
NusamandiriNews – Perkembangan Artificial Intelligence (AI) menghadirkan satu perubahan besar yang tidak bisa lagi kita abaikan: dunia kerja sedang bergerak menuju cara kerja yang berbeda. Bagi saya, perubahan ini bukan alasan untuk menakut-nakuti generasi muda, melainkan momentum untuk mengubah cara kita mempersiapkan diri.
Kita memang tidak pernah tahu secara pasti pekerjaan apa yang lima atau sepuluh tahun mendatang akan mengalami otomatisasi. Namun, satu hal semakin jelas: pekerjaan yang bersifat rutin, repetitif, dan terstruktur semakin mudah dibantu oleh teknologi. Pengolahan data, pekerjaan administratif, penyusunan dokumen, hingga layanan berbasis informasi merupakan contoh aktivitas yang berpotensi semakin banyak menggunakan otomatisasi.
Baca juga:NEX.Ai UNM Tembus Final TTG Bekasi, Bawa Inovasi Sanitasi Cerdas
Takut Digantikan AI
Perubahan tersebut juga terjadi di sektor pemerintahan. Kehadiran AI dapat membantu aparatur dalam menyelesaikan berbagai pekerjaan administratif sehingga waktu dan energi dapat dialihkan untuk pekerjaan yang membutuhkan penalaran, pengambilan keputusan, kreativitas, kepemimpinan, komunikasi, serta pemahaman terhadap konteks manusia.
Karena itu, saya tidak melihat AI sebagai musuh manusia. Saya justru melihat AI sebagai alat yang akan membedakan mereka yang mampu beradaptasi dengan mereka yang memilih bertahan dengan cara lama.
Generasi muda tidak perlu mempersiapkan diri untuk berperang melawan AI. Mereka perlu mempersiapkan diri agar mampu bekerja bersama AI. Inilah tantangan terbesar pendidikan tinggi hari ini.
Perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang memahami teori dan menguasai kemampuan teknis dasar. Mahasiswa harus memiliki kemampuan untuk memahami teknologi, membaca data, berpikir kritis, memecahkan masalah, serta menggunakan AI secara bertanggung jawab.
AI tidak seharusnya hanya menjadi alat untuk mencari jawaban atau menyelesaikan tugas perkuliahan. Jika digunakan secara tepat, AI dapat menjadi instrumen untuk mengeksplorasi ide, membantu menganalisis data, mempercepat proses kerja, mengembangkan sistem, dan menciptakan solusi atas persoalan nyata.
Di sinilah pentingnya mengubah pola pikir mahasiswa dari pengguna teknologi menjadi pencipta solusi. Sebagai Kepala Universitas Nusa Mandiri (UNM) Kampus Margonda, saya melihat bahwa kebutuhan tersebut harus dijawab melalui pendidikan yang relevan dengan perubahan industri. Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis berupaya membangun lingkungan pembelajaran yang mempertemukan kompetensi akademik dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja.
Di Fakultas Teknologi Informasi, mahasiswa memiliki pilihan bidang yang semakin relevan dengan transformasi digital, yaitu Program Studi Informatika, Sistem Informasi, dan Sains Data. Ketiganya memiliki karakter kompetensi yang berbeda, tetapi saling beririsan dalam menghadapi perkembangan AI dan ekonomi digital.
Mahasiswa Informatika dipersiapkan untuk memahami pengembangan perangkat lunak dan teknologi komputasi. Mahasiswa Sistem Informasi dibekali kemampuan menghubungkan teknologi dengan kebutuhan bisnis dan organisasi. Sementara mahasiswa Sains Data diarahkan untuk mengolah serta menganalisis data sehingga dapat menjadi dasar pengambilan keputusan.
Menurut saya, ketiga bidang tersebut bukan sekadar pilihan jurusan. Ketiganya merupakan bagian dari ekosistem kompetensi yang semakin dibutuhkan ketika teknologi berkembang semakin cepat.
Namun, teknologi saja tidak cukup. Seorang lulusan yang memahami AI tetapi tidak mampu berkomunikasi, bekerja sama, memahami kebutuhan pengguna, atau mengambil keputusan secara etis tetap akan menghadapi keterbatasan. Sebaliknya, seseorang yang memiliki kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan pemahaman teknologi akan memiliki ruang adaptasi yang lebih luas ketika dunia kerja berubah.
Karena itu, mahasiswa harus membangun kompetensi yang tidak mudah kehilangan relevansi. Saya selalu menyampaikan kepada mahasiswa bahwa jangan kuliah hanya untuk mengejar pekerjaan yang tersedia hari ini. Persiapkan kompetensi untuk pekerjaan yang mungkin dibutuhkan beberapa tahun ke depan.
Kita tidak dapat menghentikan perkembangan AI. Kita juga tidak dapat meminta industri untuk kembali menggunakan cara kerja lama. Yang dapat kita lakukan adalah meningkatkan kemampuan manusia agar mampu memanfaatkan teknologi tersebut secara produktif dan bertanggung jawab.
Bagi calon mahasiswa, kondisi ini seharusnya menjadi pertimbangan dalam memilih pendidikan tinggi. Pilihan program studi perlu dikaitkan dengan perkembangan teknologi, kebutuhan industri, serta kemampuan yang ingin dibangun dalam jangka panjang.
Kuliah di bidang teknologi bukan berarti mahasiswa harus menjadi ahli AI sejak hari pertama. Yang lebih penting adalah memiliki kemauan belajar, kemampuan berpikir sistematis, keberanian mencoba, dan kesiapan mengikuti perkembangan teknologi yang terus berubah.
Baca juga:AI Makin Cepat, Kuliah Informatika Tetap Jadi Kunci Karier Digital
Saya percaya masa depan bukan milik manusia yang menghindari AI, tetapi milik mereka yang memahami cara menggunakannya dengan bijak. AI boleh mengambil alih sebagian pekerjaan. Namun, kreativitas, empati, integritas, keberanian mengambil keputusan, dan kemampuan menciptakan makna tetap membutuhkan manusia.
Karena itu, jangan habiskan energi untuk takut digantikan AI. Gunakan energi tersebut untuk menjadi manusia yang semakin mampu memanfaatkan AI. Bagi generasi muda Indonesia, inilah saatnya membangun kompetensi digital, memahami data, mengenal AI, dan menciptakan solusi yang memberikan manfaat. Jangan menunggu perubahan datang ke depan pintu. Persiapkan diri sebelum perubahan menentukan siapa yang akan bertahan.
Informasi dan pendaftaran mahasiswa baru dapat dilakukan secara online melalui https://pmb.nusamandiri.ac.id dan informasi resmi kampus melalui https://nusamandiri.ac.id/.
Penulis: Andry Maulana, Kepala Universitas Nusa Mandiri Kampus Margonda








