
NusamandiriNews – Ada satu mata kuliah yang kerap membuat mahasiswa Informatika merasa berhadapan dengan tumpukan teori, bab, instrumen, hipotesis, dan berbagai aturan akademik yaitu Metodologi Penelitian. Tidak sedikit yang memandangnya sekadar sebagai kewajiban sebelum menyelesaikan tugas akhir atau memenuhi tuntutan perkuliahan.
Saya justru melihatnya dari sudut yang berbeda. Metodologi Penelitian seharusnya menjadi salah satu fondasi terpenting dalam pendidikan Informatika. Di tengah perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang semakin cepat, kemampuan membuat teknologi saja tidak cukup. Mahasiswa juga harus mampu memahami masalah, menguji asumsi, membaca data, memilih metode yang tepat, serta memastikan solusi yang dibangun benar-benar memberikan manfaat.
Baca juga:Akreditasi Unggul Jadi Bukti, Doktor Informatika UNM Serius Garap Riset Teknologi
Riset Bukan Formalitas
Informatika tidak boleh berhenti pada kemampuan menulis kode. Seorang talenta digital harus mampu menjawab persoalan dengan pendekatan yang sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan.
Hal tersebut dapat terlihat dari lahirnya proposal Program Kreativitas Mahasiswa-Karsa Cipta (PKM-KC) berjudul SIGAP-OBAT: Prototype Sistem Identifikasi Otomatis Zat Farmasi Berbahaya Berbasis Deep Learning dan Large Language Model. Bagi saya, karya ini menunjukkan bagaimana metodologi penelitian dapat menjadi jembatan antara persoalan nyata dan inovasi teknologi.
Tim yang dipimpin Nurima Agusnita bersama Satria Afzal Zaydan, Afra Nur Rafifah, Syifa Aisyah, dan Nabilah Septya Herlina tidak berhenti pada pencarian referensi. Mereka mencoba melihat persoalan yang ada di lapangan, khususnya kondisi label obat yang dapat mengalami kerusakan atau distorsi, kemudian menerjemahkannya menjadi persoalan teknologi yang dapat diteliti dan dikembangkan.
Inilah esensi penelitian yang sesungguhnya. Penelitian bukan sekadar mencari teori untuk memenuhi halaman laporan. Penelitian adalah proses memahami persoalan secara lebih dalam sebelum menawarkan solusi. Dalam konteks SIGAP-OBAT, mahasiswa mencoba menggabungkan Computer Vision, Optical Character Recognition (OCR), Deep Learning, dan Large Language Model (LLM) ke dalam sebuah rancangan solusi yang diarahkan untuk membantu proses identifikasi informasi terkait zat farmasi.
Pendekatan tersebut juga memperlihatkan bahwa inovasi teknologi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang spektakuler. Sering kali inovasi justru lahir dari persoalan sederhana yang kita temukan di sekitar, tetapi belum mendapatkan solusi yang tepat.
Karena itu, saya selalu mendorong mahasiswa Informatika untuk mengubah cara pandang terhadap penelitian. Jangan melihat metodologi sebagai kumpulan aturan yang membatasi kreativitas. Sebaliknya, metodologi adalah peta yang membantu kreativitas bergerak menuju tujuan yang jelas.
Ide yang bagus membutuhkan metode yang tepat. Teknologi yang canggih membutuhkan validasi. Bahkan kecerdasan buatan sekalipun membutuhkan data yang berkualitas, proses pengujian, serta pertimbangan etika agar penggunaannya tidak menimbulkan persoalan baru.
Di sinilah perguruan tinggi memiliki tanggung jawab.
Sebagai Kampus Digital Bisnis, Universitas Nusa Mandiri (UNM) berupaya membangun ekosistem pembelajaran yang tidak memisahkan teori dengan praktik. Bagi kami, ruang kelas bukan sekadar tempat mahasiswa menerima materi, tetapi ruang awal untuk melahirkan gagasan yang dapat diuji dan dikembangkan menjadi karya.
Di Program Studi (prodi) Informatika (S1), pembelajaran diarahkan agar mahasiswa memiliki kemampuan teknis sekaligus kemampuan berpikir kritis. Mereka perlu memahami algoritma dan teknologi, tetapi juga harus mampu mengidentifikasi masalah, mengolah informasi, memilih pendekatan penelitian, serta mengevaluasi apakah solusi yang mereka bangun benar-benar efektif.
Dalam proses tersebut, dosen memiliki peran yang lebih besar daripada sekadar memberikan nilai. Dosen perlu menjadi mentor yang membantu mahasiswa mempertajam masalah, memvalidasi data, memilih metode, sekaligus mengarahkan pengembangan solusi agar memiliki dasar akademik dan manfaat praktis.
Saya percaya bahwa karya seperti SIGAP-OBAT merupakan contoh bagaimana proses tersebut dapat menghasilkan sesuatu yang lebih bermakna. Sebuah proposal penelitian dapat berkembang menjadi prototipe. Sebuah prototipe dapat diuji. Hasil pengujian dapat menjadi dasar pengembangan berikutnya. Pada akhirnya, karya akademik memiliki peluang untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
Inilah budaya riset yang ingin terus kami bangun. Mahasiswa Informatika hari ini hidup di tengah perubahan teknologi yang luar biasa cepat. Artificial Intelligence, Deep Learning, Computer Vision, Internet of Things, Cloud Computing, hingga berbagai teknologi baru terus berkembang. Namun, teknologi yang terus berubah membutuhkan manusia yang mampu berpikir lebih fundamental.
Kemampuan berpikir kritis, memahami masalah, melakukan penelitian, membaca data, dan mengambil keputusan berdasarkan bukti tidak akan kehilangan relevansinya meskipun teknologi berubah.
Karena itu, saya ingin mahasiswa memandang Metodologi Penelitian bukan sebagai mata kuliah yang harus segera dilewati, melainkan sebagai bekal untuk membangun cara berpikir seorang inovator.
Setiap masalah dapat menjadi bahan penelitian. Setiap data dapat menjadi sumber pengetahuan. Setiap pengetahuan dapat menjadi dasar inovasi. Dan setiap inovasi memiliki peluang untuk memberikan manfaat apabila dikembangkan melalui proses yang terukur.
Bagi saya, keberhasilan pendidikan Informatika bukan hanya ketika mahasiswa mampu membuat aplikasi atau menguasai bahasa pemrograman. Keberhasilan yang lebih besar terjadi ketika mereka mampu melihat persoalan di sekitarnya, merumuskan masalah dengan tepat, membangun solusi berbasis teknologi, lalu membuktikan bahwa solusi tersebut memberikan dampak.
Baca juga:Prodi Sains Data UNM Raih Akreditasi Unggul, Bidik Lulusan Berdaya Saing Global
Itulah semangat yang terus kami dorong di UNM sebagai Kampus Digital Bisnis. Kami ingin mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi menjadi pencipta solusi. Tidak hanya mengikuti perkembangan AI, tetapi mampu memanfaatkannya secara bertanggung jawab. Tidak hanya menghasilkan tugas kuliah, tetapi menghasilkan karya yang memiliki nilai akademik dan manfaat sosial.
Pada akhirnya, metodologi bukanlah tembok yang membatasi kreativitas. Metodologi adalah jalan agar kreativitas memiliki arah, inovasi memiliki dasar, dan teknologi memiliki tujuan.
Informasi dan pendaftaran mahasiswa baru dapat dilakukan secara online melalui https://pmb.nusamandiri.ac.id dan informasi resmi kampus melalui https://nusamandiri.ac.id/.
Penulis: Arfhan Prasetyo, Ketua Program Studi Informatika (S1) Universitas Nusa Mandiri








