Program Studi Bisnis Digital Universitas Nusa Mandiri








